Upacara Adat Saparan Kalibuka
Sejarah Upacara Saparan Kalibuka
Upacara Adat Saparan Kalibuka merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan di Desa Kalireja, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Upacara ini diilhami dari kisah perjalanan Sunan Kalijaga saat melakukan syiar agama Islam ke arah Selatan dan berhenti di sebuah tempat yang datar dan rata untuk berbuka puasa. Tempat ini kemudian dinamakan “desa Walibuka” oleh Sunan Kalijaga.
Saat berbuka puasa, Sunan Kalijaga dan rombongannya makan nasi putih dengan lauk sate yang lengkap dengan bumbunya. Setelah mereka berbuka puasa, nasi yang tersisa berceceran di tempat tersebut. Ternyata, nasi yang tercecer tersebut tumbuh menjadi pohon besar dan tusuk sate menjadi rumpun bambu yang ada di daerah Sebatur. Bumbu sate yang tercecer juga tumbuh menjadi pohon asem yang masih hidup hingga saat ini dan dirawat dengan baik.
Tempat berbuka puasa tersebut sekarang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Kalibuka. Upacara ini dilaksanakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pada bulan Sapar. Biasanya, upacara ini diadakan bersamaan dengan tradisi bersih desa atau merti dusun yang diawali dengan membersihkan tempat upacara dan jalan menuju Sebatur.
Detail Rangkaian Upacara Saparan Kalibuka
Rangkaian upacara Saparan Kalibuka meliputi berbagai sesaji dan doa yang memiliki makna dan tujuan tertentu. Beberapa sesaji yang menjadi bagian dari upacara ini antara lain:
1. Kupat Lepet: Kupat lepet memiliki makna agar segala kesalahan yang telah dilakukan dapat dimaafkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
2. Sega Golong: Sega golong memiliki makna agar jiwa semua anggota keluarga satu brayat selalu kukuh dan selamat.
3. Lauk Pauk: Lauk pauk memiliki makna sebagai pengharapan agar apa yang dihajadkan dapat terkabul.
4. Pisang Raja: Pisang raja dipersembahkan sebagai persembahan kepada Tuhan.
5. Nasi Wuduk: Nasi wuduk dipersembahkan agar para penyelenggara dan peserta upacara selamat, yang ditujukan untuk Nabi Muhammad SAW.
6. Ingkung Ayam: Ingkung ayam digunakan untuk mensucikan seluruh warga masyarakat dari segala kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
7. Kambing (Wedhus Kendhit): Kambing merupakan sesaji pokok dalam Saparan Kalibuka dan memiliki makna untuk memberi gambaran seperti apa yang pernah dilakukan oleh para wali saat berbuka puasa dengan lauk sate kambing.
Setelah prosesi doa, dilakukan kenduri yang diikuti oleh penyelenggara dan peserta upacara. Selanjutnya, kepala kambing yang telah didoakan oleh Rois ditanam. Doa-doa diucapkan oleh Rois untuk memohon keselamatan bagi seluruh penduduk Dusun Kalibuka.
Tugas juru kunci dalam upacara ini adalah membakar kemenyan dan memohon perlindungan dari dhanyang Kalibuka yang ngreksa pundhen Sebatur, seperti Kyai Kentol Bausetika dan Nyai Kentol Ngamben. Setelah semua prosesi selesai, kaki kambing ditanam di empat penjuru Sebatur, sedangkan daging kambing yang telah dimasak oleh kaum laki-laki dimakan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara untuk mengakhiri Saparan Kalibuka.
Lokasi dan Kontak
Upacara Adat Saparan Kalibuka dilaksanakan di Petilasan Sunan Kalijaga, Sebatur, Kalireja, Kokap, Kulon Progo. Jika Anda ingin mendapatkan informasi lebih lanjut atau ingin menghubungi pihak penyelenggara, dapat menghubungi nomor telepon +628121568666.
Ulasan
Upacara Adat Saparan Kalibuka merupakan salah satu upacara adat yang unik dan menarik untuk diketahui. Sejarahnya yang berawal dari perjalanan Sunan Kalijaga dan makna yang terkandung dalam setiap sesaji menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang tertarik dengan budaya Jawa.
Dalam upacara ini, terdapat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Rangkaian upacara yang diikuti dengan tulus dan khidmat serta adanya doa-doa yang dipanjatkan oleh Rois menjadikan upacara ini memiliki atmosfer yang sakral dan penuh keberkahan.
Selain itu, lokasi upacara yang berada di Petilasan Sunan Kalijaga juga menambah nilai historis dan spiritual dari upacara ini. Wisatawan dapat mengunjungi tempat ini untuk merasakan suasana yang kental dengan nuansa budaya Jawa dan mengenal lebih dekat dengan sejarah Sunan Kalijaga.
Upacara Adat Saparan Kalibuka juga menjadi ajang untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan budaya dan adat istiadat Jawa kepada masyarakat luas. Dengan adanya upacara ini, diharapkan generasi muda dapat lebih menghargai dan melestarikan budaya leluhur serta memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Secara keseluruhan, Upacara Adat Saparan Kalibuka adalah sebuah upacara yang sarat dengan makna dan keindahan budaya Jawa. Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana religi dan budaya yang khas, mengunjungi upacara ini dapat menjadi pengalaman yang berharga.