Heading 2: Arjo Suwito dan Evakuasi di Desa Kalitengah Lor
Heading 3: Keinginan Arjo Suwito untuk Tetap di Rumah
Arjo Suwito, seorang pria berusia 88 tahun, tinggal di Desa Kalitengah Lor, Cangkringan, Sleman. Desa ini terletak di dekat Gunung Merapi, sekitar 4 km dari letusan vulkanik. Arjo Suwito termasuk dalam kelompok rentan yang harus segera dievakuasi karena ancaman erupsi Gunung Merapi. Meski begitu, Arjo Suwito memiliki keinginan untuk tetap tinggal di rumahnya yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak lama.
Dalam perbincangan dengan Gudegnet, Arjo Suwito mengungkapkan bahwa ia lahir pada masa perang dan sudah berusia 88 tahun. Rumahnya berada di Desa Kalitengah Lor, yang merupakan salah satu desa yang harus dikosongkan dan tidak boleh ada kegiatan apapun menurut rekomendasi dari BPPTKG. Meskipun ia mengetahui pentingnya evakuasi untuk keselamatan dirinya, namun Arjo Suwito hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh anaknya, Ribet.
Dengan wajah sedih, Arjo Suwito menyadari bahwa ia harus meninggalkan rumahnya yang luas tersebut. Rumahnya terdiri dari beberapa bangunan di kiri dan kanan, dengan pemandangan ke selatan yang menghadap Gunung Merapi dan kandang hewan ternak di utara. Saat Gudegnet datang ke rumahnya, suasana sangat hening dan hanya terdengar suara hewan ternak sapi dan anjing yang bermain di sekitar rumah.
Akhirnya, saatnya untuk Arjo Suwito dievakuasi. Anaknya, Ribet, sudah siap membawanya ke barak pengungsian dengan membawa sebuah tas berukuran besar yang berisi kebutuhan Arjo Suwito di pengungsian. Dengan telaten, Ribet menuntun Arjo Suwito naik ke jok belakang sepeda motornya. Meskipun sedikit kesulitan, Ribet dengan sabar menunggu sang ayah sampai dapat naik ke atas motor.
Setelah merasa aman, Ribet pun menyalakan sepeda motornya dan membawa Arjo Suwito turun ke pengungsian. Sebelum berangkat, Ribet berpamitan kepada Arjo Suwito bahwa ia akan mengantarnya terlebih dahulu agar tidak terlalu larut malam. Arjo Suwito merasa kasihan kepada anaknya yang harus mengurusnya di pengungsian, tetapi ia juga merasa lega karena akan lebih aman di tempat yang direkomendasikan.
Setelah Arjo Suwito dan Ribet pergi, ada seorang wanita paruh baya yang datang ke rumah Arjo Suwito. Namun, saat wanita tersebut mengetahui bahwa tidak ada orang di rumah, ia pergi dengan sedih. Seiring dengan perjalanan matahari yang tenggelam di ufuk barat, suasana desa semakin sepi. Hanya pemuda-pemuda yang menjaga desa yang masih tinggal di sekitar Wanawisata Bukit Klangon.
Menurut data BPBD DIY, tercatat ada 133 orang yang masuk dalam kelompok rentan di Desa Kalitengah Lor dan harus segera dievakuasi. Kelompok rentan ini terdiri dari lansia, orang sakit, anak-anak/bayi, ibu hamil, dan difabel. Evakuasi ke barak pengungsian di Balai Desa Glagaharjo menjadi langkah yang penting untuk memastikan keselamatan mereka jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Heading 3: Dampak Psikologis Evakuasi pada Arjo Suwito
Evakuasi merupakan keputusan yang sulit bagi Arjo Suwito. Ia terikat dengan rumahnya yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak lama. Suasana rumah yang sepi dan pemandangan Gunung Merapi yang menghadap ke selatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Meninggalkan rumah tersebut membuatnya merasa sedih dan kehilangan.
Selain itu, Arjo Suwito juga merasa tergantung pada anaknya, Ribet. Ia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Ribet, termasuk keputusan untuk dievakuasi. Meskipun Arjo Suwito ingin tetap tinggal di rumahnya, ia menyadari bahwa keselamatan adalah yang terpenting. Evakuasi menjadi pilihan yang harus diambil demi keamanan dan keselamatan dirinya.
Evakuasi juga memiliki dampak psikologis pada Arjo Suwito. Rasanya sulit baginya untuk meninggalkan rumah yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini. Ia merasa kehilangan tempat yang familiar dan nyaman. Selain itu, Arjo Suwito juga merasa tidak berdaya karena harus mengandalkan anaknya dalam mengambil keputusan.
Namun, Arjo Suwito juga merasa lega dan aman setelah dievakuasi. Ia menyadari bahwa evakuasi adalah langkah yang penting untuk melindungi dirinya dari bahaya erupsi Gunung Merapi. Meskipun sulit meninggalkan rumahnya, Arjo Suwito menyadari bahwa keselamatan adalah yang terpenting.
Dalam situasi evakuasi seperti ini, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk memberikan dukungan psikologis kepada para pengungsi, termasuk Arjo Suwito. Dukungan psikologis dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan yang dirasakan oleh para pengungsi.