Sutardjo adalah seorang seniman yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, khususnya seni lukis dan patung. Ia mulai belajar seni lukis pada tahun 1967 dari seorang seniman bernama Surono. Namun, bukan hanya seni lukis yang ia pelajari, Sutardjo juga belajar tentang konstruksi bangunan dan cara mengelas logam. Kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap karya-karya patungnya.
Setelah lulus SMA, Sutardjo ingin melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Namun, ayahnya ingin ia menjadi seorang tentara. Sutardjo menolak dan tetap memilih untuk melanjutkan pendidikannya di ASRI. Akhirnya, sang ayah menyetujuinya, asalkan Sutardjo masuk Jurusan Seni Reklame. Namun, dalam akhirnya, Sutardjo memutuskan untuk masuk Jurusan Seni Patung.
Selama belajar di ASRI, Sutardjo juga sempat menimba ilmu di Art Gallery Sono Budoyo. Di sana, ia diajar oleh dua seniman terkenal, Fajar Sidik dan Sunardi, pada tahun 1969. Pengalaman belajarnya di ASRI dan Art Gallery Sono Budoyo sangat berharga bagi perkembangan bakat seni Sutardjo.
Selain belajar seni lukis dan patung, Sutardjo juga memiliki keterampilan dalam membuat kriya dari logam. Ia sering kali membuat piring, hiasan rumah, dan dudukan lampu dari logam. Keterampilan ini juga mempengaruhi karya-karya patungnya, yang sering kali memiliki unsur logam dalam desainnya.
Pada tahun 2000, Sutardjo menjadi pengurus Asosiasi Patung Indonesia (API). Sebagai pengurus API, ia aktif dalam mengembangkan seni patung di Indonesia dan mempromosikan karya-karya para seniman patung Indonesia.
Salah satu karya terkenal Sutardjo adalah patung kuda lumping di Tuban, Jawa Timur. Patung tersebut memiliki tinggi tiga meter dan dibuat pada tahun 1972. Karya ini menjadi salah satu ikon seni patung di Indonesia. Selain itu, Sutardjo juga membuat pintu gerbang perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah di Mantingan, Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1974-1975. Pintu gerbang ini menjadi simbol persatuan dua provinsi tersebut.
Pada tahun 1976, Sutardjo membuat relief tembaga epos Ramayana untuk Australia. Karya ini menjadi salah satu karya yang sangat diakui di tingkat internasional. Selanjutnya, pada tahun 1977, ia membuat monumen Sempor untuk proyek Bendungan Sempor di Jawa Tengah. Monumen ini menjadi simbol kekuatan dan keindahan alam Indonesia.
Pada tahun 1979, Sutardjo membuat relief tembaga epos Ramayana di Beograd. Karya ini merupakan bentuk apresiasi kepada budaya Indonesia yang diakui oleh dunia internasional. Selain itu, pada tahun 1984, ia membuat lambang Pertamina di Cilacap. Lambang ini menjadi simbol kebanggaan nasional di bidang energi.
Pada tahun 1986, Sutardjo membuat patung kuda putih dari tembaga setinggi empat meter untuk Skuadron tempur di Bandara Abdurahman Saleh, Malang. Patung ini menjadi simbol keberanian dan kegagahan. Selanjutnya, pada tahun 1995, ia membuat monumen Elang Bondol dari tembaga dengan bentang sayap 12 meter di Bandara Hangnadim, Batam. Monumen ini menjadi simbol kebebasan dan kekuatan.
Terakhir, pada tahun 2000, Sutardjo membuat pintu gerbang Monumen 10 Nopember di Surabaya. Pintu gerbang ini memiliki makna sejarah yang mendalam dan menjadi simbol perjuangan bangsa.
Karya-karya Sutardjo telah memberikan kontribusi besar bagi seni patung di Indonesia. Ia berhasil menggabungkan keahlian dalam seni lukis, patung, dan kerajinan logam dalam karyanya. Karya-karyanya juga memiliki makna yang mendalam dan menjadi simbol kebanggaan nasional. Sutardjo adalah contoh nyata dari seorang seniman yang memiliki dedikasi tinggi terhadap seni dan budaya Indonesia.