Upacara Labuhan Parangkusumo, Gunung Merapi Yogya, dan Gunung Lawu Jogja adalah upacara tradisional yang dilaksanakan oleh Kraton Yogyakarta setiap tahunnya. Upacara ini memiliki tujuan untuk memberikan persembahan kepada roh halus yang berkuasa di tempat-tempat tersebut, sebagai bentuk keselamatan bagi Sri Sultan, kraton, dan rakyat Yogyakarta.
Upacara Labuhan dilakukan di tiga tempat yang sudah ditentukan, yaitu Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Namun, ada satu lokasi tambahan di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Keempat tempat ini dipilih karena memiliki nilai historis yang penting bagi Kerajaan Mataram.
Dalam upacara Labuhan, persiapan dilakukan tiga hari sebelum pelaksanaan. Rangkaian upacara terdiri dari empat tahap, yaitu pembuatan jladren (adonan) kue apam, pembuatan apam, upacara peringatan ulang tahun Sri Sultan HB di Kraton Yogyakarta, dan upacara Labuhan itu sendiri.
Para puteri kraton bertugas membuat adonan kue apam, yang terdiri dari apam biasa dan apam Mustoko. Apam biasa dibuat sebanyak 240 buah dan ditata di atas wadah bernama Nyiru, sedangkan apam Mustoko dibuat sebanyak 40 buah. Apam Mustoko memiliki ukuran yang besar, sekitar 20 cm dengan tebal sekitar 5 cm. Proses pembuatan apam dilakukan oleh para puteri kraton yang sudah tua dan masih perawan, mengenakan pakaian adat Jawa.
Selain pembuatan apam, Widya Budaya, bagian dari kraton yang bertanggung jawab atas upacara ini, juga melakukan persiapan lainnya. Mereka mengumpulkan benda-benda Labuhan dan bunga sesaji dari pusaka kraton yang disucikan setiap Jumat dan Selasa Kliwon. Bunga-bunga yang sudah layu dikumpulkan dan disimpan sampai hari Labuhan tiba.
Benda-benda Labuhan dan bunga sesaji tersebut kemudian diletakkan di atas “ancak”, wadah yang terbuat dari bambu dan ditutup dengan mori. Setiap ancak diberi nama sesuai dengan isinya. Selain itu, ada juga emas, perak, dan tembaga yang dipotong menjadi bagian kecil-kecil dan dibagikan kepada para pangeran dan bupati.
Pada tanggal 25 Bakdo Mulud, upacara Labuhan dimulai di Kraton Yogyakarta. Seluruh kerabat kraton sudah siap di Tratag Bangsal Kencana bagian timur. Setelah prosesi pembacaan doa, apam, benda-benda Labuhan, dan tumpeng dibawa ke Bangsal Kencana. Kemudian, para abdi dalem membawa benda-benda tersebut ke Bangsal Sri Panganti, di mana benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam kotak kayu yang tertutup.
Setelah diinapkan semalam, benda-benda Labuhan dibawa ke lokasi masing-masing. Di Pantai Parangkusumo, upacara Labuhan dilakukan dengan melemparkan sesaji ke laut. Saat hari pelaksanaan upacara, masyarakat datang sambil membawa bunga tabur. Setelah sesaji diletakkan di sebuah wadah berbentuk rumah dari bambu yang disebut Jati Ngarang, para pegawai Widya Budaya membawanya ke pantai Parangkusumo.
Di Gunung Merapi, benda-benda Labuhan diletakkan di peti dan dibawa ke lokasi labuhan di kendhit, lereng tengah Gunung Merapi di sisi selatan. Setelah selesai upacara penanaman, benda-benda Labuhan dibawa ke pantai Parangkusumo untuk dilabuh. Juru kunci mengucapkan kalimat pengantar labuhan, kemudian benda-benda tersebut dilabuh ke tengah laut dan pengunjung berebut untuk mendapatkan benda-benda tersebut.
Setelah selesai upacara di pantai Parangkusumo, benda-benda Labuhan kemudian dibawa ke Gunung Merapi. Para abdi dalem menyerahkan benda-benda Labuhan kepada bupati Sleman dan stafnya, lalu diteruskan kepada juru kunci gunung Merapi di Cangkringan. Benda-benda Labuhan diletakkan di dalam peti dan kemudian diangkut ke Arga Dalem, tempat labuhan di Gunung Merapi.
Labuhan di Gunung Lawu dilakukan setelah selesai di pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi. Para abdi dalem menyerahkan benda-benda Labuhan kepada juru kunci Gunung Lawu di Tawangmangu. Juru kunci lalu membawanya ke Arga Dalem di Gunung Lawu dengan berjalan kaki. Setelah sampai di Arga Dalem, benda-benda Labuhan diletakkan di atas meja dari batu yang disebut “Sela Gilang”. Setelah melakukan upacara penanaman, benda-benda Labuhan tersebut dilabuh.
Selain tempat-tempat yang telah ditentukan, sesaji juga diletakkan di dalam kraton untuk Kyai Ageng Pleret, Kyai Jegod, dan Kyai Joyudo. Sesaji kepada Kyai Ageng Pleret berupa kambing, ambeng berisi nasi, sisir pisang dan sirih, serta makanan dan buah-buahan. Untuk Kyai Jegod, sesaji berupa botol jenewer dan botol legen. Sedangkan untuk Kyai Joyudo, sesaji berupa candu, roti, rokok, kopi, gula kelapa, juadah, mata uang yang diputihkan dengan kapur, dan ayam hidup.
Upacara Labuhan Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu adalah warisan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Yogyakarta. Upacara ini bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga merupakan wujud penghormatan dan kepercayaan kepada roh halus yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Melalui upacara ini, diharapkan keselamatan dan keberkahan dapat terwujud bagi Sri Sultan, kraton, dan rakyat Yogyakarta.