Ngrapyak Sendang
Ulasan
Gondangan adalah sebuah pedusunan yang terletak di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Pedusunan ini berada di pedalaman pegunungan Seribu dengan ketinggian sekitar 200-300 meter di atas permukaan air laut. Untuk mencapai dusun Gondangan, kita harus melewati jalan desa yang tidak beraspal yang menanjak dan terletak di tebing pegunungan. Di samping jalan desa tersebut terdapat jurang yang cukup dalam. Letak dusun Gondangan yang berada di pedalaman membuatnya sulit dijangkau, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan keindahan alam yang masih alami.
Dalam dusun Gondangan, mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani ladang. Mereka hidup sederhana dan bergantung pada hasil bumi. Salah satu hal yang menarik dari penduduk dusun Gondangan adalah kehati-hatian mereka dalam menggunakan air. Air sangat berharga bagi mereka, terutama untuk kebutuhan air minum dan memasak. Penduduk dusun Gondangan mengambil air dari Sendangreja yang dipercayai ditunggui oleh dhanyang wanita bernama Raden Ayu Ambar Wungu. Menurut kepercayaan setempat, dhanyang ini memiliki saudara laki-laki bernama Raden Bagus Gandhungmlathi yang tinggal di lereng Gunung Merapi.
Upacara Ngrapyak Sendang merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh penduduk dusun Gondangan. Ngrapyak Sendang berasal dari kata “krapyak” yang berarti “pagar”. Upacara ini dilakukan jika pagar sendang rusak. Tujuan dari upacara Ngrapyak Sendang adalah untuk memohon kepada Yang Maha Agung melalui dhanyang Raden Ayu Ambar Wungu dan Raden Bagus Damarjati agar air Sendangreja tetap mencukupi kebutuhan air seluruh penduduk.
Pelaksanaan upacara Ngrapyak Sendang biasanya dilakukan pada hari Jumat Kliwon sekitar pukul 12.30 WIB. Namun, bulan dan tanggalnya tidak ditentukan karena bergantung pada kondisi pagar sendang. Jika pagar sendang tidak segera diperbaiki, penduduk dusun Gondangan akan merasa tidak tenteram. Mereka akan mudah emosi, tanaman mereka akan gagal, dan hampir semua kegiatan mereka tidak akan membawa hasil. Penduduk dusun Gondangan percaya bahwa hal ini terkait erat dengan sikap mereka yang tidak segera memperbaiki pagar sendang. Mereka meyakini bahwa dhanyang penunggu sendang merasa tidak diperhatikan sehingga menjadi marah.
Oleh karena itu, kepala dusun mengadakan musyawarah bersama pinisepuh, panembahan, dan tokoh masyarakat untuk menyelenggarakan upacara adat Ngrapyak Sendang. Karena pagar lama sudah rusak, diperlukan bambu baru yang akan digunakan sebagai pagar. Bambu yang dipilih adalah pring putih atau pring apus. Penebangan bambu harus dilakukan sebulan sebelum pelaksanaan upacara. Mendekati hari pelaksanaan, semua penduduk dusun Gondangan bergotong royong dalam membuat pagar yang melingkar. Penebangan bambu untuk pagar sendang dilakukan pada pasaran Pahing dan tidak disertai dengan selamatan.
Prosesi upacara Ngrapyak Sendang diikuti oleh seluruh penduduk dusun Gondangan yang berjumlah sekitar 77 kepala keluarga. Upacara tersebut dilengkapi dengan sesajian yang terdiri dari nasi tumpeng, golong, ambeng, ingkung ayam jantan, rujak degan, lauk pauk, empon-empon, dan rokok putih. Setiap kepala keluarga membawa rangkaian sesaji ke sendang untuk didoakan oleh Rois. Juru Kunci dan Panembahan bertugas untuk membakar kemenyan selama kenduri berlangsung. Kaum perempuan mengikuti rangkaian upacara dari luar pagar. Setelah kenduri selesai, para penduduk dapat menikmati sesaji bersama dan membawa pulang sebagai ngalap berkah.
Rangkaian terakhir dari upacara Ngrapyak Sendang adalah hiburan kesenian berupa Jathilan atau Jaran Kepang. Terkadang acara ini juga diisi dengan Tayuban sebagai penutup seluruh rangkaian upacara adat Ngrapyak Sendang. Hiburan ini memberikan kegembiraan dan keceriaan bagi seluruh penduduk dusun Gondangan setelah melalui prosesi upacara yang khidmat.
Tradisi Ngrapyak Sendang merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan. Upacara ini tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan kepada Yang Maha Agung, tetapi juga sebagai bentuk kebersamaan dan persatuan antara penduduk dusun Gondangan. Melalui upacara ini, mereka belajar untuk saling gotong royong dan menjaga lingkungan sekitar agar tetap terjaga kelestariannya. Upacara Ngrapyak Sendang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana adat yang kental dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Dengan menjaga dan melestarikan tradisi Ngrapyak Sendang, kita dapat memperkuat jati diri sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi. Budaya adalah salah satu identitas kita sebagai bangsa dan menjadi ciri khas yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, mari kita lestarikan tradisi-tradisi adat kita, termasuk tradisi Ngrapyak Sendang, agar budaya kita tetap hidup dan berkembang.