Slametan Puput Puser


Slametan Puput Puser

Ulasan

Selamatan puput puser adalah sebuah upacara yang dilaksanakan pada malam hari setelah tali pusar bayi terlepas. Upacara ini memiliki makna dan simbolisme yang dalam bagi masyarakat Jawa. Pada zaman dahulu, sebelum tali pusar bayi terlepas, sehelai benang panjang dibentangkan di sekeliling rumah. Daun nanas atau pandan berduri yang dicat putih kemudian digantungkan di atas pintu masuk rumah. Bagian depan dan belakang rumah juga dipasangi penerangan menggunakan obor. Selain itu, di sekeliling bayi dibuatkan pagar yang terbuat dari sapu ijuk. Beberapa benda warna-warni dan beberapa jenis mainan anak-anak juga diletakkan di sekitar bayi.

Satu hal yang menjadi simbol penting dalam upacara slametan puput puser adalah batu penggiling bumbu atau yang disebut sebagai gandhik. Batu ini dihias dengan pakaian bayi dan diletakkan di tempat yang dikelilingi oleh benda-benda tersebut. Tujuan dari meletakkan batu penggiling bumbu ini adalah untuk mengacaukan roh-roh jahat yang ingin mengambil bayi tersebut. Dengan mengacaukan roh-roh jahat, diharapkan bayi akan tetap aman dan terhindar dari gangguan makhluk halus yang mungkin ingin merugikan bayi tersebut.

Selama tali pusar bayi belum terlepas, ayah bayi dan para anggota rumah tangga yang sudah dewasa harus berjaga pada malam hari. Mereka biasanya ditemani oleh para kerabat, teman, dan tetangga. Selama berjaga, mereka bermain kartu atau mengobrol untuk mengusir rasa kantuk. Hal ini dilakukan karena dianggap penting untuk menjaga keamanan dan keberkahan bagi bayi yang tali pusarnya belum terlepas.

Ketika tali pusar bayi sudah terlepas dan mengering, maka tiba saatnya untuk mengabadikan tali pusar tersebut. Tali pusar bayi dibungkus dalam sepotong kain bersama dengan beberapa buah rempah-rempah. Hal ini dilakukan karena tali pusar bayi dianggap memiliki kekuatan gaib. Dengan mengabadikan tali pusar bayi dan menyimpannya bersama dengan rempah-rempah, diharapkan bayi akan selalu dilindungi dan diberkati dalam kehidupannya.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran bayi tersebut, orang tua bayi kemudian melakukan selamatan. Selamatan ini dilakukan dengan membagi-bagikan nasi beserta lauknya kepada tetangga dan saudara. Tindakan ini melambangkan rasa syukur dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang tua bayi serta keinginan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarnya.

Slametan puput puser bukan hanya sekadar acara yang diadakan untuk menyambut kelahiran bayi. Lebih dari itu, slametan puput puser memiliki makna dan filosofi yang dalam. Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran bayi yang sehat dan selamat. Selain itu, slametan puput puser juga melibatkan seluruh anggota keluarga dan juga masyarakat sekitar. Hal ini menunjukkan pentingnya rasa kebersamaan dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan.

Upacara slametan puput puser juga menjadi momen penting untuk mempererat tali persaudaraan dan hubungan antar tetangga. Dengan membagikan makanan kepada tetangga dan saudara, kita dapat saling menguatkan dan mempererat hubungan sosial. Selain itu, upacara ini juga menjadi ajang untuk mengenalkan bayi kepada masyarakat sekitar dan memperoleh berkah serta doa dari mereka.

Dalam setiap upacara slametan puput puser, terdapat nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi. Salah satu nilai budaya yang dapat ditemukan dalam upacara ini adalah gotong royong. Dalam persiapan dan pelaksanaan upacara slametan puput puser, seluruh anggota keluarga dan masyarakat sekitar saling bekerja sama. Mereka membantu dalam persiapan dekorasi, memasak makanan, dan melakukan tugas-tugas lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya gotong royong dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Selain itu, upacara slametan puput puser juga mengandung nilai-nilai agama yang kuat. Selama upacara berlangsung, biasanya ada doa yang dipanjatkan untuk bayi agar selalu dalam lindungan Tuhan. Selain itu, adanya tali pusar bayi yang dianggap memiliki kekuatan gaib juga mencerminkan keimanan dan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan Tuhan.

Dalam upacara slametan puput puser juga terdapat nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil. Salah satunya adalah nilai kesabaran. Selama tali pusar bayi belum terlepas, ayah bayi dan anggota keluarga yang sudah dewasa harus berjaga pada malam hari. Mereka harus tetap terjaga dan tidak tidur meskipun merasa kantuk. Hal ini mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Upacara slametan puput puser juga menjadi momen yang penting bagi bayi dan keluarganya. Melalui upacara ini, bayi diperkenalkan dengan lingkungan sekitarnya dan menerima berbagai doa dan harapan baik dari keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hal ini dapat memberikan rasa keamanan dan kasih sayang bagi bayi, serta memberikan motivasi bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan dan kesuksesan.

Dalam kesimpulannya, slametan puput puser adalah sebuah upacara yang memiliki makna dan simbolisme yang dalam bagi masyarakat Jawa. Upacara ini dilaksanakan setelah tali pusar bayi terlepas dan mengering. Selama upacara berlangsung, tali pusar bayi dibungkus dalam sepotong kain bersama dengan beberapa buah rempah-rempah sebagai jimat. Selain itu, upacara ini juga melibatkan seluruh anggota keluarga dan masyarakat sekitar, sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan. Upacara slametan puput puser mengandung nilai-nilai budaya, agama, dan pendidikan yang tinggi. Dengan melaksanakan upacara ini, diharapkan bayi akan selalu dalam lindungan Tuhan dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *