Kursi, dalam pandangan orang awam, mungkin hanya memiliki makna fungsional sebagai tempat istirahat atau tempat melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, bagi seorang perupa seperti Alexander Ming, kursi memiliki makna yang lebih dalam dan simbolis dalam karyanya. Bagi Ming, kursi bukan hanya sekadar tempat duduk, tetapi juga merupakan wujud kebudayaan dari suatu bangsa. Ia percaya bahwa kursi membawa sejumlah makna filosofi budaya, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia.
Dalam sebuah pameran di galeri TBY, Ming menjelaskan bahwa bagi rakyat jelata, kursi hanya bersifat fungsional saja, berbeda dengan raja yang melihat kursi sebagai simbol kekuasaan. Ia mengungkapkan bahwa tidak dapat dielakkan, kursi dalam sejumlah karya lukisannya mampu menghadirkan sebuah makna baru yang memunculkan makna intelektual hingga simbol kekuasaan.
Ming mengatakan bahwa kursi memiliki kekuatan untuk membuat seseorang lupa daratan, berpikir sesaat, bermimpi indah, dan bahkan jatuh. Ia memilih kayu jati sebagai bahan untuk memvisualisasikan karyanya, karena kayu jati memiliki makna tersendiri baginya dan mungkin bagi sejumlah orang. Menurut Ming, kayu jati dengan warna khas coklat dan tekstur indahnya secara umum dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Ia menjelaskan bahwa jati memiliki filosofi Jawa yang kuat, yaitu mempunyai makna yang sesungguhnya adalah jati diri atau identitas masyarakat Jawa.
Salah satu karya Ming yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul “Tersudut”. Dalam lukisan ini, Ming ingin mengingatkan kepada setiap orang, khususnya penguasa, agar tetap bersahaja dalam bersikap. Pada lukisan ini, kursi besar melambangkan penguasa, sedangkan kursi kecil dalam jumlah banyak melambangkan rakyat. Ming ingin menyampaikan pesan bahwa jika penguasa tidak bersikap bersahaja, rakyat akan menjatuhkannya.
Anton Lorenz, yang merupakan kurator pameran Ming, mengungkapkan bahwa kursi sering menjadi obyek lukisan bagi para perupa. Namun, dalam pameran Alexander Ming, kursi tidak hanya sekadar obyek lukisan, tetapi juga dimaknai sebagai filosofi yang beragam. Dari 50 karya yang disodorkan, Lorenz memilih 38 karya dengan pertimbangan cerita atau narasi yang terkandung dalam tiap lukisan.
Pameran tunggal berjudul “Siapa Aku” ini memamerkan 38 lukisan kursi dalam berbagai bentuk, termasuk dalam bentuk deformasi. Pameran ini diadakan di galeri TBY dan akan berlangsung hingga 6 Mei mendatang. Melalui karyanya, Ming ingin mengajak penonton untuk melihat kursi dengan sudut pandang yang berbeda, agar dapat memahami makna filosofi yang terkandung di dalamnya.
Dalam karya-karya Ming, kursi bukan hanya sekadar objek fungsional, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang lebih dalam dan simbolis. Kursi tidak hanya menjadi tempat duduk, tetapi juga mencerminkan budaya, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia. Melalui karyanya, Ming ingin mengajak penonton untuk merenungkan makna dan simbolisme kursi dalam kehidupan sehari-hari.