Sapto Raharjo (Alm.)

Sapto Raharjo (Alm.)

Sapto Raharjo adalah seorang musisi yang telah menggeluti dunia musik sejak tahun 1963. Karirnya dimulai ketika ia bergabung dengan sanggar tari dan karawitan Arena Budaya Yogyakarta. Di sana, ia belajar memainkan gamelan dan memahami struktur gending. Selain itu, ia juga belajar tari Jawa, terutama sebagai Hanoman dan Laksmana dalam Sendratari Ramayana. Namun, Sapto merasa bahwa jalur yang sesuai dengan bakat dan minatnya adalah di bidang musik, bukan dalam bisnis.

Selain aktif dalam dunia musik, Sapto Raharjo juga memiliki pekerjaan dalam bidang multimedia. Ia merupakan seorang seniman musik, broadcaster, dan organizer. Ia juga tergabung dalam Komisi Penyiar Radio Indonesia. Selain itu, Sapto juga menjalani kehidupan keluarga yang bahagia. Ia menikah dengan Isti Indraeni dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Desyana Wulani Putri, Ishari Sahida, dan Dyah Sawarni Dewi.

Riwayat pendidikan Sapto Raharjo dimulai dari TK BOPKRI Ungaran Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke SD Ungaran Yogyakarta, SMP 5 Yogyakarta, dan SMA 3 Yogyakarta. Pendidikannya terakhir adalah di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Meskipun demikian, pengetahuan dan keahlian dalam bidang seni, terutama musik, tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal. Sapto Raharjo juga belajar dari membaca banyak literature dan berhubungan dengan banyak pihak. Ia bisa dikatakan belajar bermusik secara otodidak. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengetahuannya tentang gamelan adalah Ki Cokro Warsito, seorang bapak gamelan.

Sapto Raharjo telah menciptakan banyak karya seni musik, baik dalam bentuk konser maupun rekaman atau album. Beberapa konser musik yang pernah diadakan oleh Sapto Raharjo antara lain Musik Kaleng, Yogyharmonik 80, dan WIN (konser musik 3 hari non-stop yang dipentaskan di Yogyakarta). Selain itu, ia juga telah menghasilkan beberapa album, di antaranya adalah Borobudur Suite, Java, Merapi, dan Katak-katak Bertanggo. Selain berupa album dan konser, Sapto Raharjo juga memiliki karya-karya tulisan dan buku.

Sapto Raharjo dikenal sebagai seorang seniman yang sangat identik dengan gamelan. Ia tidak hanya memainkan gamelan tradisional, tetapi juga melakukan eksplorasi gamelan dengan menggunakan teknologi modern seperti komputer dan synthesizer. Peran Sapto Raharjo dalam perkembangan gamelan semakin jelas ketika ia menciptakan festival internasional Yogyakarta Gamelan Festival pada tahun 1995. Festival ini hingga kini masih terus berlangsung dan menjadi salah satu festival musik terbesar di Yogyakarta.

Namun, pada Jumat dini hari tanggal 27 Februari 2009, Sapto Raharjo meninggal dunia pada usia 54 tahun. Ia meninggal karena penyakit sirosis atau pengerutan hati di Rumah Sakit Panti Rapih pada pukul 01.50 WIB. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Kepergian Sapto Raharjo merupakan kehilangan yang besar bagi dunia musik Indonesia. Ia adalah sosok yang berdedikasi tinggi dalam mengembangkan dan mempopulerkan gamelan. Karya-karyanya akan terus dikenang dan diapresiasi oleh generasi musisi dan penikmat musik di Indonesia. Semoga perjalanan karir dan kehidupan Sapto Raharjo menjadi inspirasi bagi para musisi muda Indonesia untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya-karya yang dapat mengangkat martabat musik Indonesia di mata dunia.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *