Ndaru, Dalang Cilik yang Membuktikan Mendalang Tidak Kenal Umur



Wayang merupakan salah satu kesenian yang sangat identik dengan kalangan orang tua atau dewasa. Namun, tahukah Anda bahwa ada seorang anak kecil berusia 9 tahun yang mampu menjadi dalang wayang? Bernardus Handaru Gantari, yang akrab dipanggil Ndaru, adalah seorang anak kecil yang memiliki minat dan bakat dalam dunia wayang.

Awalnya, minat Ndaru terhadap wayang muncul ketika ia mulai mengajukan berbagai pertanyaan tentang tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Sejak usia tiga tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia wayang. Ibunya, Ginong Pratina, mengisahkan bahwa ia membelikan poster yang berisikan tokoh-tokoh wayang untuk Ndaru. Dari poster tersebut, minat dan ketertarikan Ndaru semakin memuncak.

Tina, sapaan akrab ibu Ndaru, kemudian membelikan buku Mahabharata yang tebal untuknya. Setiap malam, Tina membacakan buku tersebut untuk Ndaru. Setelah selesai membaca satu cerita, Ndaru selalu meminta untuk dibacakan kisah lanjutannya, meskipun ia sudah mampu membaca sendiri. Bahkan, setelah Tina tertidur, Ndaru masih melanjutkan membaca buku tersebut sendirian.

Keingintahuan dan minat Ndaru terhadap dunia wayang semakin dalam. Saat ia berada di TK Nol besar, Ndaru bahkan membuat buku cerita bersama teman-temannya sebagai tugas sekolah. Mereka mengarang kisah tentang Pandawa Lima, salah satu cerita dalam Mahabharata.

Perjalanan sebagai dalang Ndaru dimulai dari Hari Anak Misioner di gereja. Di acara tersebut, Ndaru tampil sebagai dalang dengan skenario yang ia tulis sendiri. Ia merasa senang karena wayang adalah kesenian yang unik dan merupakan bagian dari budaya adiluhung yang harus dilestarikan. Ia juga menyadari bahwa bentuk wayang sangat beragam, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang nadanya rendah, ada yang tinggi.

Pada tahun 2019, Ndaru ingin mengikuti Festival Dalang Anak (FDA) Sleman, namun pada saat itu ia masih berusia tujuh tahun dan belum memenuhi syarat umur untuk mengikuti festival tersebut. Namun, Ndaru mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai peserta penggembira dalam acara tersebut yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Sleman. Inilah momen pertama Ndaru tampil dengan format lengkap sebagai dalang. Ia membawakan lakon “Semar Boyong”.

Melalui festival ini, Ndaru bertemu dengan guru mendalangnya saat ini, yaitu Ki Sudiyono Cermo Kondo. Setiap ada pagelaran wayang di desa yang didalangi oleh Ki Sudiyono, Ndaru selalu ikut menjadi dalang pembuka. Penampilannya yang menarik perhatian membuat Ndaru mendapatkan undangan untuk mendalang di berbagai tempat, termasuk membuka pertunjukan untuk almarhum Ki Seno Nugroho pada Maret 2020.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, banyak pagelaran wayang yang harus dibatalkan. Ndaru pun menghabiskan waktunya dengan menggambar, menulis skenario, dan membaca. Ia juga sering mengunjungi sanggar Ki Sudiyono untuk terus mengasah kemampuannya dalam mendalang.

Pada tahun 2020, Ndaru yang sudah berusia delapan tahun akhirnya bisa mengikuti Festival Dalang Anak Sleman sebagai peserta. Ia berhasil meraih juara ketiga dengan membawakan lakon “Aji Narantaka”. Kesuksesannya dalam festival ini membuat Ndaru mendapatkan berbagai undangan untuk tampil di berbagai tempat, termasuk dari Magelang, Bantul, dan Balikpapan.

Ndaru mengaku bahwa bagian favoritnya dalam mendalang adalah jalan ceritanya. Ia selalu didorong oleh ibunya untuk membaca banyak buku. Tina percaya bahwa dengan membaca, minat seorang anak akan ditemukan dengan lebih mudah. Meskipun demikian, Ndaru tidak pernah merasa grogi sebelum tampil sebagai dalang. Selama enam tahun menekuni dunia wayang, ia tidak pernah merasa jenuh. Ia sangat mengidolakan almarhum Ki Seno Nugroho, seorang dalang terkenal yang memiliki suara khas dan gaya sulukan yang khas pula.

Tina, sebagai ibu Ndaru, selalu mendukungnya dalam kegiatan mendalang. Di rumah, ayah Ndaru juga memfasilitasi kegiatan mendalang dengan menyediakan berbagai perlengkapan seperti kelir, keprak, cempala, wayang, dan blencong. Jika Ndaru ditinggal di rumah, ia akan mengadakan pertunjukan wayang sendiri. Kegiatan ini menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar yang sering mendengar suara dalang Ndaru di malam hari.

Tidak hanya menjadi dalang seorang diri, Ndaru juga berhasil mengajak teman-temannya untuk menyukai wayang dan mendalang. Pada Festival Dalang Anak Sleman 2021, ada dua orang peserta yang merupakan teman yang diajak oleh Ndaru.

Meski masih berusia sangat muda, Ndaru memiliki cita-cita untuk tetap menjadi dalang hingga dewasa nanti. Ia bahkan sudah mencari-cari institusi tinggi yang dapat membantunya dalam memperdalam ilmu wayang. Namun, Ndaru juga memiliki cita-cita lain, yaitu ingin menjadi seorang Romo.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai dalang cilik, Ndaru telah menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk mengejar minat dan bakat yang dimiliki. Dukungan dan dorongan dari orang tua serta lingkungan sekitarnya sangat berperan penting dalam mengembangkan potensi anak. Ndaru adalah contoh nyata bahwa anak-anak juga mampu menguasai dan menghargai budaya warisan nenek moyang seperti wayang. Semoga Ndaru terus menginspirasi banyak anak-anak lainnya untuk menjaga dan melestarikan kesenian wayang.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *