PSK Bukan Dicoblos, Tapi Gantian Nyoblos



Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai salah satu kota budaya di Indonesia, mengalami cuaca yang kurang bersahabat pada Kamis (19/2) siang. Langit Kota Gudeg ini dibalut oleh awan mendung yang akhirnya pecah menjadi hujan deras. Namun, hujan tersebut tak hanya mengguyur seluruh wilayah kota, melainkan juga salah satu daerah di dalamnya, yaitu Sosromenduran atau tepatnya kawasan Pasar Kembang Yogyakarta.

Pada saat yang sama, di Balai RW Sosromenduran itu, sedang dilakukan sosialisasi dan simulasi Pemilihan Umum (Pemilu) yang diikuti oleh lebih dari 200 Pekerja Seks Komersial (PSK) dan warga setempat. Program ini merupakan inisiatif dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta, yang menggunakan dana dari kocek mereka sendiri. Para anggota KPU Kota Yogyakarta, yang berjumlah 5 orang, dengan sengaja tidak mengambil dana kehormatan selama dua bulan untuk digunakan dalam sosialisasi kepada penyandang cacat, di Lembaga Pemasyarakatan (LP), serta di sekolah-sekolah sebagai pemilih pemula.

Suasana sosialisasi dan simulasi semakin semarak ketika Nasrullah SH, Anggota KPU Yogyakarta, dalam pengantarnya beberapa kali menggunakan kalimat yang “nyrempet” dan membuat masyarakat yang hadir menjadi heboh dan penuh canda-tawa. Acara ini dimulai pukul 13.00 WIB di balai berbentuk letter L yang tidak memiliki halaman yang luas. Balai tersebut ditata dengan empat buah kotak suara dan dua bilik suara selebar 50cm, sedangkan lebar kartu suaranya sendiri lebih lebar 30 cm dari biliknya. Tampak hadir pula dalam kegiatan tersebut seperti Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Kapolsek setempat, serta Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Yogyakarta yang diwakili oleh Wisnu Handoko dan dua orang satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) atau lebih dikenal dengan Hansip.

Nasrullah menjelaskan bahwa masyarakat mungkin akan merasa kerepotan jika harus melakukan penyoblosan, mengingat surat suara lebih lebar dari bilik yang disediakan oleh KPU Pusat. Namun, mereka memilih untuk tidak menggantinya karena sudah diatur dalam aturan KPU. Nasrullah menambahkan bahwa pihaknya akan menyediakan meja yang besar serta memberikan sekat antar bilik agar kerahasiaan pemilih tetap terjamin hingga masuk ke dalam kotak suara.

Sebagai Ketua Divisi Hukum dan Hubungan Antara Lembaga KPU Kota Yogyakarta, Nasrullah yang juga bertindak sebagai moderator mampu menciptakan suasana sosialisasi dan simulasi yang santai dan penuh guyonan. Ia sempat mengatakan kepada para PSK yang mayoritas hadir, untuk “membuka dulu sebelum dicoblos”. Hal ini disambut dengan tawa dari para PSK, sementara mereka mengamati dengan seksama cara membuka dan melipat surat suara. Nasrullah juga memberikan petunjuk kepada para bapak yang hadir mengenai cara menyoblos yang benar.

“Sekarang, bapak-bapak, begini cara menyoblosnya nanti, jangan sampai salah tempat,” ungkap Nasrullah sambil dengan wajah meringis, memberikan isyarat kepada hadirin dalam konteks yang berbeda. Sosialisasi tersebut hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan proses simulasi Pemilu untuk menggambarkan kondisi yang akan terjadi sebulan mendatang. KPU Kota Yogyakarta juga meminta bantuan dari 6 orang warga untuk menjadi volunteer yang bertugas sebagai petugas dan saksi-saksi. Mereka secara bergantian memerankan tugas yang berbeda, bahkan ada yang pura-pura menjadi penyandang cacat (tuna rungu dan tuna netra) agar tidak canggung ketika ada yang datang untuk memberikan suaranya di lokasi yang sama dengan para PSK yang sedang “nongkrong”.

Beberapa orang PSK, seperti Wanti, Indah, hingga Supartini, mengungkapkan bahwa mereka masih kesulitan memahami Pemilu sekarang. Mereka mengingat betapa mudahnya Pemilu pada tahun 1999, yang hanya perlu menyoblos lambang partai politik. “Sekarang kita harus menyoblos lambangnya dan juga wakilnya, belum tentu juga kita kenal mereka,” ujar mereka secara bergantian. Ada juga PSK yang mengatakan bahwa mereka akan pulang kampung untuk memilih dan memberikan hak suara mereka di daerah asal. “Biasanya kita hanya dicoblos, sekarang gantian menyoblos,” ungkap mereka.

Celetukan-celetukan yang nakal terus bermunculan mengiringi proses simulasi hingga usai. Para PSK dan masyarakat tampak lebih senang karena mereka lebih dekat dan dapat mengetahui secara pasti langkah-langkah yang diperlukan dalam memberikan suara mereka.

Acara sosialisasi dan simulasi Pemilu yang diadakan oleh KPU Kota Yogyakarta ini merupakan langkah yang sangat penting dalam mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi Pemilu. Dengan adanya simulasi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami proses dan tata cara dalam memberikan suara. Selain itu, kehadiran PSK dalam acara ini juga menunjukkan bahwa setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang profesi atau status sosial, memiliki hak yang sama dalam berpartisipasi dalam Pemilu. Melalui sosialisasi dan simulasi ini, KPU Kota Yogyakarta juga berusaha meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu, terutama para pemilih pemula.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa KPU Kota Yogyakarta sangat peduli dengan inklusi sosial, dengan melibatkan penyandang cacat dalam proses simulasi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap warga negara, tanpa memandang keadaan fisiknya, memiliki hak yang sama dalam berpartisipasi dalam Pemilu. Semua orang memiliki hak untuk memberikan suara mereka dan dipastikan bahwa hak tersebut dapat dilakukan dengan aman, nyaman, dan terjamin kerahasiaannya.

Dalam kesempatan ini, kita juga dapat melihat semangat kebersamaan dan kepedulian dari masyarakat Yogyakarta, yang dengan sukarela menjadi volunteer dalam acara tersebut. Kehadiran mereka sebagai petugas dan saksi-saksi merupakan bentuk partisipasi aktif dalam proses demokrasi. Melalui kerja sama antara KPU, masyarakat, dan pihak terkait lainnya, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan Pemilu yang adil dan demokratis.

Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu, sosialisasi dan simulasi seperti ini perlu dilakukan secara terus-menerus. Setiap warga negara perlu diberikan pemahaman yang baik mengenai pentingnya Pemilu dan hak serta kewajiban mereka sebagai pemilih. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan masyarakat dapat lebih aktif dan berperan serta dalam proses demokrasi, serta dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam memilih pemimpin yang terbaik untuk negara ini.

KPU Kota Yogyakarta telah menunjukkan komitmen dan dedikasinya dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai Pemilu. Langkah ini perlu diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, sehingga Pemilu yang akan datang dapat berjalan dengan baik dan berlangsung dalam suasana yang damai dan demokratis. Semoga kegiatan sosialisasi dan simulasi ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *