Jajanan tradisional Jogja bukan hanya soal rasa. Ada kue yang dipilin seperti tambang, manisan ketan hitam berbungkus warna-warni, sampai minuman sarsaparila dalam botol bertutup kawat. Sepuluh makanan dan minuman dalam tulisan ini berasal dari penelusuran kuliner yang pernah dilakukan tim Gudegnet dengan inspirasi dari Museum Anak Kolong Tangga. Daftar ini cocok dibaca sebagai catatan kuliner lawas, bukan inventaris pasti jajanan yang telah punah atau daftar pedagang yang dipastikan masih beroperasi saat ini.
Penelusuran arsip tersebut menyebut 12 jenis makanan sebagai sasaran pencarian dan 10 yang berhasil ditemukan di beberapa pasar Yogyakarta pada masa peliputannya. Pasar Kotagede, Beringharjo, Demangan, serta Pathuk muncul sebagai tempat yang ditelusuri. Kondisi lapak, harga, jadwal penjual, dan ketersediaan sekarang bisa sangat berbeda. Karena itu, informasi praktis pada bagian akhir dibedakan dari kenangan serta laporan lama.
Mengapa jajanan tempo dulu layak dikenang?
Makanan yang mulai jarang terlihat di satu pasar belum tentu punah. Ada yang tetap dibuat di daerah asalnya, berpindah lokasi penjualan, hadir melalui pemesanan, atau muncul pada acara keluarga dan pasar tematik. Istilah “langka” dalam laporan lama menggambarkan kesulitan menemukan jajanan ketika penelusuran berlangsung, bukan bukti ilmiah bahwa produksinya telah berhenti di seluruh Indonesia.
Tradisi kuliner bergantung pada bahan, keterampilan pembuat, kesempatan menikmati, dan penerus usaha. Sebagian kue dipilih sebagai sajian hajatan, sebagian lagi melekat pada pengalaman jajan sekolah dan belanja pagi. Untuk melihat ragamnya dalam konteks pasar, pembaca dapat menelusuri ulasan pasar tradisional di Yogyakarta dan berburu jajanan lawasan di Pasar Kangen. Periksa jadwal acara atau keberadaan penjual secara terpisah sebelum berkunjung.
10 jajanan tradisional jadul dalam arsip kuliner Jogja
1. Unter-unter atau untir-untir: kue renyah berbentuk tambang
Unter-unter juga dikenal sebagai untir-untir, pluntir, atau kue tambang. Namanya mengacu pada dua bagian adonan yang dipilin membentuk lilitan. Kue berbahan dasar tepung terigu dan gula ini digoreng hingga bertekstur renyah; warna serta rasa dapat berbeda menurut resep keluarga atau pembuatnya. Bentuknya yang mudah dikenali membuatnya akrab sebagai isi stoples pada perayaan atau saat menerima tamu.
Dalam arsip Gudegnet, unter-unter termasuk jajanan yang relatif masih dapat ditemukan ketika tim mengunjungi pasar. Harga per kilogram yang disebut dalam laporan lama tidak dapat dijadikan patokan harga sekarang. Apabila membeli kue kering, periksa kemasan, aroma, tingkat kerenyahan, dan informasi masa simpannya agar mendapatkan produk dalam kondisi baik.
2. Madumongso: rasa manis-asam dari ketan hitam
Walaupun namanya memuat kata “madu”, madumongso umumnya tidak mengandalkan madu sebagai bahan utamanya. Ketan hitam yang telah melalui proses fermentasi diolah bersama bahan manis dan santan sampai kental. Hasilnya memiliki rasa manis dengan sedikit sensasi asam dan tekstur lengket yang berbeda dari kue kering.
Bungkusan kecil berwarna-warni menjadi salah satu ciri yang dikenang dalam penelusuran Gudegnet. Pada masa itu, Pasar Kotagede tercatat sebagai salah satu tempat mencari madumongso. Pembaca yang tertarik pada lingkungan kuliner kawasan tersebut bisa membaca profil Pasar Kotagede serta kisah jajanan legendaris di Pasar Kotagede. Kedua tautan itu merupakan bacaan kontekstual, bukan konfirmasi stok madumongso hari ini.
