Ratusan IKM Ikuti Pameran Batik Nusantara Mendunia di JEC



Pada tanggal 10 Oktober 2019, Jogja Expo Centre menjadi tuan rumah bagi Pameran Batik 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY. Acara ini diikuti oleh sekitar 150 pelaku batik yang berasal dari Industri Kecil Menengah (IKM) di Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, seperti Bandung, Jawa Barat, dan daerah lainnya.

Kepala Disperindag DIY, Aris Riyanta, mengungkapkan bahwa Pameran Batik tahun ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kemenperin turut berpartisipasi dalam pelaksanaan pameran ini dengan tujuan memberikan pengetahuan lebih kepada para pelaku batik tentang industri ini.

Aris menjelaskan bahwa pameran batik yang merupakan agenda tahunan dari Disperindag DIY ini bertujuan untuk melestarikan salah satu warisan tak benda milik Yogyakarta. Selain itu, pameran ini juga menjadi sarana bagi para pelaku dan kolektor batik untuk saling berbagi informasi tentang perkembangan batik di Indonesia. Aris berharap dengan adanya pertemuan antara para pelaku batik pada pameran ini, mereka dapat saling bertukar informasi yang akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan para pelaku batik. Terlebih lagi, pihak Kemenperin juga akan melakukan talkshow batik yang akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai industri batik.

Tema yang diangkat dalam Pameran Batik tahun ini adalah Batik Nusantara Mendunia. Pameran ini menampilkan beragam hasil karya batik, mulai dari batik klasik, kontemporer, hingga modern. Salah satu batik modern yang diperkenalkan dalam pameran ini adalah jenis Batik Analyzer.

Batik Analyzer merupakan sebuah aplikasi teknologi Artificial Intelligence yang dapat mendeteksi keaslian motif batik, baik batik cap maupun batik tulis. Aplikasi ini dikembangkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta. Dalam penjelasannya, Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperind RI, Sony Sulaksono, menjelaskan bahwa batik asli memiliki motif dan kekhasan yang tidak ditemukan pada batik printing atau jenis batik lainnya yang bukan batik asli. Oleh karena itu, Batik Analyzer diharapkan dapat membantu para pelaku dan kolektor batik untuk mengetahui keaslian hasil karya batik yang mereka miliki. Aplikasi Batik Analyzer juga dapat diunduh melalui ponsel melalui Playstore atau Appstore. Namun, saat ini aplikasi ini masih dalam proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan masih membutuhkan sekitar 10.000 sampel untuk pengambilan data yang akurat. Setelah proses ini selesai, masyarakat dapat menggunakan aplikasi ini secara langsung melalui ponsel mereka.

Pameran Batik 2019 akan berlangsung mulai tanggal 9 hingga 13 Oktober 2019. Selama pameran, akan ada berbagai macam kegiatan yang diadakan, seperti workshop batik, sarasehan batik, dan peragaan busana batik oleh sejumlah peserta pameran. Acara ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pelaku batik dan masyarakat umum untuk lebih mengenal dan mengapresiasi seni batik Indonesia.

Melalui Pameran Batik 2019 ini, diharapkan warisan budaya Indonesia, khususnya batik, dapat terus dilestarikan dan dikembangkan. Batik bukan hanya sekadar kain yang indah, tetapi juga merupakan cerminan dari kekayaan budaya dan seni Indonesia. Dengan adanya pameran ini, diharapkan masyarakat semakin tertarik dan terinspirasi untuk mempelajari dan mendukung pengembangan industri batik di Indonesia.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *