“Samudra Kehidupan”, Dunia Anak dalam Lukisan Komik Bahaudin



Seniman-perupa muda Bahaudin, atau lebih dikenal dengan nama Udien Aee, mengungkapkan bahwa ia senang mengamati keikhlasan, kemurnian, dan kejujuran anak-anak. Ia merasa bahwa anak-anak memiliki banyak hal yang bisa diajarkan kepadanya, dan hal tersebut menjadi salah satu sumber inspirasi dalam berkarya. Dunia anak selalu menarik perhatian banyak seniman, termasuk Bahaudin, dalam mencari ide-ide untuk diwujudkan dalam karya seni mereka. Masa kecil yang penuh dengan hiburan televisi dan film-film kartun juga menjadi pengaruh besar bagi Bahaudin dalam menciptakan karyanya.

Salah satu karya terbaru Bahaudin adalah lukisan berjudul ‘Samudra Kehidupan’. Lukisan ini menggunakan medium cat akrilik dan cat dekorfin di atas kanvas berukuran 100 cm x 150 cm. Dalam karya tersebut, terdapat seorang remaja yang sedang tersenyum sambil mendayung bahtera kayu yang dipenuhi dengan tumbuhan, buah-buahan, buku, dan satwa-satwa yang bermain. Karya ini dapat ditafsirkan sebagai simbol cinta dan perdamaian.

Bahaudin mengungkapkan bahwa pikiran dan perasaan harus dapat dikelola dengan baik agar dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Ia juga menekankan pentingnya terus belajar dan mengembangkan kebijaksanaan dalam hidup. Pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain memiliki peran yang penting dalam membentuk kedewasaan seseorang.

Perjalanan seni Bahaudin dimulai ketika ia kuliah di Jurusan Seni Murni ISI Yogyakarta. Pada awalnya, ia lebih banyak berkarya dalam bidang grafis. Salah satu karya awalnya adalah ‘Kisah Asmara sebagai Ide Penciptaan Seni Grafis’, yang kemudian menjadi pameran tunggal perdananya dengan judul “Kisah Asmara”. Namun, pada tahun 2015, ia mulai fokus pada lukisan. Karya-karya awalnya menggunakan teknik cetak tinggi (relief print) dengan menggunakan kayu.

Berkembang dari catatan dalam buku kecilnya, Bahaudin mulai mengembangkan ide-ide tersebut ke dalam medium lain selain printmaking. Pilihan mediumnya saat itu adalah menggambar dan melukis, dengan menggabungkan figur tunggal maupun beberapa figur yang sering dieksplorasi dalam karya printmaking-nya. Pada awalnya, Bahaudin lebih banyak berkarya dalam citraan surealis, khususnya dalam menggambar karikatur dan melukis wajah.

Karya-karya awal Bahaudin, seperti ‘Equality’, ‘Atas Nama Sejahtera’, ‘Bermain Imaji’, ‘Imaji Diri’, dan ‘Time is Always Running’, memiliki gaya surealis yang kental. Bahaudin menyadari bahwa karya-karya ini merupakan bagian dari pengembangan materi kuliahnya, namun juga menjadi alat bertahan hidup bagi dirinya.

Eksperimen berikutnya dalam berkarya lukisan adalah ‘lukisan komik’. Bahaudin menggunakan teknik ini dalam menghasilkan karya-karya naratif yang didasarkan pada penggunaan simbol-simbol objek. Ia menyadari bahwa komik memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak, namun juga dapat digunakan sebagai alat persuasi atau propaganda dalam mencapai berbagai kelompok usia dan demografi.

Salah satu tokoh yang sering muncul dalam karya Bahaudin adalah sosok Robin dengan mata besar dan kacamata topengnya. Dalam karya-karya seperti ‘Kefanaan dalam Keharmonisan’, Bahaudin menggunakan cermin sebagai alat yang memantulkan wajah pengunjung saat melihat karyanya. Hal ini merupakan ajakan Bahaudin untuk melihat kedalam diri sendiri dan melakukan introspeksi terhadap perilaku kita sendiri.

Pada tahun 2017, Bahaudin menerima penghargaan sebagai salah satu Perupa Muda dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Setahun kemudian, ia menjadi finalis dalam Indonesia Art Award 2018 dengan tema “Dunia Komik”. Karya-karya Bahaudin yang terkenal seperti ‘Unscrupulous Person Becomes Competition’ dan ‘Life Resources’ juga mendapat pengakuan dalam berbagai pameran seni di Indonesia.

Gaya seni Bahaudin memiliki ciri khas yang unik. Selain menggunakan tokoh-tokoh komik dan figur lokal, Bahaudin juga menggabungkan citraan realis dalam karyanya. Ia menggunakan objek-objek surealis dan penggabungan figur dalam teknik grafis sejak awal perkuliahan hingga sekarang. Bahaudin terus mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dari teknik printmaking dalam karya seninya.

Selain melukis di atas kanvas dan kayu, Bahaudin juga berkolaborasi dengan Artms Ethernal dan Labx Gallery dalam menciptakan sepatu kets (sneaker) berjudul ‘Kesadaran Hakikat’. Sepatu-sepatu tersebut diproduksi dalam jumlah terbatas.

Karya-karya Bahaudin mencerminkan cara pandangnya terhadap dunia anak dan realitas yang mereka hadapi. Pesan-pesan yang disampaikannya melalui citraan yang riang seringkali membawa imajinasi, interpretasi, dan pemahaman yang beragam. Kehadiran tokoh-tokoh komik dan figur lokal dalam karyanya membuat karya Bahaudin menarik bagi anak-anak, namun juga dapat diapresiasi oleh orang dewasa.

Dalam karya-karya seperti ‘Meruang’, Bahaudin menggabungkan unsur-unsur yang kontras seperti komidi putar, boneka, lanskap alam, dan objek anak-anak. Namun, karya tersebut juga membangkitkan para penonton untuk berpikir, mengingatkan pada patung Le Penseur karya Auguste Rodin.

Gaya seni Bahaudin yang unik dan penuh dengan pesan-pesan yang dalam telah mendapatkan pengakuan dan apresiasi dalam berbagai pameran seni di Indonesia. Karya-karyanya yang mencerminkan pengalaman hidupnya dan pemahamannya terhadap dunia anak-anak menjadi inspirasi bagi banyak orang. Melalui karya-karyanya, Bahaudin berharap dapat menginspirasi orang lain untuk melihat dengan lebih dalam dan menghargai keikhlasan, kemurnian, dan kejujuran anak-anak.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *