Wuwungan dan Keindahan Atap Rumah Jawa



Ada sebuah gugon tuhon atau legenda Jawa yang tersebar di daerah Pati dan sekitarnya. Legenda ini mengatakan bahwa jika seseorang tidak ingin rumahnya terkena kilatan petir, maka mereka harus memasang wuwungan atau hiasan rumah yang diletakkan pada genteng teratas atap rumah yang menempel pada penuwun. Penuwun sendiri adalah balok kayu di bagian atas rumah. Tujuan dari memasang wuwungan ini adalah untuk menangkal petir. Karena legenda ini, sampai sekarang di daerah Pati yang memiliki frekuensi petir yang tinggi, masih banyak rumah penduduk yang menggunakan wuwungan sebagai hiasan. Hiasan ini terbuat dari pecahan piring porselin yang indah.

Namun, sayangnya, keindahan wuwungan yang serasi dengan bentuk atap rumah tradisional Jawa tidak banyak lagi ditemui di daerah lain, terutama di perkotaan. Di perkotaan, bentuk rumah sudah menggunakan gaya arsitektur Eropa atau mediteranian. Begitu juga dengan bentuk-bentuk wuwungan berbahan terakota atau seng yang dipamerkan di Bentara Budaya, Jl Suroto 2 Kotabaru dalam “Pameran Seni Awang-awang”. Pameran ini menampilkan wuwungan dengan berbagai bentuk seperti garuda, naga, gunungan wayang, dan lain-lain. Koleksi ini pastinya jarang ditemui di kota ini.

Padahal, di kabupaten lain seperti Kulon Progo, masih banyak ditemui wuwungan khas daerah tersebut. Wuwungan di Kulon Progo memiliki bentuk yang pipih, tidak seperti wuwungan di daerah lain yang berbentuk tiga dimensi. Wuwungan di Kulon Progo juga memiliki hiasan berbentuk naga, burung merpati, garuda Jawa, ayam, serta gunungan wayang. Di Tepus, Gunung Kidul, hampir setiap rumah memasang wuwungan berhias ukiran seng. Salah satu pembuat wuwungan di sana adalah Wajiono, Kepala Dukuh II di desa tersebut. Begitu juga di daerah Pajangan, Bantul, wuwungan berukuran cukup berat sebesar 30 x 30 sentimeter masih bisa ditemui. Meskipun sekarang sudah jarang, dulunya wuwungan berbentuk naga yang distilir sedemikian rupa menjadi primadona para pemburu barang antik.

Bentuk wuwungan di wilayah pedesaan Jogja juga tidak jauh berbeda. Di daerah Prembun, Kebumen, masih bisa ditemui gunungan yang diapit badong dan dipasang di tengah-tengah atap rumah joglo atau kampung. Menurut keterangan kurator Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu, pembuat badong di Kebumen adalah seorang mantan veteran perang RI yang bernama Darsono. Darsono membuat badong tersebut sekitar tahun 1950-an saat ia masih muda. Namun, sayangnya, ia menghentikan kegiatan pembuatan badong dua tahun yang lalu karena bertambahnya usianya.

Sementara itu, pembuat wuwungan yang masih aktif adalah Tukimin, seorang mantan sopir truk tangki minyak di daerah Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri. Manyaran sendiri merupakan sentra pembuat wayang kulit untuk wilayah Jawa Tengah. Oleh karena itu, bentuk wuwungan di Manyaran banyak yang disesuaikan dengan figur wayang seperti Semar, Kresna, Gatotkaca, dan Gunungan. Masyarakat sekitar seringkali memesan wuwungan kepada Tukimin untuk mengganti wuwungan yang rusak atau belum dimiliki. Pemasangan wuwungan sendiri harus dilakukan dengan beberapa syarat, seperti memberikan sesajen dan sambang tuwuh.

Dalam hal ini, keberadaan wuwungan tidak hanya sebagai hiasan rumah yang indah, tetapi juga memiliki makna dan fungsi tersendiri. Wuwungan dipercaya dapat melindungi rumah dari kilatan petir yang berbahaya. Legenda ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, terutama di daerah Pati dan sekitarnya. Meskipun di perkotaan keberadaan wuwungan semakin jarang ditemui, namun di daerah pedesaan dan beberapa kabupaten lainnya, wuwungan masih menjadi bagian penting dalam arsitektur rumah tradisional Jawa. Keberadaan wuwungan ini juga menjadi salah satu ciri khas dan kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *