Wisnu Giyono adalah seorang pemain kethoprak yang berasal dari kesenian wayang orang. Pada tahun 1967, ia memutuskan untuk terjun ke dunia kethoprak karena ia merasa perlu untuk mengembangkan kemampuan bahasa Jawa-nya. Sejak itu, ia bergabung dengan berbagai grup kethoprak seperti Pantai Selatan, Cahaya Budaya, dan akhirnya masuk ke Samudra Budhaya, di mana ia masih aktif hingga saat ini.
Wisnu Giyono lahir di Bantul pada tanggal 18 Juli 1944. Selain sebagai seorang pemain kethoprak, ia juga sering menulis dan menyutradarai berbagai lakon kethoprak. Namun, karena jumlahnya yang begitu banyak, ia tidak lagi ingat judul-judul pementasan yang pernah ia garap. Karya-karyanya sebagai penulis dan sutradara kethoprak tentunya memberikan kontribusi yang berharga dalam pengembangan seni kethoprak di Indonesia.
Selain aktif di dunia kethoprak, Wisnu Giyono juga memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Ia merupakan dosen luar biasa di Universitas Negeri Yogyakarta, di mana ia berbagi pengetahuannya tentang seni kethoprak kepada para mahasiswa. Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Akademi Pariwisata Buana Wisata Yogyakarta. Dalam peran ini, ia berperan aktif dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam bidang seni kethoprak.
Sebagai seorang seniman dan pemerhati seni, Wisnu Giyono sering melakukan penelitian terhadap dinamika dan perkembangan seni kethoprak, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penelitiannya ini bertujuan untuk memahami lebih dalam mengenai perkembangan seni kethoprak di DIY serta menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan dan mengembangkan seni tersebut. Dalam penelitiannya, Wisnu Giyono berusaha melibatkan para pemain kethoprak, para pengamat seni, dan masyarakat umum sebagai respondennya.
Dalam penelitiannya, Wisnu Giyono menemukan bahwa seni kethoprak masih memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat DIY. Seni ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial kepada masyarakat. Melalui cerita-cerita yang diangkat dalam lakon kethoprak, para pemain kethoprak dapat menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan mengajarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga tradisi dan menghormati orang lain.
Selain itu, penelitian Wisnu Giyono juga menunjukkan bahwa seni kethoprak memiliki potensi untuk menjadi salah satu daya tarik pariwisata DIY. Dengan mengenalkan seni kethoprak kepada wisatawan, DIY dapat menarik minat wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dalam tentang budaya dan tradisi masyarakat DIY. Hal ini tentunya akan berdampak positif terhadap pengembangan pariwisata di DIY serta peningkatan pendapatan masyarakat setempat.
Namun, dalam penelitiannya, Wisnu Giyono juga menemukan beberapa tantangan yang dihadapi oleh seni kethoprak. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia seni kethoprak. Kondisi ini disebabkan oleh perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat, sehingga generasi muda lebih tertarik untuk menghabiskan waktu mereka di dunia digital daripada di dunia seni tradisional seperti kethoprak. Hal ini menyebabkan semakin sedikitnya pemain kethoprak yang muda dan berpotensi untuk mengembangkan seni kethoprak di masa depan.
Untuk mengatasi tantangan ini, Wisnu Giyono mengajak semua pihak, terutama para pemangku kepentingan di DIY, untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan seni kethoprak. Salah satu langkah yang diusulkan oleh Wisnu Giyono adalah dengan mengadakan lebih banyak pertunjukan kethoprak di berbagai acara dan festival di DIY. Dengan demikian, seni kethoprak dapat lebih dikenal oleh masyarakat DIY, terutama generasi muda, dan diharapkan dapat menarik minat mereka untuk terlibat dalam seni kethoprak.
Selain itu, Wisnu Giyono juga menyarankan adanya kerjasama antara para pemain kethoprak dengan lembaga pendidikan, terutama sekolah-sekolah di DIY. Dengan mengadakan kerjasama ini, para pemain kethoprak dapat memberikan pelatihan dan workshop kepada generasi muda tentang seni kethoprak. Dalam pelatihan ini, generasi muda dapat belajar tentang seni kethoprak secara langsung dan diharapkan dapat tertarik untuk terjun ke dunia seni kethoprak.
Tidak hanya itu, Wisnu Giyono juga mengusulkan adanya program penghargaan untuk para pemain kethoprak yang telah memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan seni kethoprak di DIY. Dengan memberikan penghargaan ini, diharapkan para pemain kethoprak dapat merasa dihargai atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan seni kethoprak. Hal ini juga dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terjun ke dunia seni kethoprak.
Sebagai seorang seniman dan pemerhati seni, Wisnu Giyono berharap agar seni kethoprak terus berkembang dan tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat DIY. Melalui penelitiannya, ia berusaha untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang seni kethoprak kepada masyarakat dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan seni kethoprak. Dengan demikian, seni kethoprak dapat terus hidup dan menjadi warisan budaya yang berharga bagi masyarakat DIY dan Indonesia secara keseluruhan.