Pada masa kampanye terbuka saat ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hemengku Buwono menghimbau agar masyarakat DIY tetap menjaga kebersamaan meski berbeda partai. Sultan menyampaikan harapannya dalam Ikrar Kampanye Berbudaya 2009 yang diselenggarakan di Alun-alun Utara Yogyakarta pada tanggal 16 Maret.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan mengungkapkan pentingnya menjaga situasi kebersamaan di tengah perbedaan partai politik. Ia berharap masyarakat Yogyakarta dapat tetap hidup berdampingan satu sama lain meski memiliki pilihan politik yang berbeda. Hal ini menunjukkan kesadaran dan kedewasaan politik Sultan dalam memandang perbedaan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga.
Selain mengajak masyarakat untuk menjaga kebersamaan, Sultan juga meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) di seluruh DIY agar melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan tata cara pemilu yang berbeda dengan pelaksanaan pada pemilu sebelumnya. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kebingungan dan kesalahpahaman dalam proses pemilihan nantinya.
“Saya harap KPU di seluruh wilayah DIY juga harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencontrengan yang berbeda dengan pemilu sebelumnya,” ujar Sultan. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat DIY dapat memahami dan melaksanakan proses pemilu dengan baik dan benar.
Menyikapi pesta demokrasi yang akan datang, Sultan juga memberikan pesan kepada seluruh masyarakat dan pendukung partai untuk berkompetisi secara berbudaya, damai, dan sportif. Ia mengingatkan bahwa dalam berkompetisi politik, baik menang maupun kalah, pasti akan ada hikmahnya. Hal ini menunjukkan sikap bijak dan mengedepankan semangat sportivitas dalam berpolitik.
“Bagi seluruh masyarakat, selamat berlomba. Menang dan kalah dalam berkompetisi pasti akan ada hikmahnya,” kata Sultan. Pesan ini menunjukkan bahwa Sultan tidak hanya menginginkan kemenangan bagi partainya, tetapi juga mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Selanjutnya, Sultan berharap pemilu mendatang dapat menjadi sarana untuk mengantarkan rakyat Indonesia menuju tingkat kesejahteraan dan kemakmuran sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Dengan kata lain, Sultan berharap pemilu dapat menjadi momentum untuk memilih pemimpin yang dapat mewujudkan visi dan misi pembangunan yang diamanatkan oleh konstitusi.
Di akhir kegiatan, Sultan juga didaulat untuk memeragakan tata cara pencontrengan yang benar masing-masing untuk anggota DPRD, DPR, dan DPD daerah pemilihan Yogyakarta. Hal ini menunjukkan komitmen dan keterlibatan Sultan dalam proses pemilihan, serta memberikan contoh yang baik kepada masyarakat terkait dengan tata cara pemilihan yang benar dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sebelumnya, para peserta pawai kampanye bersama mengawali start dari Monumen Jogja Kembali dan menuju Alun-alun Utara Yogyakarta untuk menggelar Ikrar Kampanye Berbudaya 2009. Kegiatan ini menjadi ajang untuk menyatukan berbagai kelompok dan partai politik dalam semangat kebersamaan dan persatuan.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan mengajak seluruh masyarakat DIY untuk tetap menjaga kebersamaan dan persatuan dalam perbedaan politik. Ia meyakinkan bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan harus dihormati dalam demokrasi. Dalam berpolitik, penting untuk tetap mengedepankan semangat berbudaya, damai, dan sportif.
Dalam konteks politik, gaya bahasa formal digunakan untuk mengungkapkan pesan dan sikap Sultan secara tegas dan terukur. Gaya bahasa formal ini mencerminkan sikap dan kepribadian Sultan sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Dalam tulisan ini, telah diuraikan berbagai pesan dan harapan Sultan terkait dengan kebersamaan, tata cara pemilu, kompetisi politik yang berbudaya, serta visi dan misi pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.