Ahmad Jaelani Suparman
Biodata
Ahmad Jaelani Suparman, yang akrab disapa Pak Ndemung, adalah seorang dalang kelahiran Kulon Progo pada tanggal 15 Oktober 1948. Selain sebagai seorang dalang, Pak Ndemung juga memiliki keahlian sebagai pelatih karawitan Puji Rahayu. Ia juga menjabat sebagai ketua paguyuban Sekar Pramudya dan tergabung dalam Jatilan Trimudotomo, sebuah gabungan dari kelompok jatilan di wilayah Bantul, Sleman, dan Yogyakarta. Selain itu, ia juga mahir dalam membuat wayang golek dan wayang kulit.
Pak Ndemung memiliki alasan dan motivasi yang kuat dalam menekuni bidang seni. Semuanya bermula dari rasa senang dan cinta yang mendalam terhadap seni wayang. Pada tahun 1996, ia diangkat menjadi abdi dalem pedalangan di Kraton Yogyakarta. Sejak itu, ia telah menjalani perjalanan panjang dalam dunia seni wayang yang penuh dedikasi dan kecintaan. Selama kiprahnya di dunia seni, Pak Ndemung tidak pernah berubah pikiran atau mengalami perubahan minat. Motivasi utamanya adalah untuk tetap melestarikan budaya dan warisan seni tradisional Indonesia.
Meskipun hanya menempuh pendidikan formal hingga kelas enam Sekolah Rakyat (SR), itu tidak menghalangi Pak Ndemung untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keahliannya dalam seni wayang. Ia belajar secara otodidak dengan membaca buku-buku dan mencari sumber pengetahuan lainnya. Salah satu tokoh yang menjadi idola dan sumber inspirasinya adalah Ki Narto Sabdo, seorang dalang terkenal di Indonesia.
Prestasi
Pak Ndemung telah meraih berbagai prestasi dalam karirnya sebagai dalang dan seniman. Beberapa di antaranya adalah:
1. Juara Pertama Lomba Karawitan dan Kethoprak dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1986 bersama grup Sentolo. Prestasi ini membuktikan keahliannya dalam bidang musik tradisional Jawa.
2. Juara Pertama Lomba Wayang Kulit dan Jatilan pada tahun 1997. Prestasi ini menjadikan Pak Ndemung semakin dikenal di kalangan seniman dan pecinta seni wayang.
3. Pada tahun 2000, ia berkesempatan untuk mengikuti Festival Kesenian Dunia di Israel. Partisipasinya dalam festival ini merupakan kehormatan besar bagi dirinya dan juga merupakan langkah penting dalam memperkenalkan seni wayang Indonesia ke dunia internasional.
4. Pada tahun 2001, Pak Ndemung diundang untuk mengisi pementasan wayang golek dalam rangka ruwatan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Keahlian dan kualitas seninya semakin terlihat dan diakui oleh masyarakat seni di Indonesia.
5. Selain itu, ia juga pernah mengikuti lomba wayang golek yang diadakan oleh YKTI dalam rangka Festival Kesenian Daerah. Partisipasinya dalam festival ini membuktikan bahwa ia merupakan salah satu dalang terbaik di Indonesia.
Pada tahun 2003, Ahmad Jaelani Suparman menerima penghargaan sebagai “Penjaga Seni Tradisi Rakyat” yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Kulon Progo. Penghargaan ini merupakan apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam melestarikan dan mengembangkan seni wayang di daerahnya.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Ahmad Jaelani Suparman, atau yang lebih dikenal sebagai Pak Ndemung, merupakan seorang dalang yang memiliki keahlian dan dedikasi yang tinggi dalam seni wayang. Meskipun hanya menempuh pendidikan formal hingga kelas enam Sekolah Rakyat, hal tersebut tidak menghalangi Pak Ndemung untuk mengembangkan pengetahuan dan keahliannya dalam seni wayang. Ia belajar secara otodidak dan mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh terkenal dalam dunia seni wayang.
Pak Ndemung telah meraih berbagai prestasi dalam karirnya sebagai dalang dan seniman. Prestasi-prestasi tersebut membuktikan keahliannya dan pengakuan yang diterima dari dunia seni. Ia juga telah berpartisipasi dalam berbagai festival seni baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga telah berhasil memperkenalkan seni wayang Indonesia ke dunia internasional.
Selain menjadi seorang dalang, Pak Ndemung juga aktif sebagai pelatih karawitan Puji Rahayu dan menjabat sebagai ketua paguyuban Sekar Pramudya. Ia juga tergabung dalam Jatilan Trimudotomo, sebuah gabungan dari kelompok jatilan di wilayah Bantul, Sleman, dan Yogyakarta. Keahlian lain yang dimiliki oleh Pak Ndemung adalah membuat wayang golek dan wayang kulit.
Dalam perjalanannya sebagai dalang, Pak Ndemung memiliki motivasi yang kuat untuk melestarikan budaya dan warisan seni tradisional Indonesia. Ia telah membuktikan bahwa meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, keahlian dan dedikasinya dalam seni wayang tidak pernah berubah dan tetap konsisten. Penghargaan yang diterimanya sebagai “Penjaga Seni Tradisi Rakyat” merupakan bukti pengakuan atas kontribusinya dalam melestarikan dan mengembangkan seni wayang di daerahnya.
Melalui prestasi-prestasinya, Pak Ndemung telah menjadi sosok yang menginspirasi bagi generasi muda untuk tetap mencintai dan melestarikan seni tradisional Indonesia. Dengan keahliannya sebagai seorang dalang, ia telah berhasil memperkenalkan seni wayang ke berbagai penjuru dunia. Semoga perjalanan seni Pak Ndemung terus berlanjut dan semakin banyak orang yang terinspirasi oleh dedikasinya dalam melestarikan seni budaya Indonesia.