Penting! Ini Dia 5 Jenis Gunungan Dan Bagian-Bagiannya

Heading 2: Upacara Garebeg Besar di Yogyakarta

Upacara Garebeg Besar merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan di Yogyakarta, Indonesia. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang diberikan kepada kerajaan dan rakyat. Salah satu bagian yang paling menarik dari upacara ini adalah Gunungan, yang menjadi simbol dari kesuburan dan keberkahan.

Heading 3: Gunungan Laki-Laki

Gunungan Laki-Laki merupakan salah satu jenis Gunungan yang digunakan dalam upacara Garebeg Besar. Bentuknya menyerupai kerucut dan terbuat dari bambu. Seluruh bagian gunungan ini ditutup dengan batang pelepah pisang yang kering. Gunungan Laki-Laki terdiri dari enam bagian yang memiliki makna dan simbolis yang penting.

Bagian pertama dari Gunungan Laki-Laki adalah Mustoko atau kepala. Mustoko terbuat dari tepung beras yang menempel pada kayu randu. Bentuknya menyerupai ikan bader dan terdiri dari lima buah. Mustoko ini juga disebut sebagai baderan. Setelah Mustoko selesai disusun, bagian ini diberi untaian bunga melati dan kantil di bagian ujung dan pangkalnya.

Bagian kedua adalah Bendul, yang terbuat dari tepung beras yang digoreng dan ditempelkan menggunakan tusuk bambu atau sujen di kerangka gunungan. Bendul ini dibuat sebanyak delapan buah dan diatur sampai memenuhi kerangka.

Bagian ketiga adalah Telur rebus, yang jumlahnya ada 24 butir dan ditata menyerupai rantai di bagian bawah bendul.

Bagian keempat terdiri dari kacang panjang, lombok merah, dan kucu yang dilingkarkan pada gunungan menjadi tujuh lingkaran dari atas sampai ke bawah.

Bagian kelima adalah Dengul, yang terdiri dari telur rebus yang diberi tangkai dari bambu atau sujen serta pelokan (telur dadar) sebanyak 12 biji yang menempel di beberapa bagian sampai ke bawah.

Bagian terakhir adalah Jodang, yang merupakan wadah dari kayu berbentuk persegi empat yang berfungsi sebagai usungan. Jodang ini dibuat menggunakan kayu tebal yang kokoh dan tidak bergeser kemana-mana saat digunakan untuk mengangkut gunungan. Pada tiap sudut jodang diletakkan sesaji yang ditutup kain tulak.

Heading 3: Gunungan Puteri

Gunungan Puteri memiliki bentuk yang menyerupai kerucut terbalik, dimana bagian bawahnya kecil dan melebar ke atas. Kerangka gunungan ini terbuat dari bambu dan ditutup dengan pelepah batang pisang kering. Gunungan Puteri terdiri dari delapan bagian yang memiliki makna dan simbolis yang penting.

Bagian pertama dari Gunungan Puteri adalah Mustoko, yang merupakan kue berwarna hitam yang terbuat dari ketan yang dibentuk menyerupai gunungan di dalam pagelaran wayang kulit. Ilat-ilatan atau kue panjang sebanyak 60 buah mengelilingi Mustoko ini. Satu buah ilat-ilatan memiliki panjang 20 cm dan lebar 2 cm.

Bagian kedua adalah Upil-Upil, yang merupakan makanan kecil berbahan dasar ketan dengan berbagai warna seperti hijau, merah, kuning, hitam, dan putih. Upil-Upil ini diberi tangkai dari sujen atau bambu. Di dalam gunungan, upil-upil diatur dengan indah agar menarik dan sedap dipandang.

Bagian ketiga adalah Tlapukan, yang merupakan makanan berbentuk bintang berwarna putih, hijau, kuning, dan merah. Di dalam Gunungan Putri, Tlapukan diatur sehingga melingkar turun sebanyak tujuh kali.

Bagian keempat adalah Rengginang, yang terbuat dari ketan dengan bentuk bulat, putih, dan tengahnya berwarna. Rengginang ini juga diberi upil-upil sebagai hiasan.

Bagian kelima terdiri dari Betetan dan Ole-Ole, yang terbuat dari ketan berbentuk persegi, berwarna putih, dan diberi tangkai bambu agak panjang.

Bagian keenam adalah Wajik, yang sudah ditumplak (dibalik) dan ditutup dengan rapat menggunakan bilah-bilah bambu.

Bagian ketujuh adalah Eblek dan Sumpil, yang diletakkan pada bagian bawah gunung puteri dan ditutup dengan pelepah batang pisang. Jumlahnya ada empat Eblek (putih) dan sebelas Sumpil (merah).

Bagian terakhir adalah Jodang, tempat semua bagian gunungan Puteri diletakkan beserta sesajinya yang berupa makanan. Semua itu kemudian ditutup kain bangun tulak.

Heading 3: Gunungan Darat

Gunungan Darat memiliki bentuk yang mirip dengan Gunungan Puteri, namun tanpa wajik dan tidak diletakkan di atas jodang. Gunungan ini terdiri dari beberapa bagian yang memiliki makna dan simbolis yang penting.

Bagian-bagian Gunungan Darat antara lain Mustoko, Upil-Upil, Tlapukan yang diatur dalam tujuh baris ke bawah, Rengginang, Eblek dan Sumpil, serta Dumpal yang diikat di bambu panjang dan berfungsi sebagai pengangkut. Jodang yang digunakan untuk Gunungan Darat pun ditutup dengan kain bangun tulak.

Heading 3: Gunungan Gepak

Gunungan Gepak memiliki perbedaan dengan beberapa gunungan lainnya. Gunungan ini berisi makanan yang ditempatkan di beberapa “panjang ilang” atau piring yang dibuat dari daun kelapa muda/janur. Makanan ini nantinya dibagi-bagikan kepada para petugas. Jodang Gunungan Gepak juga ditutup dengan kain bangun tulak.

Heading 3: Gunungan Pawuhan

Gunungan Pawuhan memiliki bentuk yang mirip dengan Gunungan Puteri, namun ukurannya lebih kecil. Bagian atas Gunungan Pawuhan diberi bendera kecil berwarna merah, tangkai bambu/sujen, dan bola-bola kecil dari timah atau disebut picisan. Selain itu, terdapat juga upil-upil, tlapukan, rengginang yang disusun dalam empat baris dari atas ke bawah, buntal atau untaian bunga-bungaan, dan daun-daunan.

Gunungan Pawuhan juga diletakkan di atas jodang, namun hanya diangkut menggunakan bambu yang diikat di kiri dan kanan pada bagian bawahnya. Pada zaman dulu, jumlah gunungan-gunungan ini lebih banyak. Pada Garebeg Pasa, Gunungan Laki-Laki dibuat sebanyak 10 buah, Gunungan Puteri 4 buah, Gunungan Darat 4 buah, Gunungan Gepak 4 buah, serta Gunungan Pawuhan sebanyak 4 buah.

Namun, sekarang setiap jenis gunungan hanya diwakili oleh satu gunungan saja, karena dianggap sudah memenuhi syarat. Selain itu, penyederhanaan dilakukan untuk mengurangi biaya yang diperlukan untuk membuat gunungan dan sesajinya yang sangat besar.

Dalam upacara Garebeg Besar, Gunungan menjadi salah satu elemen yang sangat penting. Gunungan ini bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga memiliki makna dan simbolis yang dalam. Melalui Gunungan, rakyat dan kerajaan Yogyakarta mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang diberikan. Upacara Garebeg Besar yang dilakukan setiap tahun ini merupakan wujud dari kebudayaan dan tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *