Dawet Sambel di Desa Jatimulyo, Kulonprogo, menjadi salah satu kuliner yang unik dan menarik untuk dicoba. Berbeda dengan dawet pada umumnya yang disajikan dingin, Dawet Sambel memiliki keunikan tersendiri. Dawet Sambel merupakan cendol yang tidak menggunakan santan sebagai pemanisnya. Pemanis dalam Dawet Sambel tetap menggunakan nira kelapa, namun topping-nya dilengkapi dengan bawang goreng, taoge, tahu goreng, dan sambel.
Andri, salah satu penjual Dawet Sambel di Desa Jatimulyo, menjelaskan bahwa sambel dalam Dawet Sambel terbuat dari kelapa yang diiris-iris, digoreng, kemudian ditumbuk dan diberi cabai. Sambel ini mirip dengan sambel pecel yang biasa kita temui. Awal mula Dawet Sambel ini bermula dari usaha jualan pecel dan dawet yang dijalankan oleh seseorang. Namun, karena pecelnya habis terjual sedangkan dawetnya masih ada, dan sambel pecel masih tersedia, maka ada orang yang memesan dawet tanpa santan dan malah diberi sambel pecel. Ternyata, kombinasi tersebut terasa enak dan akhirnya menjadi tradisi makan dawet dengan sambel di daerah tersebut.
Dawet Sambel bukanlah kuliner baru, melainkan sudah ada sejak lebih dari 70 tahun yang lalu. Pada tahun 2019, Dawet Sambel diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai salah satu warisan budaya takbenda. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Dawet Sambel sebagai bagian dari budaya masyarakat Jatimulyo. Kuliner ini dapat ditemui di tempat wisata dan warung pinggir jalan di Desa Jatimulyo.
Selain itu, Dawet Sambel juga dijual di rumah-rumah penduduk, seperti Dawet Sambel Nyi Ponirah milik nenek Andri. Dawet Sambel Nyi Ponirah sering menjadi tujuan wisatawan yang datang khusus untuk menikmati Dawet Sambel. Mbah Ponirah, nenek Andri, menjual Dawet Sambel di Pasar Cublak, Jatimulyo, Kulonprogo setiap hari Rabu dan Sabtu. Jika pembeli ingin datang langsung ke rumah, mereka harus menunggu proses pembuatan selama satu hingga dua jam. Namun, kebanyakan pembeli justru senang menunggu sambil bermain-main di sekitar rumah.
Rasa Dawet Sambel ini memiliki perpaduan tiga rasa, yaitu pedas, manis, dan gurih. Menurut Andri, perpaduan tiga rasa tersebut memiliki filosofi tersendiri. Filosofi tersebut menggambarkan bahwa masyarakat di Jatimulyo merupakan masyarakat majemuk yang dapat menerima kedatangan wisatawan tanpa memandang suku, ras, atau agama mereka.
Bagi Anda yang penasaran ingin mencicipi Dawet Sambel ini, Anda dapat menikmatinya dengan harga Rp 4000 per mangkuk jika Anda membelinya di tempat wisata atau warung, dan Rp 2500 per plastik jika Anda membelinya di pasar.
Dawet Sambel di Desa Jatimulyo, Kulonprogo, merupakan kuliner yang unik dan memiliki nilai budaya yang tinggi. Keunikan dari Dawet Sambel ini terletak pada penggunaan sambel sebagai toppingnya, yang memberikan sensasi berbeda saat menikmati dawet. Selain itu, Dawet Sambel juga mencerminkan keramahan dan kedermawanan masyarakat Jatimulyo yang dapat menerima kedatangan wisatawan dengan tangan terbuka. Bagi Anda yang ingin mencicipi kuliner yang unik dan lezat ini, jangan lupa untuk mengunjungi Desa Jatimulyo, Kulonprogo, dan nikmati Dawet Sambel yang menggugah selera.