Top 10 Obrolan Bapak- Bapak di Pos Ronda



Pos Ronda: Media Sosial Sepanjang Masa di Indonesia

Beberapa warga sedang berbincang-bincang di pos ronda. Inilah sosial media yang sudah ada sejak ratusan tahun di Indonesia. Saat ini kegiatan jaga malam alias ronda tak selalu menyangkut keamanan. Urusan bersosialisasi lebih penting. Bahkan, bapak-bapak yang biasanya kalem pun jadi bigos alias biang gosip.

Pos ronda, tempat dimana warga berkumpul dan berbincang-bincang di malam hari. Meskipun pos ronda biasanya dikaitkan dengan tugas keamanan, namun seiring berjalannya waktu, fungsi pos ronda semakin berkembang. Kegiatan ronda tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menjadi wadah bagi warga untuk bersosialisasi dan berdiskusi tentang berbagai topik menarik.

Salah satu topik yang sering menjadi perbincangan di pos ronda adalah ngomongin tentang setan. Kasihan setan. Makhluk tak kasat mata itu sering jadi kambing hitam. Tuduhannya macam-macam. Mulai dari penyebab lampu di dekat beringin mati sampai sumber suara-suara aneh di samping kuburan. Meskipun sebagian orang tidak percaya dengan hal-hal gaib seperti ini, namun percakapan tentang setan tetap menjadi topik menarik dan mengundang perdebatan.

Selain itu, politik juga sering menjadi topik utama yang dibahas di pos ronda. Di tempat berukuran 4×4 meter itu setiap orang mendadak jadi pengamat politik kelas wahid. Nasehatnya, ibarat obat pusing kasiatnya ces-pleng. Rasanya, kalau republik ini dipimpin bapak pengamat dadakan itu semua bakal beres. Meskipun bukan ahli politik, namun warga yang berkumpul di pos ronda memiliki pandangan dan pendapat yang beragam tentang situasi politik di Indonesia.

Tidak hanya itu, urusan pijat pun menjadi bahan pembicaraan di pos ronda. Rata-rata mereka yang aktif ronda usianya di atas 30 tahun. Saat itu masa-masanya puber kedua. Urusan pijat pun jadi bahan pembicaraan. Mulai dari lokasi pijat yang parkir mobilnya ngga kelihatan sampai nomor punggung terapis idaman. Percaya atau tidak, di pos ronda ini juga terjadi tukar menukar nomor cantik. Mereka berbagi pengalaman tentang tempat pijat terbaik dan terapis yang handal.

Tidak hanya pijat, tempat karaoke juga sering menjadi topik pembicaraan menarik di pos ronda. Bisa jadi fenomena ini terjadi sama bapak-bapak yang nakalnya telat. Saat muda taat jelang tua mulai bejat. Obrolan tempat karaoke jadi topik menarik. Bukan lagunya atau fasilitas ruangannya. Tapi siapa pendampingnya. Lalu, selama karaoke bisa karo opo…

Pertandingan bola juga menjadi topik yang tak pernah pudar di pos ronda. Mereka sering kali debat kusir seakan-akan pegang joy stick yang bisa mengendalikan gerakan pemain. Bahkan, saking emosinya ada yang bilang,\” Kenapa sih gawangnya ngga digeser. Tahu gitu kan bisa goal.\” Warga yang berkumpul di pos ronda memiliki berbagai macam pendapat dan analisis tentang pertandingan sepak bola yang mereka tonton.

Selain obrolan-obrolan yang ringan, tetangga yang jarang ronda juga sering menjadi bahan obrolan di pos ronda. Memang paling enak menggosipkan mereka yang tak pernah ada. Tetangga yang jarang ronda kerap jadi bahan obrolan, dianalisa lalu diberi kesimpulan sendiri. Tanpa konfirmasi. Tanpa memberi kesempatan \”si pesakitan\” membela diri. Meskipun ini hanya gosip, namun tetangga yang jarang ronda sering menjadi objek pembicaraan yang menarik di pos ronda.

Tidak hanya itu, pos ronda juga menjadi tempat bagi para laki-laki untuk bersenang-senang dengan teman-teman laki-laki yang sebaya. Setua apapun seorang laki-laki mereka tetaplah bocah. Di dalam dirinya selalu ada keinginan untuk pergi dan bersenang-senang hanya dengan teman-teman laki-laki yang sebaya. Di pos ronda, mereka sering melakukan deal-deal dadakan untuk pergi mancing, bersepeda, atau bahkan ke tempat karaoke.

Selain itu, pos ronda juga sering menjadi tempat bagi warga yang sudah pensiun untuk berbagi kisah sukses masa lalu. Apalagi yang tertinggal dari sebuah kesuksesan kalau bukan kenangannya. Pos ronda bisa jadi panggungnya. Mereka yang sudah pensiun kerap “flashback” saat mereka sukses. Sedangkan mereka yang merasa masih gagal cuma bisa manyun. Di pos ronda, mereka berbagi pengalaman dan kisah sukses mereka, sehingga menjadi inspirasi bagi yang mendengarnya.

Selain itu, fasilitas bersama juga sering menjadi topik pembicaraan di pos ronda. Jalan berlubang, lampu penerangan jalan yang byar pet kerap jadi bahan obrolan. Sayangnya, di sini mulai terjadi pertandingan yang tidak seimbang. Apalagi kalau ada pak RT atau pak RW yang hadir. Mereka sering kelabakan karena jadi “sasaran tembak” tanpa didampingi pengurus lainnya. Meskipun ini hanya obrolan ringan, namun warga berharap agar fasilitas-fasilitas umum yang ada di lingkungan mereka dapat diperbaiki.

Terakhir, di pos ronda juga sering terjadi perbincangan tentang menyayangkan diri sendiri. Mereka yang ronda rata-rata adalah laki-laki berumur 35 – 60 tahun. Sebagai anggota PGRI atau pengamat gadis ranum Indonesia mereka kerap menyayangkan diri kenapa lahir terlalu cepat. Meskipun ini hanyalah candaan, namun hal ini menggambarkan perasaan mereka yang sudah dewasa namun masih memiliki keinginan dan keinginan yang belum terpenuhi.

Demikianlah sepuluh topik yang sering dibicarakan di pos ronda. Meskipun tulisan ini bersifat subyektif dan tidak mewakili kondisi seluruh masyarakat, namun tulisan ini mencoba menggambarkan fenomena yang sering terjadi di pos ronda. Pos ronda bukan hanya sebagai tempat untuk menjaga keamanan, tetapi juga menjadi wadah bagi warga untuk bersosialisasi, berdiskusi, dan berbagi cerita. Pos ronda menjadi media sosial sepanjang masa di Indonesia.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *