Songgo Buwono adalah makanan yang berasal dari ide Sultan HB VII yang hadir di Pasar Kangen Jogja 2016. Makanan langka ini ternyata memiliki makna filosofis yang dalam. Songgo Buwono berhasil menarik perhatian pengunjung Pasar Kangen Jogja 2016 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada tanggal 21 Juli 2016. Makanan kesukaan Sultan Hamengku Buwono VII tersebut laris manis dan terjual habis dalam waktu dua jam.
Dimas Putra, penjual Songgo Buwono, menjelaskan bahwa nama Songgo Buwono memiliki arti sebagai penyangga alam semesta. Nama tersebut terdiri dari kata “songgo” atau “sangga” yang berarti penyangga, dan “buwono” yang berarti alam semesta. Dimas mendapatkan inspirasi untuk menjual Songgo Buwono saat ia melintas di jalan Magelang, Yogyakarta dan memperhatikan bahwa makanan dari luar Yogyakarta lebih banyak dikenal dibandingkan makanan tradisional. Hal ini membuatnya penasaran dan ia mulai mencari informasi mengenai makanan-makanan khas yang mulai punah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Dimas pun memiliki ide untuk memunculkan kembali Songgo Buwono. Sebelum memulai usaha jualan, ia meminta pendapat temannya untuk melihat reaksi yang muncul. Temannya memberikan respons positif dan menyatakan bahwa ia hanya biasa makan Songgo Buwono di acara pernikahan, sedangkan sehari-hari makanan tersebut sudah jarang ditemui.
Menurut Dimas, Songgo Buwono bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna yang mendalam. Menu Songgo Buwono terdiri dari daging ayam atau sapi, roti sus, telur, acar, kuah, dan selada. Selada yang berada di bawah melambangkan tumbuhan yang menjaga dan menjadi sumber kehidupan di bumi. Roti sus melambangkan bumi itu sendiri. Daging kambing melambangkan penduduk bumi. Telur melambangkan gunung. Kuah melambangkan langit. Sedangkan acar melambangkan bintang-bintang di langit.
Selain memiliki makna filosofis, Songgo Buwono juga diklaim sebagai makanan yang bergizi. Meskipun mirip dengan burger, namun semua bahan yang digunakan bebas dari pengawet. Hal ini membuat Songgo Buwono memiliki kualitas yang baik dan tidak mudah busuk. Dimas merasa senang dengan respon yang diterima selama Pasar Kangen Jogja 2016. Makanan ini berhasil mengobati rasa kangen para orang tua dan membuat anak-anak muda terkagum-kagum. Mereka bertanya-tanya apakah makanan ini ada di Jogja.
Pasar Kangen Jogja 2016 merupakan ajang yang sukses bagi Dimas dan Songgo Buwono. Makanan ini terjual habis hanya dalam waktu dua jam, bahkan porsi tambahan yang disediakan juga habis dalam waktu setengah jam. Satu porsi Songgo Buwono dijual dengan harga Rp. 10.000,00.
Pasar Kangen Jogja 2016 menjadi suatu kesempatan bagi masyarakat untuk mengenang dan menikmati makanan tradisional yang sudah mulai terlupakan. Dengan kehadiran Songgo Buwono, masyarakat dapat kembali mengenal dan menikmati makanan khas Jogja yang penuh dengan makna filosofis.
Albertus Indratno, editor dari www.exploreyogya.com menyampaikan bahwa Songgo Buwono merupakan salah satu makanan yang berhasil menarik perhatian pengunjung Pasar Kangen Jogja 2016. Keberhasilan makanan ini tidak lepas dari makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Selain itu, Songgo Buwono juga memiliki rasa yang enak dan bergizi. Makanan ini berhasil mengobati rasa kangen masyarakat terhadap makanan tradisional Jogja.
Dengan adanya Songgo Buwono, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan makanan tradisional. Makanan tradisional bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga merupakan bagian dari budaya dan identitas suatu daerah. Dengan mempertahankan dan menghidupkan makanan tradisional, kita juga turut melestarikan warisan budaya yang berharga.
Pasar Kangen Jogja 2016 menjadi bukti bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Meskipun makanan-makanan dari luar Yogyakarta semakin populer, namun makanan tradisional Jogja seperti Songgo Buwono tetap memiliki daya tarik tersendiri. Melalui acara seperti Pasar Kangen Jogja 2016, makanan tradisional Jogja dapat dikenal oleh lebih banyak orang dan tetap lestari di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Dalam kesempatan ini, kita juga dapat belajar tentang pentingnya melestarikan dan menghargai makanan tradisional. Makanan tradisional bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan cerminan dari sejarah, budaya, dan identitas suatu daerah. Dengan mempelajari dan memahami makanan tradisional, kita dapat lebih menghargai warisan budaya yang ada.
Selain itu, mengenal makanan tradisional juga dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keanekaragaman kuliner di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan tradisional yang unik dan khas. Dengan mempelajari makanan tradisional dari berbagai daerah, kita dapat menikmati kekayaan kuliner Indonesia yang beragam.
Oleh karena itu, kita semua perlu berperan aktif dalam melestarikan dan menghargai makanan tradisional. Kita dapat mulai dengan mengenal dan mencoba makanan tradisional dari daerah kita masing-masing. Selain itu, kita juga dapat mendukung usaha-usaha kecil yang menjual makanan tradisional, seperti yang dilakukan oleh Dimas Putra dengan Songgo Buwono.
Dengan melestarikan makanan tradisional, kita turut melestarikan warisan budaya yang berharga. Makanan tradisional adalah bagian penting dari identitas suatu daerah dan merupakan cerminan dari sejarah dan budaya yang telah ada sejak lama. Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan makanan tradisional untuk generasi mendatang.