Mozaik Limbah Tempurung Kelapa Jon Paul Irwan



Lukisan tempurung kelapa karya Jon Paul Irwan telah menjadi eksperimen medium yang menarik perhatian banyak orang. Irwan memulai eksperimen ini sejak 15 tahun yang lalu, ketika ia melihat tempurung kelapa yang banyak dijumpai di Pasar Hewan Kuncen Yogyakarta dan hanya berakhir menjadi arang untuk kayu bakar. Keisengan inilah yang kemudian menginspirasi Irwan untuk memanfaatkan tempurung kelapa sebagai medium lukisan potret.

Irwan memilih tempurung kelapa karena ia melihat potensi dalam bahan ini untuk dijadikan mozaik lukisan potret. Dalam proses pembuatannya, Irwan menggunakan tempurung kelapa yang sudah dipotong kecil-kecil dan disusun rapi sesuai dengan sketsa yang dibuat di atas papan. Ia tidak menggunakan pewarna tambahan, melainkan memanfaatkan gradasi warna alami tempurung kelapa untuk menciptakan karya seni yang unik dan menarik.

Dalam karya lukisan tempurung kelapa yang berjudul ‘Seventh’, Irwan membentuk pola angka tujuh yang merupakan sebuah pertanyaan siapa yang akan menjadi Presiden RI yang ketujuh. Karya ini dipamerkan di Studio Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta dan menjadi perbincangan di kalangan seni rupa Yogyakarta. Meskipun Irwan tidak begitu dikenal dalam kalangan seni rupa, ia berhasil menarik perhatian dengan karyanya yang unik dan penuh makna.

Selain membuat potret tokoh nasional-dunia seperti Presiden RI pertama Ir. Soekarno, komponis Gesang, Sri Sultan Hamengku Buwana IX, Mahatma Gandhi, dan Albert Einstein, Irwan juga menciptakan lukisan series potret pesepakbola dunia. Dalam karya-karyanya ini, Irwan menggunakan medium tempurung kelapa dan resin di atas papan. Lukisan potret pesepakbola dunia ini dibuat dalam ukuran masing-masing 30 cm x 40 cm, sedangkan potret tokoh lainnya memiliki beragam ukuran. Potret mozaik pelukis maestro Affandi bahkan menjadi karya lukisan potret mozaik terbesar yang pernah dibuat oleh Irwan.

Meskipun membuat lukisan potret tempurung kelapa masih sebatas hobi bagi Irwan, ia telah mengembangkan usaha kaos limited production dengan brand The Black Squad. Selama tiga tahun terakhir, Irwan telah memproduksi kaos/t-shirt oblong dengan desain yang dibuat sendiri dalam produksi terbatas. Selain itu, Irwan juga terlibat dalam pengembangan usaha perikanan warga yang memanfaatkan jaringan irigasi di sekitar studionya. Melalui usaha ini, Irwan berusaha untuk membersihkan jaringan irigasi yang digunakan untuk pemeliharaan ikan dan mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah di aliran irigasi tersebut.

Namun, Irwan menghadapi kendala dalam mengembangkan usaha perikanan ini. Sampah yang dibuang ke sungai, badan air, ataupun jaringan irigasi masih menjadi masalah utama di wilayah Yogyakarta. Irwan dan timnya telah berusaha membersihkan jaringan irigasi dan mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah di dalamnya, namun masih banyak yang belum sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Irwan berharap dengan adanya usaha perikanan ini, jaringan irigasi dapat tetap bersih dan sehat, serta menjadi tempat tujuan wisata bagi masyarakat sekitar.

Di tengah kesibukannya mengembangkan usaha kaos limited production dan usaha perikanan, Irwan tetap melanjutkan eksperimennya dalam membuat lukisan potret tempurung kelapa. Ia masih terus menciptakan karya-karya unik dan menarik dengan memanfaatkan medium ini. Dalam setiap karya yang dibuatnya, Irwan tidak hanya menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah bahan, tetapi juga menghadirkan makna dan pesan yang mendalam.

Lukisan-lukisan tempurung kelapa karya Jon Paul Irwan telah menjadi bukti bahwa seni dapat diciptakan dari berbagai bahan dan medium yang tidak lazim. Irwan telah membuktikan bahwa tempurung kelapa, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah, dapat dijadikan medium lukisan yang menarik dan memiliki nilai seni yang tinggi. Karya-karya Irwan juga menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Dalam perjalanan kariernya, Irwan mungkin belum begitu dikenal di kalangan seni rupa Yogyakarta. Namun, dengan karya-karya yang ia ciptakan, Irwan telah menunjukkan bakat dan kepiawaian dalam mengolah medium tempurung kelapa menjadi lukisan potret yang unik dan menarik. Dengan terus mengembangkan karya-karyanya, tidak menutup kemungkinan bahwa Irwan akan semakin dikenal dan diakui di dunia seni rupa.

Melalui eksperimennya dalam membuat lukisan potret tempurung kelapa, Jon Paul Irwan telah menginspirasi banyak orang untuk melihat potensi dalam bahan-bahan yang sederhana dan tidak terduga. Ia juga telah mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan menjaga kebersihan jaringan irigasi yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Semoga karya-karya Irwan dapat terus menginspirasi dan mengajak banyak orang untuk menjadi lebih kreatif serta peduli terhadap lingkungan sekitar.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *