Garebeg Maulud
Garebeg Maulud adalah salah satu acara adat yang diselenggarakan oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara ini merupakan salah satu tradisi kerajaan yang melibatkan seluruh Kraton, aparat kerajaan, dan masyarakat umum. Garebeg Maulud memiliki makna keagamaan yang erat kaitannya dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW serta perayaan Idul Fitri dan Idhul Adha.
Garebeg Maulud juga memiliki makna politik yang menggambarkan gelar Sultan sebagai pemimpin muslim yang disebut Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah. Dalam setahun, terdapat tiga kali upacara garebeg yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang diselenggarakan di kompleks Kraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di Alun-alun Utara.
Garebeg Mulud sendiri diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal. Bulan Rabiulawal juga dikenal sebagai bulan Mulud dalam kalender Jawa-Islam. Oleh karena itu, upacara yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini disebut Garebeg Mulud. Tanggal 12 Rabiulawal memiliki arti penting dalam riwayat hidup Sang Nabi, karena dipercaya bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dan wafat pada tanggal dan bulan yang sama.
Tradisi memperingati hari lahir Sang Nabi ini mulai tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara di luar jazirah Arab. Namun, perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah hari raya resmi Islam, karena agama Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini pertama kali dilakukan oleh Kesultanan Demak dan kemudian dilestarikan oleh para raja Jawa, terutama Garebeg Mulud yang sangat populer.
Sebelum Garebeg Mulud diselenggarakan, terdapat beberapa kegiatan adat yang dilaksanakan dalam lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satunya adalah Upacara Gladi Resik yang merupakan persiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit. Selain itu, ada juga Upacara Numplak Wajik yang menjadi tanda permulaan pembuatan gunungan. Gunungan sendiri adalah tumpukan makanan dan oleh-oleh yang akan diberikan kepada masyarakat saat acara Garebeg Maulud.
Puncak dari seluruh upacara adat tersebut adalah Upacara Miyosipun Hajad Dalem. Pada upacara ini, Hajad Dalem yang berujud gunungan akan diiring keluar dari Kraton menuju Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton. Hal ini dilakukan sebagai simbol kebesaran dan kemegahan Sultan serta untuk memuliakan para leluhur. Upacara Miyosipun Hajad Dalem juga menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat karena gunungan yang dibawa oleh Hajad Dalem berisi berbagai macam kue berwarna-warni.
Selain Garebeg Mulud, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal. Acara ini hanya terjadi setiap satu windu atau delapan tahun sekali. Garebeg Mulud Dal dilaksanakan dengan lebih istimewa dan penuh kemegahan. Acara ini lebih banyak mengungkapkan unsur-unsur kebudayaan lama dan identitas raja serta kerajaan Jawa. Sultan hadir di Masjid Besar di tengah publik dengan memperlihatkan tradisi Kejawen yang penuh dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa Kuno.
Dalam Garebeg Mulud Dal, Sultan juga melakukan kegiatan religius Islam yaitu menendang tumpukan batu-bata yang ditempatkan di pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan Masjid Besar. Hal ini merupakan tindakan simbolik yang melambangkan perpindahan agama rakyat pada zaman Kasultanan Demak dari agama Hindu-Budha ke agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahun sekali.
Salah satu bagian yang paling menarik dari Garebeg Maulud adalah Gunungan Mulud Dal. Gunungan ini disebut juga sebagai Gunungan Kutug atau Gunungan Bromo. Di bagian puncak gunungan, terdapat lubang yang digunakan untuk menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan. Hal ini membuat asap tebal terus menerus mengepul jika ditiup oleh angin.
Pada bagian bawah gunungan, terdapat kain banung tulak yang menjadi alasannya. Gunungan ini diletakkan tegak di atas sebuah nampan raksasa yang berkerangka kayu dengan ukuran 2 x 1,5 meter. Pajangan gunungan ini berupa beraneka macam kue berwarna-warni yang hampir sama dengan gunungan lainnya, seperti Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon.
Garebeg Maulud adalah acara adat yang sarat dengan makna keagamaan dan politik. Acara ini menjadi momen penting bagi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan masyarakat Yogyakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melalui Garebeg Maulud, tradisi dan kebudayaan Jawa tetap dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.