Pada suatu waktu, tepatnya saat Pras Teguh masih duduk di bangku kelas 3 SD, ia menghabiskan satu tahun di Concong Catur. Hal ini dikarenakan sang ayah sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Meskipun hanya setahun, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam dalam memori masa lalunya.
“Saat itu, saya sangat terkesan dengan Jogja. Sekitar tahun 1999, saya ikut ayah tinggal di sini. Namun, saya tidak betah tinggal di Jogja karena nasinya yang tidak pulen,” ungkap Pras ketika berbincang dengan Tim Gudegnet di Indoluxe Hotel Yogyakarta. Meskipun demikian, ia masih merasa dekat dengan Jogja yang telah mengalami banyak perubahan sejak saat itu.
Ketika masih SD, Pras tidak pernah memiliki waktu luang untuk jalan-jalan. Kehidupannya saat itu hanya sebatas sekolah, pulang, dan kembali ke sekolah lagi. Hal ini dikarenakan rumahnya sangat dekat dengan sekolah, sehingga suara guru yang sedang mengabsen dapat terdengar hingga ke rumahnya. “Jarak antara rumah dan sekolah sangat dekat, sehingga saya dapat mendengar guru mengabsen dari rumah,” cerita Pras.
Selama berada di Jogja, Pras memiliki seorang sahabat di SD yang sangat usil. Hingga kini, keinginannya untuk bertemu dengan sahabatnya, Dika, masih belum terwujud. “Dika adalah teman saya yang sangat usil. Saat saya ingin meminjam sepeda, dia selalu berkata, ‘wis-wis, tidak perlu meminjam sepeda’,” kenang Pras sambil tertawa.
Meskipun begitu, Pras sangat mengagumi kebaikan hati penduduk Jogja yang ramah serta kelezatan makanan khas daerah tersebut. Selain itu, ia juga merasa terhindar dari kemacetan yang kerap terjadi di Jakarta. “Ketika saya dewasa, saya mulai merasakan betapa nikmatnya Jogja,” tutup Pras, yang lahir pada tanggal 10 Juni 1991, saat sesi wawancara eksklusif dengan Tim Gudegnet dalam rangka peringatan Ulang Tahun Citraweb Nusa Infomedia yang ke-15.
Pengalaman Pras Teguh di Jogja saat masih duduk di bangku SD merupakan salah satu cerita yang menarik. Meskipun hanya berlangsung selama satu tahun, pengalaman tersebut telah membawa kesan yang mendalam dalam hidupnya. Jogja, sebuah kota dengan sejarah dan budaya yang kaya, telah meninggalkan jejak yang sulit dilupakan dalam memori masa lalunya.
Pada tahun 1999, Pras Teguh mengikuti sang ayah yang sedang menempuh pendidikan S2 di UGM. Meskipun pada awalnya tidak betah tinggal di Jogja karena alasan nasinya yang tidak pulen, Pras tetap merasa dekat dengan kota ini. Meskipun masih kecil, ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk jalan-jalan. Kehidupannya saat itu hanya sebatas sekolah, pulang, dan kembali ke sekolah lagi. Namun, ia memiliki teman SD yang sangat usil, Dika. Meskipun saat ini mereka belum bisa bertemu, Pras masih mempunyai kenangan manis bersama Dika.
Pras juga terkesan dengan sikap ramah penduduk Jogja dan kelezatan makanannya. Menurutnya, Jogja merupakan tempat yang jauh dari kemacetan seperti di Jakarta. Ketika ia dewasa, ia mulai merasakan nikmatnya tinggal di Jogja. Pras Teguh, yang lahir pada tanggal 10 Juni 1991, mengakhiri wawancara eksklusif dengan Tim Gudegnet dalam rangka peringatan Ulang Tahun Citraweb Nusa Infomedia yang ke-15 dengan pernyataan tersebut.
Pengalaman Pras Teguh di Jogja saat masih duduk di bangku SD telah memberikan gambaran tentang kehidupan di kota ini. Meskipun hanya berlangsung selama satu tahun, pengalaman tersebut telah membawa kesan yang mendalam dalam hidupnya. Jogja, dengan sejarah dan budaya yang kaya, telah meninggalkan jejak yang sulit dilupakan dalam memori masa lalunya.