3. Jenang krasikan: manis, legit, dan terasa berbutir
Jenang krasikan termasuk kelompok pangan manis yang teksturnya berbeda dari jenang sangat halus. Dalam naskah lama, sensasi saat dikunyah disebut ngeres, yakni seperti terasa berpasir atau berbutir halus. Olahan ini biasa dikaitkan dengan beras ketan, santan, kelapa, dan gula; resep serta istilah setempat dapat berbeda-beda.
Gudegnet pernah mencatat pembuat jenang di kawasan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Catatan alamat dan kontak pada arsip lama tidak kami tampilkan sebagai rekomendasi aktif karena belum ada verifikasi terbaru. Pembaca yang tertarik pada variasi jenang lain dapat membandingkan dengan kisah jenang di Pasar Beringharjo dan jenang gempol sebagai jajanan pagi.
4. Kuping gajah: pola spiral yang sulit tertukar
Kuping gajah dikenali dari irisan tipis berwarna dua nada yang membentuk lingkaran atau spiral. Kudapan renyah ini dibuat dari adonan tepung dengan tambahan lemak, gula, dan bahan perasa; pengolahan adonan berwarna berbeda menghasilkan pola khas ketika dipotong dan digoreng.
Dalam kehidupan sehari-hari, kuping gajah akrab sebagai teman minum teh dan isi stoples saat hari raya. Bentuk, ukuran, ketebalan, serta komposisi bisa berbeda menurut produsennya. Arsip lama mencatat keberadaannya di sejumlah pasar Jogja, tetapi itu tidak berarti setiap penjual saat ini menyediakannya. Untuk memahami lanskap belanja makanan tradisional, baca ulasan Pasar Beringharjo dan jangan mengandalkan angka harga historis pada penelusuran sebelumnya.
5. Endog gludug: jajanan dengan nama khas Jawa
Endog berarti telur dalam bahasa Jawa, sedangkan gludug berhubungan dengan suara gemuruh. Nama tersebut menambah daya tarik camilan yang oleh beberapa penjual dalam laporan lama digambarkan menyerupai pia berukuran besar atau “telur gajah”. Variasi penyebutan lokal tidak selalu menunjukkan jenis produk yang sama persis.
Naskah asal mengaitkan makanan ini dengan wilayah Banyumas, Purwokerto, dan Purbalingga, sekaligus mencatat bahwa saat peliputan jajanan serupa ditemukan di pasar Yogyakarta. Proses pembuatan tradisional yang diceritakan melibatkan adonan tepung, isian, dan pemanggangan. Jenis isian bisa mengikuti kebiasaan pembuat; jangan menganggap varian maupun harga yang dikutip dalam arsip masih dijual oleh penjual yang sama.
6. Kue jahe berbentuk orang: jejak kisah dari luar Nusantara
Kue jahe berbentuk tokoh manusia mengingatkan pada gingerbread man dalam tradisi penganan dan cerita anak Eropa. Rempah jahe sudah lama digunakan dalam beragam makanan dunia, tetapi sejarah roti jahe memiliki jalur perkembangan yang rumit. Karena itu, klaim tentang penemu pertama, tahun masuk ke Indonesia, atau kaitannya dengan tokoh kerajaan tertentu tidak layak disampaikan sebagai kepastian tanpa sumber sejarah yang khusus membahasnya.
Gudegnet mencatat bahwa kue jahe yang ditemukan di Jogja ketika penelusuran mempunyai bentuk yang tidak selalu serapi figur manusia seperti pada ilustrasi populer. Di sinilah nilai arsip tersebut: memperlihatkan bagaimana sebuah bentuk makanan dapat ditafsirkan ulang oleh pembuat setempat. Kue jahe bukan satu-satunya jajanan yang dikenal dari bentuknya; di Kotagede ada kisah pembuat kue kembang waru, contoh tradisi kuliner lokal dengan bentuk khas yang berbeda.
7. Clorot: kue manis dalam gulungan janur
Clorot atau celorot dikenal sebagai jajanan dari Purworejo, Jawa Tengah, yang menggunakan pembungkus janur berbentuk kerucut memanjang. Bahan yang sering digunakan antara lain tepung beras, santan, dan gula merah, meskipun formulasi dapat berbeda. Cara menikmati kue ini menarik: bagian bawah pembungkus ditekan sehingga isi kue terdorong keluar dari ujung atas.
Dalam catatan lapangan lama, penulis menelusuri beberapa pasar sebelum akhirnya menemukan pedagang clorot di kawasan Pathuk. Hari dagang, jam pagi, dan harga per ikat yang tertulis dalam sumber awal adalah informasi pada masa penelusuran, bukan jadwal yang telah dikonfirmasi pada 2026. Untuk mengenal konteks pasar yang disebut, kunjungi artikel Pasar Pathuk.
Clorot juga muncul dalam liputan ExploreYogya tentang jajanan tradisional di Angkringan Pendopo nDalem. Hal itu menunjukkan adanya dokumentasi jajanan tersebut di tempat lain, bukan bukti bahwa clorot selalu tersedia setiap hari. Sumber kebudayaan berbasis komunitas juga mencatat pembungkus janur dan kaitannya dengan Purworejo; resep serta detail bahan perlu dipahami sebagai variasi, bukan aturan tunggal.
8. Wedang tahu: sari kedelai lembut dan kuah jahe
Wedang tahu mempunyai tekstur yang lebih dekat dengan sajian berkuah daripada minuman biasa. Komponen utamanya ialah sari kedelai yang diolah menjadi lembaran lembut, kemudian disajikan bersama kuah manis hangat beraroma jahe. Di daerah lain, makanan serupa dikenal dengan nama yang beragam, sehingga cara penyajian dan nama penjualnya dapat berbeda.
Arsip Gudegnet memuat percakapan dengan penjual wedang tahu di kawasan Pathuk serta menyebut lokasi lain pada masa itu. Hindari menjadikan arah jalan rinci dan harga yang dahulu dicantumkan sebagai petunjuk terkini. Untuk bacaan terpisah, ExploreYogya memiliki kisah Wedang Tahu Bu Sukardi serta artikel Wedang Tahu Kranggan. Status usaha dan jam jual perlu dicek kembali sebelum perjalanan.
9. Permen warna-warni isi biskuit: kenangan jajanan masa kecil
Sebelum banyak permen kemasan modern mendominasi rak toko, jajanan manis dalam warna mencolok dan bentuk sederhana mudah melekat dalam ingatan anak-anak. Salah satu yang direkam Gudegnet ialah permen berlapis warna-warni dengan remahan biskuit di dalamnya. Tekstur bagian tengahnya yang tidak seperti permen keras biasa membuat makanan ini memiliki pengalaman makan tersendiri.
Penelusuran lama menyebut pasar Beringharjo dan Pathuk sebagai contoh tempat yang pernah menyediakan permen tersebut. Nama produk generik, merek, bahan, dan ketersediaannya sekarang belum dikonfirmasi, sehingga lebih tepat memperlakukannya sebagai dokumentasi jajanan nostalgia daripada rekomendasi produk khusus. Bila membeli jajanan curah, perhatikan kebersihan dan informasi bahan untuk kebutuhan alergi.
10. Limun sarsaparila dalam botol berkawat
Minuman sarsaparila atau sarsaparilla kerap dikenang karena rasa khas dan kemasannya. Arsip Gudegnet bercerita tentang botol kaca lawas dengan tutup keramik yang dikunci kawat, lalu membandingkannya dengan kemasan soda yang lebih modern. Yang menjadi daya tarik utamanya bukan hanya rasa minuman, melainkan juga desain botol yang memunculkan nostalgia.
Sejumlah kisah populer menghubungkan minuman ini dengan sejarah perdagangan dan kebiasaan minum di Jawa. Namun, komposisi dan asal formula masing-masing merek tidak boleh disamakan tanpa bukti. Begitu pula harga botol koleksi dalam arsip tidak dapat diperlakukan sebagai harga jual sekarang. Jika memperoleh botol tua, jangan langsung meminum cairan yang kualitas, segel, atau usia simpannya tidak diketahui.
Di mana bisa mulai mencari jajanan tradisional di Jogja?
Tidak ada jaminan sepuluh jenis dalam tulisan ini masih dijual di lokasi yang sama. Sebagai titik awal eksplorasi, pilih kawasan pasar yang terdokumentasi memiliki ragam kuliner, lalu cek informasi penjual terbaru. Dinas Pariwisata DIY, misalnya, menjelaskan keberagaman jajanan di Pasar Beringharjo dan kuliner khas Kotagede. Artikel ExploreYogya tentang kuliner di Pasar Pathuk juga memberi konteks tentang ragam makanan kawasan tersebut.
Kotagede dan tradisi penganan
Untuk mengenal kekayaan rasa kawasan Kotagede, tidak harus terpaku pada sepuluh nama dalam arsip. Dinas Pariwisata DIY menyoroti antara lain roti kembang waru, legomoro, ukel banjar, kipo, dan yangko sebagai penganan khas. ExploreYogya memiliki artikel khusus tentang kipo dan legomoro yang dapat menjadi bahan bacaan sebelum mencoba mencarinya.
Beringharjo, Pathuk, Kranggan, dan pasar lainnya
Pasar Beringharjo dikenal menyediakan berbagai barang dan jajanan; Pathuk memiliki cerita panjang tentang ragam kuliner; sementara Pasar Kranggan juga didokumentasikan sebagai tempat berbelanja kebutuhan serta makanan tradisional. Artikel-artikel itu membantu memahami kawasan, tetapi tidak menggantikan konfirmasi lapak, hari jual, dan stok dari penjual yang bersangkutan.
Tips berburu jajanan tanpa bergantung pada arsip lama
- Gunakan nama makanan serta variasi ejaannya ketika bertanya kepada penjual, misalnya clorot/celorot dan unter-unter/untir-untir.
- Tanyakan kapan makanan dibuat, bahan yang digunakan, cara penyimpanan, dan apakah ada kandungan yang perlu dihindari karena alergi.
- Jangan datang hanya berdasarkan jam lapak, rute kendaraan, nomor telepon, atau harga dari dokumentasi lama.
- Untuk makanan basah atau fermentasi, pertimbangkan ketahanan produk selama perjalanan dan cuaca saat pembelian.
- Dukung pembuat lokal dengan membeli secara wajar serta meminta izin sebelum memotret orang, proses produksi, atau ruang dagang.
Catatan penting mengenai Museum Anak Kolong Tangga
Museum Anak Kolong Tangga disebut dalam sumber asal karena koleksi serta kajiannya tentang dunia anak pada masa lampau menginspirasi pencarian jajanan nostalgia. Lokasi lama museum di Taman Budaya Yogyakarta bukan alamat kunjungan masa kini. Setelah berpindah dari tempat lama pada 2017, pemberitaan pembukaan kembali pada Februari 2025 menyebut lokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Informasi program dan kunjungan selanjutnya sebaiknya diperiksa melalui situs resmi Museum Kolong Tangga sebelum datang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah semua jajanan dalam daftar ini benar-benar sudah punah?
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan demikian. Daftar ini bersumber pada pengalaman pencarian di pasar dalam laporan lama, bukan survei seluruh produsen Indonesia. Kata “langka” menggambarkan kesan dan kondisi penelusuran ketika itu.
Apakah harga dan jadwal pedagang lama masih berlaku?
Belum terverifikasi. Harga, alamat penjual, hari berdagang, dan stok harus diperiksa kembali. Karena itu, detail historis dalam laporan Gudegnet tidak ditampilkan sebagai penawaran aktif.
Jajanan apa yang menarik dikenalkan kepada anak?
Bentuk untir-untir, pola kuping gajah, dan bungkus clorot dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal keragaman makanan. Pilih sesuai usia, kondisi makanan, serta kebutuhan alergi; aktivitas mencicipi tidak memerlukan klaim kesehatan khusus.
Menjaga cerita di balik jajanan lawas
Warisan kuliner tidak hanya terjaga lewat daftar nama makanan. Resep keluarga, teknik mengolah, cara membungkus, dan kisah penjual sama pentingnya. Dokumentasi Gudegnet memberi gambaran tentang jajanan yang ditemukan ketika penelusuran berlangsung, sedangkan pembaca hari ini dapat menambah pemahaman lewat informasi resmi, kunjungan yang bertanggung jawab, serta cerita pembuat yang masih aktif.
Referensi dan bacaan lanjut
- Dinas Pariwisata DIY — Makanan Khas Kotagede yang Wajib Dicoba (2025).
- Dinas Pariwisata DIY — Wisata Belanja Pasar Beringharjo.
- Museum Kolong Tangga — Situs resmi pengelola.
- Harian Jogja — Pembukaan kembali Museum Kolong Tangga di Bantul, Februari 2025.
- Budaya Indonesia — Catatan komunitas tentang resep clorot (rujukan variasi resep, bukan verifikasi pedagang).
Comments