Heading 2: Ritual Jamasan Keris Pusaka dalam Ritual Hamasuh Tosan Aji
Ritual jamasan keris pusaka dalam acara Hamasuh Tosan Aji di Omah Dhuwung, Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Lar Gangsir DIY. Ritual ini telah dilaksanakan selama tiga kali sejak tahun 2019 dan untuk tahun ini, ritual ini mengangkat tema Landheping Pusaka Ambuka Jatidiri.
Heading 3: Latar Belakang Pelaksanaan Ritual
Ritual jamasan keris pusaka ini sengaja dilaksanakan menjelang berakhirnya bulan Sura dalam penanggalan kalender Jawa. Hal ini dikarenakan biasanya Keraton Yogyakarta menggelar ritual serupa pada awal bulan Sura. Tujuannya adalah agar pelaksanaan ritual tidak bersamaan dan semua peserta dapat mengikuti kedua acara tersebut.
Heading 3: Partisipasi Peserta dari Berbagai Daerah
Dalam ritual jamasan kali ini, terdapat sekitar 100 keris pusaka yang diikutsertakan. Keris-keris tersebut tidak hanya berasal dari sejumlah daerah di DIY, tetapi juga ada yang datang dari luar DIY, seperti Jakarta dan daerah lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ritual jamasan keris pusaka ini bagi pemilik keris pusaka dari berbagai daerah.
Heading 3: Persiapan Sebelum Ritual Jamasan
Sebelum dilakukan ritual jamasan, pemilik keris harus mendaftarkan keris miliknya kepada panitia. Keris-keris ini kemudian diberi nomor urutan untuk proses jamasan. Selanjutnya, keris-keris tersebut diletakkan di atas meja yang telah dipersiapkan. Sebelum dimasukkan ke dalam sarung keris, keris-keris harus dilepaskan menjadi tiga bagian, yaitu Warangka (sarung keris), Bilah (badan keris), dan Hulu (gagang keris).
Heading 3: Prosesi Ritual Jamasan Keris Pusaka
Prosesi ritual jamasan keris pusaka merupakan sesuatu yang sakral dan memiliki urutan tertentu. Sebelum dimulai, peserta ritual menyiapkan sesaji berupa makanan dan tumpeng yang kemudian didoakan bersama-sama. Selain itu, doa kepada Tuhan juga dipanjatkan agar prosesi ritual dapat berjalan dengan lancar.
Prosesi jamasan dimulai dengan membaluri keris dengan minyak pusaka yang berasal dari pohon cendana atau biji kesambi. Setelah itu, keris dicuci menggunakan air bersih dan dilap. Keris kemudian dijemur untuk memastikan benar-benar kering. Untuk menghilangkan karat pada pamor atau motif keris, digunakan sedikit cairan arsenik yang dicampur dengan air jeruk. Kemudian, keris diwarangi atau mewarangi untuk membuat pamor keris terlihat kembali seperti semula.
Setelah semua prosesi dilakukan, seluruh bagian keris disatukan kembali dan dimasukkan ke dalam sarung keris atau warangka. Pada bagian akhir, keris diperiksa kembali sambil diasapi menggunakan wewangian di atas tungku kecil. Prosesi menjamas satu keris membutuhkan waktu yang berbeda-beda, tergantung dari ukuran keris dan tingkat kesulitan dalam membersihkannya. Waktu normal untuk menjamas satu keris adalah sekitar 10 menit, namun jika ukurannya besar, dibutuhkan waktu lebih lama. Selama proses jamasan, panitia menggunakan bahan-bahan alami agar keris tidak rusak.
Heading 2: Persembahan Wayang Kulit dalam Ritual Hamasuh Tosan Aji
Ritual Hamasuh Tosan Aji ini juga dimeriahkan dengan persembahan wayang kulit oleh dalang Tejo Bagus Sunaryo. Dalang ini akan mempertunjukkan lakon Semar Anabda Sungsang Bawana Balik. Persembahan wayang kulit ini merupakan penyempurnaan dari ritual jamasan keris pusaka dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam acara ini.
Heading 2: Keris Tertua yang Dijamas
Informasi menarik yang perlu diketahui adalah bahwa keris tertua yang ikut dijamasi dalam ritual ini adalah pusaka bernama Segaluh yang dibuat pada tahun 800 Masehi. Namun, keris ini tidak ditampilkan dalam acara tersebut karena telah dijamasi sebelumnya.
Ritual jamasan keris pusaka dalam acara Hamasuh Tosan Aji di Omah Dhuwung, Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman merupakan salah satu kegiatan yang sangat berharga bagi pemilik keris pusaka di DIY dan daerah sekitarnya. Melalui ritual ini, keris-keris pusaka mereka dapat mendapatkan perawatan dan pemeliharaan yang sesuai. Dalam prosesi jamasan yang sakral dan penuh makna ini, pemilik keris juga dapat merasakan kehadiran spiritual yang kuat. Semoga ritual jamasan keris pusaka ini dapat terus dilaksanakan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia yang begitu berharga.