Heading 2: Pameran Keris “Kebo Nirbaya” di Omah Dhuwung
Pameran Keris “Kebo Nirbaya” yang diadakan di Omah Dhuwung merupakan sebuah acara yang menarik minat para pencinta keris dari berbagai daerah. Meskipun di tengah pandemi, pameran ini berhasil menarik perhatian banyak orang yang tertarik dengan budaya dan sejarah keris. Dibuka oleh GBPH Yudhaningrat atau yang akrab dipanggil Gusti Yudha, pameran ini memamerkan hampir 80 buah keris dari berbagai era, mulai dari zaman Padjajaran dan Majapahit hingga keris yang dibuat baru-baru ini.
Heading 3: Pemilihan Nama “Kebo Nirbaya”
Pameran ini diberi nama “Kebo Nirbaya” dengan alasan yang menarik. “Kebo” sendiri merupakan daphur atau tipe dari suatu keris. Setiap tipe keris memiliki bentuk dan ciri yang khas, dan tidak bisa diganti-ganti. Pemilihan nama ini sengaja dilakukan pada saat tahun baru Imlek, meskipun sebenarnya tidak ada kaitannya. Ichwan Noor, pemilik Omah Dhuwung dan anggota Lar Gangsir, menjelaskan bahwa “Kebo” dalam falsafah Jawa adalah manifestasi dari “kasantosan” atau kekuatan dan keteguhan. Sedangkan “nirbaya” terdiri dari kata “nir” yang berarti tiada atau luput, dan “baya” yang berarti sesuatu yang bersifat membahayakan. Jadi, “nirbaya” dapat dimaknai sebagai suatu keadaan terhindar dari sesuatu yang mencelakai. Dengan demikian, “Kebo Nirbaya” merupakan simbolisasi dari kesentosaan sehingga terhindar dari segala marabahaya.
Heading 3: Keris dari Berbagai Daerah
Pameran ini tidak hanya memamerkan keris dari Jawa, tetapi juga keris dari berbagai daerah seperti Sumatra. Ichwan menjelaskan bahwa pakem atau tata cara pembuatan keris di Jawa dan Sumatra relatif sama. Namun, apakah keris-keris tersebut dikembangkan sendiri oleh masyarakat setempat atau diambil dari Jawa, hal ini belum dapat dipastikan. Pameran ini memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk melihat dan mempelajari keris dari berbagai daerah, sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang keberagaman budaya di Indonesia.
Heading 2: Lar Gangsir: Komunitas Pencinta Keris
Lar Gangsir adalah sebuah komunitas yang terdiri dari 20 orang pencinta keris, mulai dari kolektor, pedagang, hingga pehobi. Komunitas ini memiliki tujuan untuk melestarikan dan mempromosikan budaya keris di Indonesia. Omah Dhuwung, yang berarti “rumah keris”, merupakan wadah bagi komunitas Lar Gangsir untuk melakukan berbagai kegiatan terkait keris. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan adalah acara kebudayaan dan tradisi, terutama tradisi keris seperti jamasan. Komunitas ini berusaha untuk memfasilitasi anggotanya dalam menjalankan aktivitas perkerisan dan memperkenalkan keris kepada masyarakat.
Heading 3: Mewakili Budaya Keris Jogja
Menurut Ichwan, masih belum ada tempat di Jogja yang cukup representatif untuk mewakili budaya keris yang begitu besar. Oleh karena itu, ia mencoba memfasilitasi komunitas Lar Gangsir untuk dapat membuat aktivitas perkerisan di antara anggota-anggotanya. Omah Dhuwung menjadi sebuah tempat yang menyediakan ruang untuk pameran, pertemuan, dan kegiatan terkait keris. Dengan adanya tempat seperti Omah Dhuwung, diharapkan budaya keris Jogja dapat tetap relevan di masa modern dan tetap menjadi bagian dari tradisi dan sejarah Indonesia.
Heading 2: Pameran dan Pasar Sasen
Selain pameran “Kebo Nirbaya”, pameran ini juga menyelenggarakan kegiatan yang disebut “Pasar Sasen”. Pasar Sasen merupakan pasar yang hanya dilaksanakan sebulan sekali selama dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu di pekan pertama. Pasar ini menyediakan berbagai produk dan kerajinan terkait keris, sehingga para pengunjung dapat membeli dan menjelajahi dunia keris lebih dalam. Pameran “Kebo Nirbaya” dan Pasar Sasen dapat disaksikan di Omah Dhuwung hingga tanggal 14 Maret 2021 dengan tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19.
Dalam kesimpulannya, pameran Keris “Kebo Nirbaya” di Omah Dhuwung merupakan sebuah acara yang menarik minat para pencinta keris. Dengan memamerkan keris dari berbagai daerah dan era, pameran ini memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk belajar lebih banyak tentang keris dan keberagaman budaya di Indonesia. Komunitas Lar Gangsir juga berperan penting dalam melestarikan budaya keris dan mempromosikannya kepada masyarakat. Melalui pameran dan kegiatan lainnya seperti Pasar Sasen, pameran ini berhasil membuat keris tetap relevan di masa modern dan menjadi bagian dari tradisi dan sejarah Indonesia.