Kegiatan adat yang diselenggarakan di dusun Kalirase Trimulyo Sleman pada Minggu (6/2/2011) Pukul 14.00 WIB merupakan sebuah tema yang menarik perhatian tim Gudegnet. Acara tersebut adalah upacara adat bersih desa yang diikuti oleh masyarakat setempat. Namun, ada satu acara yang membuat penasaran tim Gudegnet pada pukul 15.00 WIB. Acara tersebut adalah tradisi Kembul bujana yang dilakukan oleh masyarakat Kalirase.
Menurut Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Pariwisata Disbudpar Sleman, Wasita, SS, MAP, tradisi Kembul bujana adalah sebuah aktifitas masyarakat Kalirase untuk menyantap hidangan makanan secara bersama-sama. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang masih dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Kembul bujana memiliki makna sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME. Saat menyantap hidangan ini, semua orang duduk lesehan sebagai simbol bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan. Selain itu, setiap hidangan yang disajikan juga memiliki makna filosofis tersendiri.
Dalam tradisi Kembul bujana, nasi tumpeng memegang peranan penting. Nasi tumpeng adalah nasi yang dibentuk menyerupai kerucut. Dalam tradisi Jawa, nasi tumpeng memiliki makna hubungan manusia dengan sang pencipta. Nasi tumpeng juga menjadi simbol proses kehidupan manusia yang diharapkan selalu naik menuju puncak. Selain nasi tumpeng, hidangan lainnya yang disajikan dalam Kembul bujana antara lain adalah uba-rampe (nasi gurih), ingkung (ayam kampung utuh), lalapan, buah-buahan, dan lain-lain. Semua hidangan ini akan disantap bersama-sama oleh seluruh peserta acara.
Puncak acara Kembul bujana ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh sesepuh setempat atau tamu kehormatan. Pemotongan tumpeng ini memiliki makna sebagai perwujudan penghormatan kepada Tuhan dan sebagai tanda dimulainya acara Kembul bujana. Setelah pemotongan tumpeng, seluruh hadirin akan menyantap hidangan yang telah disajikan dalam pincuk dari daun pisang atau kertas. Ada juga yang menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu sebagai wadah untuk menyantap hidangan.
Tradisi Kembul bujana tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial yang sangat penting. Dalam tradisi ini, masyarakat Kalirase mengutamakan persaudaraan dan gotong-royong. Sebelum acara dimulai, seluruh masyarakat bekerja sama untuk menyiapkan segala kebutuhan acara. Mereka saling membantu dan bekerja sama tanpa memandang perbedaan status sosial atau ekonomi. Selain itu, dalam acara Kembul bujana juga terdapat tradisi memberi sedekah makanan kepada warga sekitar yang kurang mampu. Hal ini menunjukkan rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi dalam masyarakat Kalirase.
Kembul bujana juga menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan antara masyarakat setempat. Dalam acara ini, semua orang duduk lesehan tanpa memandang perbedaan status sosial atau jabatan. Mereka menyantap hidangan secara bersama-sama, saling berbagi cerita, dan saling mengenal satu sama lain. Kembul bujana menjadi momen yang sangat berharga bagi masyarakat Kalirase untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan harmonis.
Selain itu, Kembul bujana juga memiliki nilai-nilai kebersihan dan keindahan. Hidangan yang disajikan dalam acara ini selalu diupayakan untuk selalu bersih dan menarik. Daun pisang atau kertas yang digunakan sebagai pincuk juga dipilih dengan teliti untuk memberikan kesan yang indah. Semua ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki kepada mereka dan sebagai wujud apresiasi terhadap keindahan alam.
Dalam penyelenggaraan acara Kembul bujana, masyarakat Kalirase sangat menjaga kerapian dan ketertiban. Mereka mempersiapkan segala kebutuhan acara dengan seksama dan rapi. Setiap detail acara diperhatikan dengan teliti untuk memastikan bahwa acara berjalan lancar dan sukses. Kerja sama dan koordinasi antar warga sangat penting dalam memastikan kesuksesan acara ini.
Tradisi Kembul bujana merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang sangat berharga. Melalui tradisi ini, masyarakat Kalirase dapat mempererat tali persaudaraan, menjaga kebersihan dan keindahan, serta menghormati Tuhan dengan cara yang unik dan khas. Tradisi ini juga menjadi warisan nenek moyang yang harus dilestarikan dan dijaga agar tidak hilang begitu saja. Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Kalirase dapat menjaga identitas budaya mereka dan memberikan warisan yang berharga bagi generasi mendatang.
Dalam era modern ini, tradisi-tradisi adat seringkali dilupakan atau bahkan dianggap kuno. Namun, tradisi Kembul bujana adalah sebuah contoh bahwa tradisi adat masih memiliki nilai dan relevansi yang tinggi bagi masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat Kalirase dapat menjaga nilai-nilai sosial, kebersamaan, dan keindahan. Tradisi Kembul bujana juga menjadi daya tarik wisata yang unik bagi para wisatawan yang ingin mengenal budaya Jawa dengan lebih dekat.
Dalam kesimpulan, tradisi Kembul bujana merupakan sebuah acara adat yang unik dan bernilai tinggi. Acara ini tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial, kebersamaan, dan keindahan. Melalui tradisi ini, masyarakat Kalirase dapat mempererat tali persaudaraan, menjaga kebersihan dan keindahan, serta menghormati Tuhan dengan cara yang khas. Tradisi ini juga menjadi warisan nenek moyang yang harus dilestarikan dan dijaga agar tidak hilang begitu saja. Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Kalirase dapat menjaga identitas budaya mereka dan memberikan warisan yang berharga bagi generasi mendatang.