Memaknai Pisang dalam Seni Rupa



Kik Wahyu Peshang, seorang perupa muda yang memiliki ketertarikan pada dunia seni, telah mencoba untuk merenungkan makna dari pohon pisang. Ia kemudian belajar memaknainya dan mengekspresikannya melalui karya-karyanya. Pohon pisang, bagi Kik Wahyu, melambangkan pengorbanan yang diberikan oleh pohon tersebut untuk kehidupan orang lain. Hal ini menginspirasinya untuk menggelar pameran tunggal yang diberi judul “Filosopisang” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) mulai tanggal 13 hingga 21 Februari mendatang. Pameran ini akan menampilkan tujuh karya lukisan dan dua karya tiga dimensi.

Menurut Kik Wahyu, “Filosopisang adalah realisasi dari tema ide kreatif saya yang bermakna filosofi pisang. Hal ini menjadi dasar pemikiran saya dalam menuangkan inspirasi dalam berkarya. Dalam konsep penciptaan karya ini, saya mengacu pada filosofi tanaman pisang yang berasal dari Asia Tenggara, terutama Indonesia, dan kini telah tersebar ke seluruh dunia.” Kik Wahyu mengungkapkan hal ini dalam wawancara di BBY pada hari Minggu, tanggal 14 Februari.

Dalam penjelasannya, Kik Wahyu menjelaskan bahwa pisang, dengan nama latin Musa Sp, memiliki makna yang dalam dalam budaya Indonesia. Tanaman pisang melambangkan kesejahteraan pemiliknya dan merupakan bagian integral dari peradaban kehidupan manusia. Tanaman ini memiliki berbagai manfaat, baik secara formal maupun non formal, yang beragam dan multifungsi untuk kehidupan sehari-hari, upacara adat, bahkan untuk permainan anak-anak. Selain itu, tanaman pisang memiliki banyak variasi yang menarik bagi Kik Wahyu. Yang lebih menarik lagi adalah makna filosofi hidup yang tinggi yang terkandung di dalamnya. Meskipun siklus hidupnya tidak terlalu panjang, pohon pisang tetap memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya. Pohon pisang mampu beregenerasi untuk mempertahankan keturunannya dengan tunas yang tumbuh secara bergantian. Hal ini menjadi salah satu makna dari kehidupan, bahwa meskipun terjadi hal buruk atau hancur, kita tetap bisa bangkit dan tumbuh kembali.

Dalam pameran “Filosopisang”, Kik Wahyu menggunakan gaya realistik yang ia sebut sebagai pisangisme. Dalam gaya ini, ia menggabungkan filosofi pisang dengan berbagai gejolak politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang membentuk karakter, persepsi, simbolik, dan kamuflase yang menciptakan metafora baru. Karya-karya Kik Wahyu mencerminkan keunikan dan keberagaman pisang dalam berbagai visual yang dihasilkannya. Kik Wahyu berusaha mencari bentuk dan ciri khas dalam proses kreatifnya, sehingga beberapa karyanya memiliki bentuk tiga dimensi atau instalasi. Ia menggunakan kayu sebagai rangka karya dan melapisi rangka tersebut dengan kanvas yang kemudian di finishing menggunakan cat minyak.

Ons Untoro, kurator pameran “Filosopisang”, menyatakan bahwa karya-karya Kik merupakan pengalaman pemikiran tentang pohon pisang yang diformulasikan menjadi pisangisme. “Karya-karya yang dipamerkan di BBY ini merepresentasikan pisang dalam berbagai macam visual yang dihasilkan oleh Kik Wahyu. Karya-karya ini tidak pernah lepas dari bagian-bagian pisang,” kata Ons Untoro.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah karya berjudul “Heaven niceday”. Karya ini menampilkan seorang bayi yang tertidur pulas, dibungkus dengan daun pisang. Ons Untoro menjelaskan bahwa mungkin yang tepat bukanlah bayi yang dibungkus dengan daun pisang, melainkan bayi yang tertidur dengan nyaman di atas daun pisang yang masih hijau. Namun, ada juga daun pisang yang sudah mengering dengan warna cokelat khas. Karya ini menunjukkan bahwa pisang sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak dini, bahkan sejak usia balita.

Kik Wahyu tidak hanya terpaku pada pisang sebagai objek karyanya, tetapi ia juga tidak melupakan lingkungan sekitarnya. Ia belajar dari pohon pisang bahwa pengorbanan adalah hal yang penting dalam kehidupan. Di Indonesia, seringkali yang terdengar adalah kata “dikorbankan”, tetapi Kik Wahyu memahami bahwa pengorbanan sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Dalam kisah pewayangan, Bisma mengajarkan tentang pengorbanan untuk orang lain. Kik Wahyu berharap bahwa melalui karyanya, ia dapat menginspirasi orang-orang untuk tidak hanya membuang pisang, tetapi juga bersedia berkorban demi kebaikan orang lain.

Dalam pameran tunggal “Filosopisang” ini, Kik Wahyu Peshang berhasil menggambarkan makna dan filosofi dari pohon pisang melalui karya-karyanya. Ia mengajak kita untuk merenungkan arti pentingnya pengorbanan dalam kehidupan dan bagaimana kita dapat belajar dari pohon pisang. Meskipun siklus hidupnya tidak terlalu panjang, pohon pisang tetap memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya. Kik Wahyu berharap bahwa melalui karyanya, ia dapat menginspirasi orang-orang untuk lebih menghargai pengorbanan dan belajar untuk berkorban demi kebaikan orang lain.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *