Museum Dan Tanah Liat Yogyakarta adalah sebuah tempat seni yang memiliki sejarah dan perjalanan yang menarik. Museum ini didirikan oleh Ugo Untoro pada tahun 1998 sebagai studio seni untuk berkarya dan tempat berkumpul para seniman. Awalnya, studio ini hanya berfokus pada seni lukis, namun seiring berjalannya waktu, studio ini mengembangkan jenis kegiatan lain seperti siaran radio komunitas, riset tentang film, dan pengembangan pembuatan film independen. Dengan semakin berkembangnya kegiatan di studio ini, nama studio tanah liat pun berganti menjadi Museum Dan Tanah Liat (MDTL).
MDTL juga sering disebut sebagai “open house area” karena menjadi tempat singgah para seniman dan tempat untuk mengembangkan bakat mereka. Selain itu, MDTL juga mengoleksi karya-karya seni dari berbagai seniman muda untuk dipublikasikan kepada khalayak umum. Dengan berganti nama menjadi MDTL, museum ini semakin padat program kegiatannya, seperti menggelar pameran seni dan diskusi tentang seni, sosial, kebudayaan, dan lain sebagainya. Museum ini sangat ramai dikunjungi setiap harinya oleh para seniman maupun masyarakat umum.
Salah satu faktor kesuksesan MDTL adalah kerjasama dan kolaborasi yang baik dengan berbagai “kantong seni” lainnya. Personil MDTL selalu melakukan kunjungan ke berbagai tempat seni untuk memelihara hubungan yang sudah terjalin baik, menambah wawasan, dan saling tukar informasi. Hal ini menjadi salah satu cara MDTL dalam menciptakan komunitas seni yang selalu menyerap perubahan yang terjadi dan merefleksikannya dalam kreativitas tanpa batas.
Dalam menjalankan program kegiatannya, MDTL selalu melakukan koordinasi baik dari luar maupun dari dalam museum itu sendiri. Selain itu, dukungan finansial juga menjadi salah satu penopang yang signifikan dari setiap kegiatan dan operasional setiap hari. MDTL dengan senang hati menerima bantuan dana dari pihak yang sevisi dengan mereka untuk menjalankan program-program mereka.
Museum Dan Tanah Liat memiliki jam buka yang fleksibel, yaitu Senin – Minggu pukul 09.00 – 21.00 WIB. Namun, pengunjung juga bisa melakukan perjanjian terlebih dahulu jika ingin mengunjungi museum di luar jam buka tersebut. Museum ini memiliki program tetap seperti pameran seni dan siaran radio. Selain itu, MDTL juga telah melaksanakan berbagai program seperti pameran seni “DOLANAN”, pameran tunggal patung dan lukisan Supar Madiyanto, pameran tunggal tiga dimensi Yopie Cahyo Basuki, dan masih banyak lagi.
Visi dari Museum Dan Tanah Liat adalah memfungsikan museum sebagai penyimpan dan pelaksana pameran karya seniman muda, baik yang sudah terkenal maupun yang belum terkenal. Museum ini juga ingin mengubah persepsi masyarakat tentang museum yang terkesan angker, gelap, dan megah menjadi tempat yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Selain itu, MDTL juga ingin menjadi museum seni yang berfungsi secara penuh, karena saat ini Yogyakarta sebagai kota seni belum memiliki museum seni yang representatif. MDTL juga memiliki misi untuk mengadakan pameran secara berkala, mendokumentasikan karya seniman-seniman muda, dan menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat sekitar tentang keberadaan dan fungsi museum.
Banyak seniman muda yang berpameran di Museum Dan Tanah Liat. Mereka adalah seniman-seniman muda yang berkarya intens, memiliki daya cipta tinggi, dan terus belajar atau tetap hidup total di dalam seninya. Usia dan status kewarganegaraan bukanlah faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan seniman yang akan berpameran di MDTL.
Sebagai kesimpulan, Museum Dan Tanah Liat Yogyakarta adalah sebuah tempat seni yang memiliki perjalanan dan kontribusi yang berharga dalam dunia seni di Yogyakarta. Dengan program-programnya yang beragam dan kolaborasi yang baik dengan komunitas seni lainnya, MDTL terus berusaha menjadi tempat yang inspiratif dan bermanfaat bagi para seniman dan masyarakat umum. Melalui pameran seni, siaran radio, dan kegiatan lainnya, museum ini menjadi wadah bagi seniman-seniman muda untuk berkarya dan mengembangkan bakat mereka. Dengan visi dan misinya yang jelas, MDTL berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi dalam pengembangan dunia seni di Indonesia.