Neni Kedai Kebun

Neni Kedai Kebun

Ulasan

Memiliki sebuah bangunan yang didalamnya terdapat restoran, galeri, dan ruang pertunjukan, bukanlah cita-cita awalnya untuk memiliki tempat tersebut. Ia merasa mengelola sebuah galeri, ruang pertunjukan sekaligus restoran sangatlah sulit. Meskipun bergerak pelan, akhirnya Neni, demikian panggilan pendeknya, yang lahir di Yogyakarta 16 Juni 1969 ini mempunyai semuanya tempat itu.

Adalah Kedai Kebun Forum (KKF), yang merupakan ruang seni alternatif di Yogyakarta yang ia kelola secara independen bersama suaminya Agung Kurniawan, seorang seniman, serta rekan-rekan seniman yang lain. KKF berdiri pada Desember 1997. Tempat tersebut menjadi sebuah restoran yang sangat elit, mahal dan memiliki cukup luas ruangan kosong serta kebun yang hijau. Oleh perempuan yang mempunyai wajah manis dan berkulit sawo matang ini kebun hijau itu dimanfaatkan secara rutin dan terjadwal untuk kegiatan kesenian seperti pameran seni rupa, pertunjukan teater, pentas musik, tarian, pembacaan puisi atau cerpen dan diskusi-diskusi budaya.

Pada awalnya, aktifitas di restoran dan ruangan yang kosong itu berlangsung “harmonis”. Sayangnya, setelah itu muncul peristiwa-peristiwa yang berlangsung di kedua ruang itu saling “mengintimidasi” satu sama lain. Pasalnya, Neni dan suaminya sering membuat pertunjukan-pertunjukan yang tidak lumrah, misal pertunjukan yang eksperimental seperti tarian dengan menggunakan ular dan sang penari bugil.

Melihat hal itu terkadang pengunjung restoran merasa terganggu. Tetapi bila kemudian ada niat mengadakan pertunjukan yang menggangu penonton itu adalah niat konseptual dari seorang seniman. Akhirnya pada Desember 2001, dibantu adiknya yang juga seorang arsitek, Neni merenovasi bangunan tersebut.

Renovasi bangunan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai Mei 2003. Sebab, bangunan baru ditambah dengan ruang pertunjukan alternatif yang memenuhi standar akustik dengan biaya rendah. Dengan semangat berpetualangnya, Neni mulai menemukan jenis batu akustik yaitu Batagama yang diperolehnya dari penduduk Desa Bawuran, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Berawal dari minimnya pengalaman yang dipunyainya, perempuan berkacamata ini mulai belajar mengatur berbagai urusan untuk mendukung apresiasi seni, untuk kemajuan kebudayaan di Yogyakarta. Semua itu berjalan begitu saja. Sampai suatu hari, banyak sekali pertunjukan-pertunjukan yang di gelar ditempatnya. Pemilik hobi nonton kesenian, memasak dan berkebun ini, sangat beruntung karena banyak orang ingin mempunyai tempat seperti yang ia miliki.

Pada dasarnya Neni merupakan tipe orang yang tidak cukup punya keberanian mencoba makanan baru. Padahal di restoran dengan 9 karyawan ini menyajikan masakan Eropa yang sebenarnya Neni sendiri tidak cocok. Sesaat kemudian ia mengubah menunya. Problem yang saat ini dihadapi adalah perubahan baru dari segi pemasukan restoran. Sebenarnya KKF terkenal dengan kebunnya yang indah, hijau dan tempatnya yang sangat private. Sayangnya, konsep itu hilang begitu saja. Banyak pengunjung yang kecewa dengan perubahan itu. Padahal banyak pihak yang meminta agar Restoran KKF dimasukan kedalam travel books.

Sebetulnya, pihak KKF sendiri masih membangun kembali “suasana lama” tersebut. Itu terlihat pada bangunan yang sekarang dengan membuat satu ruangan untuk mengganti satu atmosfer yang dulu pernah dimiliki KKF. Yang pasti, perlu waktu yang lama untuk mengembalikan nuansa lama yang pernah ada. KKF diciptakan untuk memberikan kepuasan bagi diri Neni sendiri. Bukannya bagaimana pengunjung merasa puas pada tempat yang dikelolanya itu.

Bisa jadi, ada semacam egoisme ketika membangun KKF karena tempat itu dibangun atas dasar semangat individualisme. Bahwa Neni membangun sesuatu yang ia suka. Dengan harapan, apa yang ia sukai mungkin disukai orang lain.

PROGRAM khusus yang dibuat oleh Neni dan KKF adalah “Monday Movement”. Program ini bertujuan mencetak koreografer muda. Saat ini mencari koreografer-koreografer muda tarian sangat sulit dan penghargaan terhadap penciptaan tari sangatlah kurang. Padahal pada tahun 2003-2004, income terbesar KKF berasal dari pertunjukan-pertunjukan tari.

Oleh karena itulah, KKF sangat mendukung setiap seniman yang akan menampilkan karya-karya tarinya. Ruang pertunjukan KKF tidak disewakan. Tetapi para pengguna atau seniman hanya membayar listrik dan kebersihan tempatnya saja. Sedangkan bagi pengguna yang tidak berhubungan dengan seni, mereka diharuskan membayar uang sewa. Tidak semua seniman dapat mementaskan karyanya di KKF. Sebabnya KKF tidak mengharapkan suatu pertunjukan seperti “pasar malam” yang tidak menarik lagi. KKF mempunyai kebebasan untuk memilih, demi kemajuan KKF sendiri.

Selama seniman bisa mengolah seninya, berangkat dari ruang, dan selama seniman itu datang sendiri, melihat ruangnya, maka sewanya akan lebih murah. Sebaliknya, apabila seniman itu datang sudah dengan karyanya yang jadi, dan hanya meminjam ruangannya, maka sewanya akan lebih tinggi. Maka seorang seniman harus melakukan eksplorasi terlebih dahulu: datang, melihat, dan menkaji KKF itu tempat apa, komunitasnya seperti apa, penontonnya, dan jenis musiknya misalnya. Sehingga seni yang Neni buat adalah seni organik, bukan seni yang instant.

Kesulitan dalam Mengelola Tempat Seni

Mengelola sebuah tempat seni seperti Kedai Kebun Forum (KKF) bukanlah hal yang mudah. Neni, yang merupakan pengelola KKF, mengakui bahwa awalnya ia tidak pernah bermimpi memiliki sebuah tempat seni yang menyatukan restoran, galeri, dan ruang pertunjukan. Namun, dengan semangat dan kerja kerasnya, Neni berhasil mewujudkan tempat seni yang menjadi salah satu ikon di Yogyakarta.

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh Neni adalah menjaga keseimbangan antara restoran dan ruang seni. Pada awalnya, Neni dan suaminya sering membuat pertunjukan-pertunjukan yang kontroversial di ruang pertunjukan KKF. Misalnya, mereka pernah membuat pertunjukan tarian dengan menggunakan ular dan sang penari bugil. Meskipun pertunjukan tersebut memiliki nilai seni yang tinggi, namun tidak sedikit pengunjung restoran yang merasa terganggu.

Kesulitan lain yang dihadapi oleh Neni adalah perubahan konsep restoran KKF. Restoran ini awalnya terkenal dengan kebunnya yang indah, hijau, dan tempatnya yang sangat private. Namun, perubahan konsep yang dilakukan oleh Neni telah menyebabkan kekecewaan bagi sebagian pengunjung. Meskipun Neni dan tim KKF sedang berusaha membangun kembali “suasana lama”, namun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan nuansa yang pernah ada.

Selain itu, Neni juga menghadapi kesulitan dalam mengelola restoran. Neni sendiri mengaku bahwa pada dasarnya ia tidak cukup memiliki keberanian mencoba makanan baru. Restoran KKF awalnya menyajikan masakan Eropa yang sebenarnya tidak cocok dengan selera Neni. Oleh karena itu, Neni kemudian mengubah menu restoran KKF agar lebih sesuai dengan selera dirinya dan pengunjung.

Keberhasilan KKF dalam Dukungan Terhadap Seniman

Meskipun menghadapi berbagai kesulitan dalam mengelola KKF, Neni juga telah berhasil menciptakan sebuah program yang bertujuan untuk mendukung seniman muda. Program “Monday Movement” yang dibuat oleh Neni dan KKF bertujuan untuk mencetak koreografer muda. Program ini sangat penting mengingat sulitnya mencari koreografer-koreografer muda tarian dan kurangnya penghargaan terhadap penciptaan tari.

Dalam mendukung seniman yang akan menampilkan karya-karya tarinya, KKF tidak mengenakan biaya sewa ruang pertunjukan. Para seniman hanya perlu membayar listrik dan kebersihan tempatnya saja. Hal ini bertujuan untuk membantu seniman dalam memperlihatkan karya-karya mereka tanpa harus memikirkan biaya sewa yang tinggi. Namun, tidak semua seniman dapat mementaskan karyanya di KKF. KKF memiliki kebebasan untuk memilih pertunjukan yang sesuai dengan visi dan misi KKF.

Dalam menghadapi perubahan konsep restoran, KKF juga sedang berusaha untuk membangun kembali “suasana lama” yang pernah ada. Hal ini terlihat pada bangunan KKF yang sekarang, dimana satu ruangan dibuat untuk mengganti satu atmosfer yang dulu pernah dimiliki KKF. Meskipun membutuhkan waktu yang lama, Neni dan tim KKF berkomitmen untuk mengembalikan nuansa lama yang pernah ada.

Kesulitan dalam Koordinasi Seniman di Yogyakarta

Neni, sebagai penggemar kesenian, mengaku sering merasa kecewa dengan kurangnya koordinasi antara seniman di Yogyakarta. Menurutnya, para seniman seringkali tidak melakukan koordinasi sehingga pertunjukan-pertunjukan seni di Yogyakarta tidak bisa dinikmati secara keseluruhan oleh penonton. Neni berharap para seniman dapat melakukan koordinasi untuk memastikan bahwa pertunjukan seni dapat dinikmati oleh semua penonton.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran Neni adalah mengapa pertunjukan seni selalu dilakukan pada malam hari. Neni berpikir bahwa jika pertunjukan seni dilakukan pada sore hari, semua penonton dapat menikmati seluruh pertunjukan seni yang ada. Selain itu, dengan melakukan perubahan tersebut, pertunjukan seni di Yogyakarta juga bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim.

Neni juga berharap bahwa KKF dapat menjadi tempat yang mampu melahirkan generasi seniman muda yang akan memperkaya khasanah seni di komunitasnya. KKF juga diharapkan dapat menjadi ruang bermain yang memperkaya pilihan akan ruang-ruang alternatif. Dengan demikian, seniman-seniman muda di Yogyakarta dapat memiliki tempat untuk mengekspresikan karya-karya mereka.

Kesimpulan

Dalam mengelola tempat seni seperti Kedai Kebun Forum (KKF), Neni menghadapi berbagai kesulitan. Salah satu kesulitan utama yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara restoran dan ruang seni. Neni juga menghadapi kesulitan dalam mengelola restoran yang menyajikan masakan Eropa, meskipun ia sendiri tidak terlalu menyukainya. Selain itu, perubahan konsep restoran KKF juga menyebabkan kekecewaan bagi sebagian pengunjung.

Namun demikian, KKF juga berhasil menciptakan program “Monday Movement” yang bertujuan untuk mendukung seniman muda. KKF juga memberikan kesempatan kepada seniman untuk menampilkan karya-karya mereka tanpa harus membayar biaya sewa ruang pertunjukan. Selain itu, KKF juga sedang berusaha untuk membangun kembali “suasana lama” yang pernah ada.

Dalam melihat kesenian di Yogyakarta, Neni merasa kecewa dengan kurangnya koordinasi antara seniman. Ia berharap para seniman dapat melakukan koordinasi sehingga semua penonton dapat menikmati seluruh pertunjukan seni yang ada. Neni juga berharap bahwa KKF dapat menjadi tempat yang mampu melahirkan generasi seniman muda yang akan memperkaya khasanah seni di komunitasnya.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *