Upacara Labuhan Parangkusumo dan Gunung Merapi Yogya

Upacara Labuhan Parangkusumo dan Gunung Merapi Yogya

Upacara Labuhan Parangkusumo dan Gunung Merapi merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta setiap tahunnya. Upacara ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan persembahan kepada roh halus yang berkuasa di tempat-tempat tertentu, seperti pantai Parangkusumo, gunung Merapi, dan gunung Lawu. Selain itu, upacara ini juga dilakukan untuk memohon keselamatan bagi Sri Sultan, kraton, serta rakyat Yogyakarta.

Secara historis, upacara Labuhan ini pertama kali dilakukan oleh kerabat Keraton Yogyakarta setelah Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Sejak itu, upacara ini dilakukan setiap tahun untuk memperingati upacara penobatan seorang Sultan. Tempat dilaksanakannya upacara Labuhan ini hanya ada tiga, yaitu pantai Parangkusumo, gunung Merapi, dan gunung Lawu. Namun, saat perayaan sewindu, ditambah satu lokasi lagi di desa Dlepih, kecamatan Tirtomoyo, kabupaten Wonogiri.

Upacara Labuhan ini melibatkan persiapan yang dilakukan tiga hari sebelum pelaksanaan. Rangkaian upacara terdiri dari empat tahap, yaitu pembuatan adonan kue apam, pembuatan apam, upacara peringatan ulang tahun Sri Sultan HB di kraton Yogyakarta, serta upacara Labuhan itu sendiri. Para puteri keraton bertugas membuat adonan kue apam yang terdiri dari dua jenis, yaitu apam biasa dan apam Mustoko. Apam tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang khas, dan hanya bisa dibuat oleh puteri keraton yang sudah tua dan masih perawan.

Selain persiapan pembuatan apam, Widya Budaya, bagian dari keraton yang bertanggung jawab terhadap upacara ini, juga melakukan persiapan lainnya. Mereka mengumpulkan benda-benda sesaji dari pusaka keraton yang “disucikan” setiap Jumat dan Selasa Kliwon dengan cara dikuntugi, yaitu diberi menyan. Bunga-bunga sesaji yang sudah layu dikumpulkan dan disimpan di tempat tertentu hingga hari Labuhan tiba.

Pada saat pelaksanaan upacara, benda-benda Labuhan tersebut dibawa ke lokasi masing-masing, yaitu pantai Parangkusumo, gunung Merapi, dan gunung Lawu. Di pantai Parangkusumo, upacara Labuhan dilakukan dengan melemparkan sesaji ke laut. Para peserta upacara juga membawa bunga tabur yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang sakit dan mengabulkan cita-cita. Juru kunci Parangkusumo memimpin upacara ini dengan memutarkan bunga-bunga sebanyak tiga kali sebelum melemparkannya ke laut.

Setelah selesai upacara di pantai Parangkusumo, benda-benda Labuhan dibawa ke gunung Merapi. Upacara ini dilakukan dengan menyerahkan benda-benda Labuhan kepada bupati Sleman dan stafnya, lalu diteruskan kepada juru kunci gunung Merapi di Cangkringan. Di gunung Merapi, benda-benda Labuhan diletakkan di bagian kendhit, lereng tengah gunung Merapi di sisi selatan. Para peserta upacara menempatkan benda-benda Labuhan di dalam peti dan melakukan doa-doa pengantar sebelum melabuhkannya.

Selanjutnya, upacara Labuhan dilakukan di gunung Lawu. Para peserta upacara membawa benda-benda Labuhan ke kelurahan Tawangmangu, kabupaten Karanganyar. Dari sana, mereka berjalan kaki menuju Arga Dalem di gunung Lawu. Di Arga Dalem, benda-benda Labuhan diletakkan di atas meja dari batu yang disebut “Sela Gilang”. Setelah itu, juru kunci melakukan doa-doa pengantar dalam bahasa Jawa.

Selain upacara Labuhan di pantai Parangkusumo, gunung Merapi, dan gunung Lawu, kerabat keraton juga melakukan sesaji di dalam kraton yang ditujukan kepada kyai Ageng Pleret, kyai Jegod, dan kyai Joyudo. Mereka meletakkan sesaji berupa makanan, minuman, dan benda-benda lainnya di soko guru (tiang utama) di bangsal Kencono dan Proboyekso.

Upacara Labuhan Parangkusumo dan Gunung Merapi merupakan tradisi yang memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Yogyakarta. Melalui upacara ini, mereka berharap untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan bagi Sri Sultan, kraton, serta rakyat Yogyakarta. Selain itu, upacara ini juga menjadi wujud penghormatan dan penghargaan terhadap roh halus yang dipercaya berkuasa di tempat-tempat tersebut. Dengan menjaga dan melaksanakan tradisi ini, masyarakat Yogyakarta berharap dapat mempertahankan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakatnya.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *