Saparan Bekakak Gamping merupakan salah satu upacara tradisional yang dilakukan di Gunung Gamping, Sleman, Yogyakarta. Upacara ini juga dikenal dengan nama Saparan Bekakak. Bekakak sendiri memiliki arti korban penyembelihan hewan atau manusia. Namun, dalam upacara Saparan Bekakak, bekakak yang disembelih hanya berupa boneka pengantin yang terbuat dari tepung ketan.
Upacara Saparan Gamping dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah (roh halus) Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem penangsong (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwana I, yang merupakan pembawa payung kebesaran setiap Sri Sultan Hamengku Buwana I berada dan tidak ikut pindah waktu dari keraton (pesanggrahan) Ambarketawang ke keraton yang baru. Meskipun Sri Sultan Hamengku Buwana I pindah ke keraton yang baru, Kiai Wirosuto beserta keluarganya tetap tinggal di Gamping dan dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.
Waktu penyelenggaraan upacara Saparan Gamping telah ditetapkan, yaitu setiap hari Jumat dalam bulan Sapar antara tanggal 10 hingga 20 pada pukul 14.00 untuk kirab temanten bekakak dan pukul 16.00 untuk penyembelihan bekakak. Tempat penyelenggaraan upacara disesuaikan dengan pelaksanaan upacara tersebut.
Persiapan penyelenggaraan upacara Saparan Bekakak Gamping dibagi menjadi dua macam, yaitu persiapan untuk Saparan Bekakak dan persiapan untuk Sugengan Ageng. Persiapan untuk Saparan Bekakak terutama meliputi pembuatan bekakak dari tepung ketan dan pembuatan juruh. Pembuatan bekakak dari tepung ketan memakan waktu sekitar 8 jam. Selama pembuatan tepung, biasanya diiringi dengan gejong lesung atau kothekan yang memiliki berbagai macam irama seperti kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung, dan lain-lain. Setelah penumbukan beras selesai, dilakukan pembuatan bekakak, gendruwo, kembang mayang, dan sajen-sajen di satu tempat, yaitu di rumah panitia.
Bekakak yang dibuat memiliki bentuk laki-laki dan perempuan dengan bentuk pengantin pria dan wanita pada umumnya. Terdapat dua pasang pengantin bekakak dengan sepasang bergaya Solo dan sepasang bergaya Yogyakarta. Pengantin pria bergaya Solo dihias dengan ikat kepala ahestar berhiaskan bulu-bulu, leher berkalung selendang merah, dan kalung sungsun berkain bangun tulak. Mereka juga memakai sabuk biru dan slepe, serta mengenakan keris beruntaikan bunga melati dan kelat bau. Sementara itu, pengantin wanita bergaya Yogyakarta dihias dengan penutup kepala kuluk berwarna merah, berkalung selendang biru, dan kalung sungsun. Mereka juga memakai sabuk biru dengan slepe, kain lereng, serta berkelat bahu dan bersumping. Pengantin wanita juga memakai kemben berwarna biru, gelung yang diberi bunga-bunga dan mentul, serta memakai subang.
Sesaji dalam upacara bekakak dibagi menjadi tiga kelompok. Dua kelompok disertakan bersama pengantin bekakak, sedangkan satu kelompok lainnya diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji. Sesajen yang diletakkan bersama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk), nasi liwet, tumpeng urubing dhamar, pecel pitik, ayam panggang, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah, dan lain-lain.
Selain persiapan untuk Saparan Bekakak, juga terdapat persiapan untuk Sugengan Ageng. Sugengan Ageng merupakan upacara yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang dan dipimpin oleh Ki Juru Permana. Pesanggrahan tersebut dihiasi dengan janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari Patran berupa jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.
Upacara Sugengan Ageng dimulai dengan pembakaran kemenyan. Kemudian Ki Juru Permana membuka upacara tersebut dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng dan melakukan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah itu, sepasang burung merpati putih dilepaskan sebagai tanda selesainya upacara. Setelah itu, sesaji Sugengan Ageng dibagikan kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I.
Upacara Saparan Bekakak Gamping memiliki nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal yang tinggi. Melalui upacara ini, masyarakat Gamping berusaha mempertahankan dan melestarikan tradisi leluhur mereka. Upacara ini juga menjadi sarana untuk menghormati arwah dan mempererat hubungan antarwarga dalam masyarakat. Dalam setiap tahapannya, upacara Saparan Bekakak Gamping diisi dengan doa, sajian makanan, dan tarian tradisional yang memperkaya budaya dan seni daerah.