Pertunjukan teater yang berjudul “The Zoo Story” yang dipentaskan di New York Central Park telah mengundang perhatian banyak penonton. Dalam pertunjukan tersebut, terdapat dua karakter utama yaitu Peter dan Jerry yang diperankan oleh Theodorus Christanto dan Kusen Alipah Hadi. Cerita ini bercerita tentang bagaimana manusia menjalin hubungan dengan orang lain, diri sendiri, hewan, dan lingkungan.
Pertunjukan dimulai dengan adegan di taman Central Park, di mana Peter sedang duduk membaca komik. Peter adalah seorang lelaki kelas menengah yang tengah menikmati kesendirian di tengah keramaian taman. Namun, kesendirian Peter terganggu ketika Jerry, seorang lelaki yang terlihat nyentrik, menghampirinya dengan sebuah pertanyaan.
Awalnya, Peter menjawab pertanyaan Jerry dengan enteng. Namun, Jerry terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang membuat Peter sedikit geram. Pertanyaan-pertanyaan Jerry terkesan absurd dan membuat Peter semakin tidak nyaman. Pertunjukan ini berhasil menggambarkan bagaimana manusia bisa merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak relevan.
Seiring berjalannya pertunjukan, penonton diajak untuk memahami bahwa ada lebih dari sekadar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Jerry. Pertunjukan ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang makna hubungan dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan ini mengingatkan kita bahwa hubungan bukan hanya tentang interaksi dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita berhubungan dengan diri sendiri, hewan, dan lingkungan.
Pertunjukan ini berdurasi sekitar 60 menit dan berakhir dengan tragis. Jerry, yang bingung dengan definisi “hubungan” dalam kehidupan riil, akhirnya tewas. Hal ini mengajak penonton untuk lebih memahami pentingnya menjalin hubungan yang sehat dan saling memahami dengan orang lain.
Panggung pertunjukan “The Zoo Story” menggambarkan sebuah taman di kota New York dengan latar belakang hiruk pikuk aktivitas kehidupan kota. Latar panggung yang sederhana ini berhasil memberikan nuansa New York yang autentik. Meskipun dialog dalam pertunjukan ini menggunakan bahasa Indonesia, namun terdapat beberapa dialog yang menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris.
Menurut pimpinan produksi Teater Garasi, Reni Karnila Sari, dialog dalam pertunjukan ini sengaja tidak mengalami proses adaptasi atau penyesuaian dengan budaya Indonesia. Hal ini dilakukan agar pertunjukan benar-benar menghadirkan nuansa asli New York dalam segala hal.
Pertunjukan “The Zoo Story” juga berhasil menarik perhatian banyak penonton. Pertunjukan ini dihadiri oleh raja monolog, Butet Kertaredjasa, dan berhasil membludakkan penonton yang hadir. Berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pemerhati seni, terlihat hadir menyaksikan pertunjukan yang dimulai pada pukul 21.00 WIB malam tadi.
Teater Garasi sendiri didirikan oleh tiga orang alumnus Universitas Gadjah Mada pada tanggal 4 Desember 1993. Meskipun berasal dari kampus, komunitas seni ini tidak membatasi ruang gerak mereka hanya di kampus saja. Mereka telah menyelenggarakan berbagai pertunjukan tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di luar daerah.
Pertunjukan “The Zoo Story” merupakan salah satu contoh dari upaya Teater Garasi untuk menghadirkan karya teater yang menarik dan bermakna. Melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk merenungkan tentang hubungan dalam kehidupan sehari-hari dan pentingnya saling memahami antarmanusia. Dengan latar belakang New York yang autentik, pertunjukan ini berhasil memberikan pengalaman teater yang menarik dan menggugah.