Rebo Wekasan Wonokromo
Ulasan
Desa Wonokromo terletak di Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Indonesia. Desa ini terkenal sebagai daerah santri dengan adanya langgar atau masjid di setiap RW. Desa Wonokromo terdiri dari 12 dusun, yaitu Dusun Wonokromo I, Wonokromo II, Karanganom, Ketanggajati, Sarean, Jejeran I, Jejeran II, Brajan, Pandes I, Pandes II, Demangan, dan Kapen. Mayoritas penduduk desa ini adalah petani dan pedagang.
Salah satu tradisi yang terkenal di Desa Wonokromo adalah upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan. Upacara ini diadakan setahun sekali pada hari Selasa (malam Rabu) di minggu terakhir bulan Sapar. Upacara ini merupakan ungkapan syukur kepada Yang Maha Agung dan juga untuk mengenang serta menghormati seorang kyai pertama di Wonokromo, yaitu Kyai Faqih Usman atau Kyai Welit.
Upacara Rebo Wekasan ini memiliki beberapa versi mitos yang berkembang di masyarakat. Versi pertama menyebutkan bahwa upacara ini sudah ada sejak tahun 1784. Pada masa itu, terdapat seorang kyai bernama mBah Faqih Usman atau dikenal dengan nama Kyai Wonokromo atau Kyai Welit. Kyai Welit memiliki kelebihan ilmu di bidang agama dan bidang ketabiban atau penyembuhan penyakit dengan metode disuwuk. Metode ini dilakukan dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran pada segelas air yang kemudian diminumkan kepada pasiennya. Ketika terjadi pagebluk di daerah Wonokromo, masyarakat datang kepada Kyai Welit untuk meminta obat dan berkah keselamatan. Ketenaran Kyai Welit semakin tersebar sehingga suasana di sekitar masjid dipadati oleh para pedagang yang ingin mengais rezeki dari para tamu. Untuk menghindari gangguan tersebut, Kyai Welit memutuskan untuk memberikan pengobatan dan berkah keselamatan dengan menyuwuk telaga di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong yang berada di sebelah timur kampung Wonokromo atau tepatnya di depan masjid. Kemudian, Sri Sultan HB I terkesan dengan kemampuan Kyai Welit dalam menyembuhkan orang sakit dan mengundangnya ke Kraton untuk memperagakan ilmunya.
Versi kedua menyebutkan bahwa upacara Rebo Wekasan ini dikaitkan dengan Kraton Mataram dan Sultan Agung. Pada tahun 1600, Mataram terjangkit wabah penyakit dan Sultan Agung bersemedi di sebuah masjid di Desa Kerta. Sultan Agung menerima wangsit bahwa wabah penyakit tersebut bisa hilang dengan syarat mempunyai tolak bala. Sultan Agung memanggil Kyai Sidik yang tinggal di Desa Wonokromo untuk membuat tolak bala berupa rajah dengan tulisan Arab. Rajah tersebut dimasukkan ke dalam air dalam bokor kencana dan diminumkan kepada orang sakit untuk menyembuhkan mereka. Ternyata, berita tentang rajah tersebut menyebar dan masyarakat datang untuk mendapatkan air dari ajimat tersebut. Dikhawatirkan air tersebut tidak mencukupi, sehingga Sultan Agung memerintahkan agar air yang masih tersisa dituangkan di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong. Berita ini cepat menyebar dan masyarakat banyak yang mandi atau mencuci muka di tempuran tersebut dengan harapan segala permasalahannya dapat teratasi.
Versi ketiga menyebutkan bahwa upacara Rebo Wekasan ini berkaitan dengan bulan Sura dan Sapar yang dianggap sebagai bulan penuh mala petaka. Masyarakat berusaha agar pada dua bulan tersebut tidak terjadi apa-apa dengan memohon kepada orang atau kyai yang dianggap pintar. Pada waktu itu, Kyai Muhammad Faqih dari Desa Wonokromo yang juga dikenal sebagai Kyai Welit dianggap pintar karena keahliannya dalam membuat welit atau atap dari rumbia. Masyarakat datang kepada Kyai Welit untuk meminta dibuatkan tolak bala berupa rajah bertuliskan Arab. Rajah tersebut dimasukkan ke dalam bak yang berisi air dan dipakai untuk mandi dengan harapan agar mereka selamat dari malapetaka. Kyai Welit kemudian memasang rajah di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong agar orang-orang tidak perlu datang kepadanya dan cukup mengambil air atau mandi di tempuran tersebut untuk mendapatkan berkah keselamatan.
Dalam menyambut upacara Rebo Wekasan, Desa Wonokromo mengadakan stan-stan permainan seperti ombak banyu, trem, dremolem, dan lain-lain. Selain itu, ada juga pasar malam dengan berbagai jenis penjual seperti pakaian, makanan, mainan, dan sebagainya. Salah satu makanan yang menjadi ikon upacara ini adalah lemper, yang memiliki makna mengingatkan masyarakat bahwa Sultan Agung adalah penggemar lemper.
Pada tahun 1990, tradisi upacara Rebo Wekasan sudah dikoordinir oleh panitia. Puncak acara upacara ini adalah kirab lemper raksasa yang diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km. Kirab ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta, diikuti oleh lemper raksasa tiruan yang diusung oleh empat orang, dan diikuti oleh lemper berukuran kecil. Kemudian, ada juga kelompok kesenian setempat seperti Salawatan, Kubrosiswo, Rodat, dan lainnya. Di Balai Desa Wonokromo, lemper raksasa tersebut dipotong dan dibagikan kepada peserta upacara adat.
Upacara Rebo Wekasan ini menjadi tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Wonokromo sebagai bentuk ungkapan syukur dan penghormatan kepada Yang Maha Agung serta mengenang jasa Kyai Faqih Usman atau Kyai Welit. Melalui upacara ini, masyarakat menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak lama.