Rejeban merupakan tradisi budaya yang telah lama menghilang namun kini dihidupkan kembali oleh masyarakat Kelurahan Terban, Yogyakarta. Acara Merti Kampung dan Rejeban ini bertujuan untuk mengangkat kembali potensi budaya yang telah terlupakan selama puluhan tahun. Terakhir kali Rejeban dilaksanakan pada tahun 1968 dan baru digiatkan kembali pada tahun 2014 setelah warga kampung sepakat untuk menghidupkan kembali tradisi ini.
Ketua Paguyuban Kesenian Saputro Budaya, Antonius Yulianto mengungkapkan bahwa pelaksanaan Merti Kampung dan Rejeban ini merupakan awal yang baik untuk melestarikan budaya. Ia mengaku khawatir jika tradisi ini tidak diuri-uri maka akan menghilang begitu saja seperti obor yang padam. Oleh karena itu, masyarakat Kelurahan Terban sepakat untuk menghidupkan kembali tradisi ini dan menjaga keberlangsungannya.
Acara Merti Kampung dan Rejeban dimulai dengan kirab Bregada Purbonegaran dari Balai Mas Pur menuju RS Pantirapih – Bunderan UGM – Mirota Kampus – Jln. C Simanjuntak – Kelurahan Terban – SMA 9 dan berakhir ke 3 makam di daerah Purbonegaran, Bendo, dan Carang Soka. Setelah kirab, dilanjutkan dengan Pentas Seni dan bersih-bersih makam.
Antonius menjelaskan bahwa tradisi Rejeban sempat kosong selama 46 tahun akibat isu miring yang berkembang saat itu. Pada masa Orde Baru, kegiatan budaya dianggap sebagai bentuk antek PKI. Sejak saat itu, masyarakat Kelurahan Terban tidak pernah merayakan lagi tradisi Rejeban ini. Namun, dengan semakin terbukanya masyarakat dalam menjalankan kegiatan budaya, mereka merasa bahwa sudah saatnya untuk menghidupkan kembali tradisi yang telah terlupakan ini.
Dalam Islam, bulan Rajab memiliki makna yang penting. Ustadz Nana Karsana menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW pernah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) pada bulan Rajab. Pada perjalanan tersebut, Rasulullah menerima perintah untuk menerima perintah salat lima waktu, yang diyakini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Oleh karena itu, bulan Rajab memiliki makna yang spesial bagi umat Islam.
Dalam mitologi Jawa, tradisi Rajeban kemudian berkembang menjadi tradisi membersihkan makam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang ada di makam tersebut. Menurut sesepuh setempat, terdapat 3 makam utama di kawasan Terban yaitu Makam Purbonegaran, Makam Bendo, dan Makam Carang Soka. Ketiga makam ini memiliki leluhur yang berbeda dan dihormati oleh masyarakat setempat.
Makam Bendo memiliki tokoh legendaris bernama Kyai Sag dan Nyai Sag. Kisah tentang Kyai Sag dan Nyai Sag menjadi cerita yang terkenal di daerah Terban. Masyarakat menghormati dan menganggap mereka sebagai tokoh panutan. Bahkan, nama “Sagan” yang merupakan sebuah daerah di Terban diambil dari nama Kyai Sag. Kehadiran makam-makam tersebut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Terban.
Dengan menghidupkan kembali tradisi Rejeban, masyarakat Kelurahan Terban berharap agar budaya yang telah terlupakan ini dapat terus dilestarikan. Mereka ingin mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda agar mereka juga dapat menghargai dan menjaga warisan budaya yang ada di daerah mereka.
Selain itu, kegiatan Merti Kampung dan Rejeban ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antarwarga. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat saling bersilaturahmi dan berbagi pengalaman. Mereka juga dapat belajar dari kearifan lokal yang ada dalam tradisi Rejeban ini.
Masyarakat Terban berharap bahwa tradisi Rejeban ini dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya. Mereka berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan budaya ini agar tidak menghilang begitu saja. Dengan adanya dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat, tradisi Rejeban di Kelurahan Terban dapat terus hidup dan berkembang.
Dalam melaksanakan tradisi Rejeban, masyarakat juga mengajak pihak terkait seperti pemerintah daerah dan instansi terkait untuk ikut serta dalam mendukung kegiatan ini. Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan instansi terkait, diharapkan tradisi Rejeban ini dapat semakin dikenal dan mendapatkan perhatian yang lebih luas.
Melalui Merti Kampung dan Rejeban, masyarakat Kelurahan Terban berhasil menghidupkan kembali tradisi yang telah lama menghilang. Mereka ingin menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada di daerah mereka agar tidak terlupakan oleh generasi-generasi yang akan datang.
Dengan semakin banyaknya kegiatan budaya yang dihidupkan kembali, diharapkan kekayaan budaya Indonesia dapat terus terjaga dan dikenal oleh masyarakat luas. Masyarakat Kelurahan Terban telah memberikan contoh yang baik dalam melestarikan budaya lokal mereka. Semoga tradisi Rejeban ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk menghidupkan kembali tradisi yang telah terlupakan.