Pada Kamis, 7 Januari 2016, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo mengucapkan pidato perdananya setelah dinobatkan menjadi Paku Alam X. Ia menggantikan Paku Alam IX yang meninggal dunia pada 20 November 2015. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya berada dalam tegangan antara tradisi dan pembaharuan, karena proses berkreasi selalu membutuhkan inovasi, terutama dalam masa yang berubah dengan cepat.
Sebagai Paku Alam X, Prabu Suryodilogo berharap agar warga Yogyakarta dan keluarga Pakualaman dapat berperan serta dalam tugasnya. Ia berjanji akan bekerja sekuat tenaga untuk memenuhi harapan nusa bangsa, warga Yogyakarta, dan keluarga Pakualaman. Penobatan Prabu Suryodilogo sebagai Paku Alam X menjadi peristiwa penting mengingat pahlawan-pahlawan dari keluarga Pakualaman, seperti Ki Hadjar Dewantara dan Soerjopranoto.
Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal sebagai bapak pendidikan, merupakan salah satu pahlawan dari keluarga Pakualaman. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selain itu, Soerjopranoto juga merupakan pahlawan dari keluarga Pakualaman yang layak diingat.
Soerjopranoto, kakak dari Ki Hadjar Dewantara, memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ia lahir di Yogyakarta pada 11 Januari 1871 dan merupakan anak sulung dari Kanjeng Pangeran Haryo Soerjaningrat, putra tertua Sri Paku Alam III. Pada tahun 1900, Soerjopranoto mendirikan koperasi simpan pinjam bernama Mardi Kaskaya. Tahun berikutnya, ia juga membuat klub pertemuan Societeit Sutrohardjo sebagai tempat membaca surat kabar dan majalah.
Soerjopranoto juga aktif dalam organisasi pemuda Boedi Utomo. Namun, kemudian ia keluar dan mendirikan Arbeidsleger Adhi Dharma (Barisan Kerja A.D.) pada tahun 1915 di Yogyakarta. Melalui Barisan Kerja A.D., Soerjopranoto menyelenggarakan ceramah, diskusi tentang pergerakan, kursus pemberantasan buta huruf, dan mengajari kerajinan bagi kaum wanita. Selain itu, saat aktif di Sarekat Islam, ia memberikan pelatihan pemikiran politik. Bersama Agus Salim, Soerjopranoto juga memimpin Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB).
Setelah meninggal pada 15 Oktober 1959, Soerjopranoto dikebumikan di pemakaman keluarga “Rachmat Jati” di Kotagede, Yogyakarta. Ia dianugerahi Mahaputera tingkat II oleh Republik Indonesia dan diakui sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional RI melalui keputusan Presiden No. 310.
Peristiwa penobatan Paku Alam X ini menjadi momen bersejarah yang mengingatkan kita akan jasa-jasa pejuang rakyat dari keluarga Pakualaman. Ki Hadjar Dewantara dan Soerjopranoto adalah dua sosok penting yang memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, terutama dalam dunia pendidikan dan pergerakan sosial di Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara, selain dikenal sebagai bapak pendidikan, juga merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia memiliki visi yang jauh ke depan dalam bidang pendidikan, dan gagasannya tentang pendidikan nasional telah menginspirasi banyak orang.
Soerjopranoto, dengan kepeduliannya terhadap keadaan sosial masyarakat, telah berkontribusi dalam pergerakan sosial dan ekonomi di Indonesia. Ia berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai inisiatif, seperti pendirian koperasi dan pelatihan kerajinan.
Keduanya adalah contoh nyata dari bagaimana seorang pemimpin harus memiliki visi yang kuat dan kemampuan untuk berinovasi dalam menghadapi perubahan yang cepat. Sebagai Paku Alam X, Prabu Suryodilogo juga diharapkan memiliki sifat-sifat yang sama, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan mengambil langkah-langkah inovatif dalam memimpin.
Dalam pidatonya, Prabu Suryodilogo juga menekankan pentingnya peran serta warga Yogyakarta dan keluarga Pakualaman dalam tugasnya sebagai Paku Alam X. Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam memenuhi harapan nusa bangsa, warga Yogyakarta, dan keluarga Pakualaman.
Sebagai pemimpin, Prabu Suryodilogo memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan tugasnya. Ia harus dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab, serta mampu mengatasi tantangan dan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Sebagai Paku Alam X, Prabu Suryodilogo juga diharapkan dapat melanjutkan perjuangan dan kontribusi keluarga Pakualaman dalam memajukan Yogyakarta dan Indonesia secara keseluruhan. Ia harus dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan berinovasi, serta memiliki semangat untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.
Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Prabu Suryodilogo juga diharapkan dapat menjaga nilai-nilai tradisi dan budaya yang ada di Yogyakarta. Ia harus dapat menghormati dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak dulu, sambil tetap membuka diri terhadap perubahan dan pembaharuan yang diperlukan.
Sebagai Paku Alam X, Prabu Suryodilogo juga diharapkan dapat menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Ia harus dapat mendengarkan suara rakyat dan mengayomi semua golongan masyarakat. Ia juga harus dapat menjaga keutuhan dan persatuan bangsa, serta bekerja untuk kepentingan bersama.
Dalam pidatonya, Prabu Suryodilogo juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada warga Yogyakarta dan keluarga Pakualaman atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berjanji akan bekerja sekuat tenaga untuk memenuhi harapan mereka dan memberikan yang terbaik bagi Yogyakarta dan Indonesia.
Dengan penobatan Prabu Suryodilogo sebagai Paku Alam X, diharapkan Yogyakarta dapat terus maju dan berkembang sebagai kota yang sejahtera dan berbudaya. Semoga Prabu Suryodilogo dapat menjadi pemimpin yang mampu membawa Yogyakarta dan Indonesia ke arah yang lebih baik, dengan tetap menghormati dan melestarikan warisan budaya yang ada.