Penting! Ini Daftar 6 Kampung yang Dinamai Berdasarkan Prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (1)



Kampung-kampung di Jogja memiliki sejarah yang unik dan menarik. Salah satu hal yang menarik adalah nama-nama kampung yang didasarkan pada prajurit dan abdi dalem. Ada enam kampung yang memiliki nama tersebut, yaitu Langenastran, Langenarjan, Wirobrajan, Ketanggungan, Bugisan, dan Suronggaman.

Kampung Langenastran dan Langenarjan merupakan tempat kediaman abdi dalem prajurit pengawal Langenastra dan Langenarja. Pada masa Hamengku Buwono V, abdi dalem prajurit Langenastra terdiri dari 40 orang. Mereka tidak memiliki bendera dan tugas utama mereka adalah menampilkan tari Tayungan saat mengiringi perjalanan Prajurit Mantri Lebet atau Mantrijero. Pada masa Hamengku Buwono IV, prajurit Langenastra termasuk dalam abdi dalem prajurit Kadipaten. Kampung Langenastran dan Langenarjan terletak di sisi timur alun-alun selatan dan termasuk dalam kelurahan Panembahan, kecamatan Keraton.

Kampung Wirobrajan merupakan tempat kediaman para abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta yang tergabung dalam kesatuan Prajurit Wirabraja. Kecamatan Wirobrajan terdiri atas kelurahan Wirobrajan, Patangpuluhan, dan Pakuncen. Prajurit Wirabraja memiliki tombak yang disebut Kanjeng Kyai Slamet dan Kanjeng Kyai Santri serta Dapur Crengkeng. Kawasan Kecamatan Wirobrajan berbatasan dengan kecamatan Tegalrejo, Kasihan, Mantrijeron, Ngampilan, dan Mantrijeron. Terdapat dua sungai yang berbatasan dengan kecamatan ini, yaitu Sungai Widuri dan Sungai Winaga.

Kampung Ketanggungan terletak di sisi selatan kelurahan Wirobrajan, kecamatan Wirobrajan. Nama kampung ini berasal dari kediaman abdi dalem Prajurit Ketanggung. Di kawasan kampung Ketanggungan terdapat gang yang membatasi kawasan Singosaren dan Kampung Ketanggungan Kulon. Prajurit Ketanggung terdiri atas dua orang pembawa panji, dua orang sersan, seorang pembawa panji-panju, prajurit pembawa senapan atau disebut Ketanggung Sarageni, dan prajurit pembawa tombak atau disebut Ketanggung Sarahastra. Jalan di kampung ini disebut Gang Singomulangjaya. Terdapat juga gang lain yang membatasi kawasan kampung Ketanggungan Kulon dengan Kampung Suronggaman, serta Gang Kresna yang membatasi kawasan kampung Ketanggungan Wetan dengan Kampung Mancasan.

Kampung Bugisan terletak di bagian paling selatan kelurahan Patangpuluhan, kecamatan Wirobrajan. Nama kampung ini berasal dari kesatuan prajurit di Kasultanan Yogyakarta yang merupakan prajurit kiriman dari Pura Mangkunegaran Surakarta. Awalnya, prajurit Bugis tersebut merupakan pengawal putri GKR. Bendoro yang diperistri KGPAA Mangkunegoro I. Namun, GKR Bendoro kemudian diceraikan dan dikembalikan kepada Hamengku Buwono I. Prajurit Bugis yang mengawal perjalanan putri tersebut kemudian memutuskan untuk menjadi prajurit Kasultanan Yogyakarta. Prajurit Bugis ini mengawal putra mahkota dan menggunakan nama depan “Rangsang”. Sejak Perang Diponegoro, istana Sawojajar tidak lagi menjadi tempat tinggal putra mahkota. Prajurit Bugis yang awalnya tinggal di sana kemudian ditempatkan di kampung Bugisan.

Kampung Patangpuluhan merupakan kawasan perkampungan terluas di kelurahan Patangpuluhan. Nama kampung ini berasal dari perkampungan Prajurit Patangpuluhan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Abdi dalem Prajurit Patangpuluhan memiliki nama depan khas yaitu ‘Hima’. Pemberian kediaman bagi prajurit Patangpuluhan bersifat hak milik dan setiap prajurit mendapatkan pembagian tanah seluas 1600 m2.

Kampung Suronggaman terletak di tepi barat Kampung Ketanggungan. Kampung ini relatif lebih kecil ketimbang kampung lainnya dan terdiri atas satu RW dan tiga RT. Nama kampung ini berasal dari abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta yang tergabung dalam kesatuan Prajurit Surogama. Prajurit Surogama awalnya tinggal di istana Sawojajar bersama Prajurit Surokarso dan Prajurit Bugis. Namun, setelah istana Sawojajar tidak lagi ditempati Pangeran Adipati, para prajurit pengawal putra mahkota tersebut menjadi prajurit Kepatihan. Mereka kemudian ditempatkan di kampung Suronggaman.

Sejarah nama-nama kampung di Jogja ini adalah bagian dari sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta. Nama-nama tersebut menggambarkan keberagaman budaya yang ada di Jogja. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran prajurit dan abdi dalem dalam menjaga dan mempertahankan kesultanan. Dengan mengetahui sejarah ini, kita dapat lebih menghargai dan memahami keberagaman budaya di Jogja.

Sejarah dan latar belakang kampung-kampung di Jogja ini memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Selain sebagai tempat tinggal, kampung juga menjadi identitas dan kebanggaan bagi penduduknya. Kampung-kampung ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta dan peran prajurit serta abdi dalem dalam menjaga kerajaan.

Dalam proses penelusuran sejarah kampung-kampung ini, Ensiklopedia Kraton Yogyakarta dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Ensiklopedia ini mengungkapkan detail tentang sejarah dan latar belakang setiap kampung di Jogja. Dengan adanya ensiklopedia ini, kita dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang sejarah dan budaya Jogja.

Sebagai masyarakat yang peduli terhadap sejarah dan budaya, penting bagi kita untuk terus melestarikan dan mempromosikan sejarah kampung-kampung di Jogja. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengunjungi kampung-kampung tersebut dan belajar lebih lanjut tentang sejarah dan budaya mereka. Selain itu, kita juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masyarakat setempat untuk mempromosikan kampung-kampung mereka.

Dengan memahami sejarah dan budaya kampung-kampung di Jogja, kita dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ada. Sejarah dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas suatu daerah. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus berperan aktif dalam melestarikan dan mempromosikan sejarah dan budaya Jogja.

Dalam menghargai dan melestarikan sejarah dan budaya Jogja, kita juga dapat memberikan kontribusi dengan berbagi informasi tentang sejarah atau latar belakang kampung di Jogja. Jika Anda memiliki informasi tentang sejarah atau latar belakang kampung Anda di Jogja, Anda dapat mengirimkannya melalui email [email protected]. Dengan berbagi informasi ini, kita dapat saling belajar dan memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah Jogja.

Sebagai penutup, sejarah kampung-kampung di Jogja memberikan gambaran yang menarik tentang peran prajurit dan abdi dalem dalam menjaga dan mempertahankan Kesultanan Yogyakarta. Nama-nama kampung yang didasarkan pada prajurit dan abdi dalem ini menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Jogja. Dengan memahami dan menghargai sejarah ini, kita dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ada di Jogja.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *