Samuel Indratma


Samuel Indratma

Pada tahun 1997, Samuel Indratma bersama dengan Arie Dyanto dan Bambang Toko Witjaksono, dua teman semasa kuliah di ISI, mendirikan Apotik Komik. Mereka juga didukung oleh Ade Tanesia, seorang teman lama yang sekarang menjadi istri Samuel, dan Mie Cornoedus. Apotik Komik merupakan sebuah komunitas yang berfokus pada seni di ruang publik dan bertujuan untuk membuat seni lebih dapat diakses oleh masyarakat.

Samuel Indratma adalah salah satu pendiri Apotik Komik dan juga penggagas terciptanya mural kota di Yogyakarta. Nama Apotik Komik mulai mencuat setelah mereka membuat mural di tembok penyangga Jembatan Layang Lempuyangan pada tahun 2002. Sejak itu, dinding-dinding di ruas jalanan Yogyakarta dihiasi oleh beragam gambar unik yang telah menjadi ciri khas kota ini.

Pemilihan nama “Apotik Komik” sendiri memiliki makna yang mendalam bagi Samuel. Menurutnya, Apotik adalah tempat yang dapat diakses oleh publik dan tempat pengambilan obat. Sedangkan Komik merupakan kata sifat yang berarti kacau, low-art, dan picisan. Dengan menggabungkan kedua kata tersebut, Apotik Komik ingin membawa seni low-art ke ruang-ruang yang tidak terpikirkan sebelumnya, seperti museum dan galeri, serta membawa seni high-art ke ruang publik untuk diapresiasi oleh masyarakat luas.

Proyek mural pertama Apotik Komik dilakukan di kampung Nitriprayan pada tahun 1997 dengan tema “Melayang”. Mereka mengundang 13 perupa untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Kemudian, pada tahun 1999, Apotik Komik kembali membuat proyek di ruang publik dengan tema “Sakit Berlanjut”. Mereka menempelkan cardboard bergambar di tembok-tembok kota dan menginformasikan bahwa setiap orang dapat menjadi kolektor karya tersebut. Tidak sampai seminggu, karya-karya tersebut sudah diambil oleh masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa seni tidak harus terbatas pada konsep high-art yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, tetapi dapat dinikmati oleh semua orang.

Selain proyek mural, Apotik Komik juga menciptakan konsep “Alternatif Space”. Pada tahun 2000, mereka membuat galeri di dinding luar sebuah rumah di kawasan Jeron Beteng. Galeri ini memiliki ukuran 12 x 4 meter dan bertahan selama 1 tahun. Pengalaman ini menginspirasi Apotik Komik untuk membuat galeri publik yang dapat didirikan di mana saja, menggunakan materi apa saja, dan dikelola sendiri. Mereka menemukan bahwa galeri publik tidak akan pernah bangkrut karena mereka dapat menentukan kapan dibuka dan kapan ditutup.

Gairah Apotik Komik dalam menggelar proyek seni di ruang publik semakin terlihat dengan adanya mural-mural besar di berbagai tempat di Yogyakarta. Beberapa lokasi yang telah dihiasi mural adalah jembatan layang Lempuyangan, jalan Prof. Herman Yohanes-Sagan, jalan Beskalan samping butik batik Margaria, dan jalan Perwakilan belakang Malioboro Mal. Apotik Komik juga melakukan serangkaian ijin ke pemerintah kota dan ijin ke personal sekitar lokasi pembuatan mural. Meskipun mendapatkan ijin dari pemerintah kota relatif mudah, mendapatkan ijin dari personal terkadang lebih sulit karena masuk ke dalam ruang privasi mereka.

Apotik Komik menyadari bahwa proyek mural kota tidak dapat dilakukan tanpa adanya dana. Mereka mengadopsi gaya pengumpulan dana yang sering dilakukan di luar negeri dengan mengadakan Fund Raising Night. Acara pengumpulan dana ini dilaksanakan di rumah Warwick Purser di jalan Tirtodipuran. Warwick, yang memiliki relasi dengan pembeli potensial karya seniman Apotik Komik, dan Mie Cornoedus yang berkebangsaan Belgia, membantu Apotik Komik dalam mengumpulkan dana. Dalam satu malam, mereka berhasil mendapatkan dana sebesar 12 juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan seperti cat, kuas rol, tangga, dan celemek agar baju tidak terkena cat.

Keberhasilan proyek-proyek seni yang dilakukan oleh Apotik Komik membawa ide baru tentang Yogyakarta sebagai kota mural. Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya, tetapi juga sebagai kota yang memiliki kehidupan seni yang kreatif dan inovatif. Apotik Komik juga menggunakan teknik pengembangan melalui workshop di kampung-kampung. Mereka berusaha memasyarakatkan pengelolaan ruang publik, memaksimalkan ruang publik sebagai media berekspresi, dan mengorganisasi ruang-ruang di kampung dengan penanda mural. Beberapa kampung yang telah bekerja sama dengan Apotik Komik adalah kampung Nitriprayan, gang Ontoseno, perempatan Munggur, dan Sitisewu samping Stasiun Tugu Yogyakarta.

Melalui karya-karya mereka, Apotik Komik telah berhasil mengubah wajah kota Yogyakarta. Dinding-dinding kota yang sebelumnya kosong dan monoton kini dihiasi oleh mural-mural yang unik dan menarik. Masyarakat Yogyakarta pun semakin memahami dan mengapresiasi seni. Apotik Komik telah membuktikan bahwa seni tidak harus terbatas pada museum dan galeri, tetapi dapat dihadirkan di ruang publik untuk dinikmati oleh semua orang. Dengan gaya bahasa formal, Samuel Indratma dan Apotik Komik telah membuat perubahan positif dalam dunia seni di Yogyakarta.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *