Heading 2: Terra Bajraghosa, Seniman Komik dan Akademisi
Terra Bajraghosa adalah seorang seniman komik yang juga menjadi akademisi di Program Studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Dalam sebuah obrolan di Studio Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Terra mengungkapkan bahwa komiklah yang memilih dirinya. Keintiman Terra terhadap komik dimulai ketika ia secara tidak sengaja bertemu dengan seniman dan komunitas komik indie di Yogyakarta. Pada saat itu, Terra membuat karya komik pertamanya saat masih bersekolah di SMA pada tahun 1997. Komik tersebut berupa lima eksemplar fotokopi yang ia titipkan di sebuah lapak di depan stasiun Radio Geronimo, yang menjual kaos, tempat pensil, dan komik fotokopian.
Sejak saat itu, Terra sangat tertarik dengan dunia komik dan menganggapnya sebagai media yang harus ia tekuni dengan serius. Ketika ia masuk ke Program Studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, Terra semakin menyadari bahwa komik tidak hanya terbatas pada manga atau komik Marvell, namun bisa berbagai bentuk dan gaya. Hal ini membuatnya semakin terinspirasi untuk terus berkarya dalam bidang komik.
Heading 2: Master Komik “Robot Goblok”
Tiga karya drawing series dalam medium pena, marker, dan digital print yang merupakan master dari karya komik Terra berjudul “Robot Goblok” dipresentasikan di Studio Pojok Ngasem UWM selama 21 Oktober hingga 2 November 2022. Master komik tersebut kemudian diproduksi menjadi sebuah booklet komik dengan judul yang sama, berukuran 14,5 cm x 10 cm dan berisi 8 halaman dalam cetakan yang sederhana. Terra menjelaskan bahwa “Robot Goblok” adalah alter ego-nya dalam dunia komik.
Pada perhelatan Yogyakarta Komik Weeks (YKW) 2022, Terra membuat catatan kuratorial yang menyatakan bahwa banyak orang mengenal dan mengingat komik karena adegan-adegan aksinya, seperti kisah superhero dan silat. Dalam komik, penggambaran aksi dalam tiap panel komik menjadi penting untuk menjalin cerita. Selain itu, media komik identik dengan transisi secara berurutan, atau sekuensial. Pergantian atau perubahan dari satu panel ke panel berikutnya menentukan jalannya cerita suatu komik.
Heading 3: Pengaruh Komik Inggris dan Uniknya Komik Lokal
Terra menjelaskan bahwa komik Indonesia yang berkembang pada tahun 1970-an banyak dipengaruhi oleh komik Inggris yang terdiri dari dua panel. Namun, keunikan komik lokal Indonesia terletak pada penggambaran manusia, setting, alur cerita, dan pemecahan masalah dalam cerita. Dalam sebuah esai berjudul “Membaca Komik Mandiri, Melihat Perwujudan Bahasa dalam Komik yang Diterbitkan Secara Mandiri” (2015), Terra menjelaskan bahwa komik merupakan karya naratif yang bergantung pada kreasi kode agar dapat dipahami oleh pembaca. Komposisi, cerita, enkapsulasi, dan tata letak merupakan beberapa level dalam proses kreasi kode dalam pembuatan komik.
Komposisi komik juga memiliki beberapa elemen unik, seperti semua suara dalam komik harus diterjemahkan ke dalam bentuk visual, perpaduan antara unsur linguistik dan piktorial, serta gaya seni. Dari jaman kertas, surat kabar, hingga saat ini, komik selalu hadir dalam berbagai media. Bahkan media sosial pun dipenuhi dengan komik. Keberadaan webcomic dan webtoon juga membuktikan bahwa komik dalam bentuk buku tidak tergeser oleh komik digital.
Heading 3: Jalanan Yogyakarta dan Robot Goblok
Terra juga pernah membuat sebuah karya seni rupa di ruang publik yang berjudul “Robot Cross”. Karya ini merupakan respons terhadap sulitnya anak-anak menyeberang jalan dengan aman di sekitar Yogyakarta. Salah satu objek dalam karya tersebut adalah robot berbentuk kotak berwarna oranye seukuran manusia dengan gambar rambu zebra cross penyeberangan serta orang yang sedang menyeberang. Robot tersebut dilengkapi dengan sirine dan lampu yang menyala. Karya “Robot Cross” ini merupakan satu kesatuan dengan karya “Halte Tunggu Jemputan” yang dibuat oleh seniman Uji Handoko.
Karya-karya tersebut mengangkat isu penting mengenai keselamatan anak-anak saat menyeberang jalan. Terra ingin membuat anak-anak merasa memiliki hak atas trotoar dan jalan raya. Ia ingin mengingatkan bahwa zebra cross bukanlah jalan bagi para penyeberang, melainkan tanda bagi kendaraan bermotor untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Jalanan di Yogyakarta menjadi cerminan kondisi saat ini. Keruwetan dan kemacetan sering terjadi, terutama pada saat akhir pekan atau musim liburan. Volume kendaraan yang meningkat, jumlah kantong parkir yang tidak memadai, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam berlalulintas menjadi penyebab utama kemacetan dan pelanggaran hukum di jalan raya.
Dalam konteks ini, “Robot Goblok” kembali muncul sebagai simbol untuk menertibkan lalu lintas dan membantu menciptakan jalan yang aman bagi semua pengguna jalan, termasuk anak-anak. Terra berharap bahwa melalui karyanya, ia dapat menginspirasi banyak orang untuk menghargai dan mengapresiasi karya komik yang panjang, baik dari segi cerita maupun visualnya, yang menceritakan berbagai kisah di Indonesia.