Mbah Oden, atau dikenal juga dengan nama Choirudin, adalah seorang perajin blangkon yang tinggal di Kampung Blangkon, Dusun Beji, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta. Pada usia 71 tahun, Mbah Oden masih memiliki semangat yang tinggi dalam membuat blangkon. Kehidupan senjanya tidak menyurutkan niatnya untuk terus menjahit setiap sisi pola blangkon yang telah ia siapkan sejak pagi.
Saat Gudegnet mendatangi rumah produksi blangkon milik Mbah Oden, ia sedang sibuk mempersiapkan dua buah pesanan blangkon dari seorang penata rias. Meskipun sedang sibuk, Mbah Oden dengan ramah menyambut kedatangan kami. Ia meminta maaf karena sedang mengerjakan pesanan dari tetangganya untuk kawinan yang akan dilangsungkan pada hari Minggu mendatang.
Setelah menyapa, Mbah Oden kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia melipat-lipat kecil kain batik motif parang, yang merupakan bahan dasar dari blangkon produksinya. Dengan cekatan, ia menancapkan jarum-jarum kecil untuk menahan lipatan kain agar tidak terlepas dari pola yang dibuatnya. Menurut Mbah Oden, blangkon yang ia buat terdiri dari 17 lipatan yang harus saling menyambung hingga bagian belakang blangkon yang bulat, yang disebut dengan Mondolan.
Mbah Oden merupakan generasi kedua dari Rumah Blangkon Mbah Somo Pawiro, yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Ia mewarisi keahlian membuat blangkon dari ayahnya, yang telah menjadi perajin blangkon Gaya Yogyakarta sejak masa kemerdekaan Indonesia. Mbah Oden memulai membuat blangkon sejak tahun 1965, ketika usianya baru 17 tahun. Meskipun sempat berhenti sejenak untuk mencoba menjadi tentara, namun ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan kembali pekerjaan membuat blangkon.
Blangkon buatan Mbah Oden telah banyak dipesan oleh Keraton Yogyakarta untuk berbagai keperluan, baik itu sebagai perlengkapan upacara bagi abdi dalem maupun kerabat Keraton sendiri. Keraton pernah memesan sekitar 1.500 buah blangkon motif khas Keraton Yogyakarta, yaitu motif batik parang yang menjadi ciri khas dari keraton tersebut. Pesanan tersebut dibagi ke seluruh perajin blangkon di Kampung Blangkon Dusun Beji, dan Mbah Oden hanya menyelesaikan sekitar 40-50 buah blangkon.
Selain dari Keraton, sejumlah menteri dan artis Ibukota juga pernah memesan blangkon kepada Mbah Oden. Roy Suryo dan Raffi Ahmad adalah beberapa di antaranya. Raffi Ahmad pernah memesan sekitar 275 blangkon gaya Yogyakarta untuk panitia nikahannya. Setelah itu, ia memesan kembali sekitar 40 buah blangkon dengan gaya Sunda. Sedangkan Roy Suryo memesan blangkon beberapa kali untuk kepentingan pribadinya.
Mbah Oden membuat berbagai macam motif blangkon, seperti Sidomukti, Asih Winarno, Gadung Mlati, Modhang, Celeng Kewengen, dan masih banyak lagi. Setiap motif blangkon memiliki filosofi tersendiri. Menurut Mbah Oden, blangkon khas Yogyakarta memiliki 17 lipatan sisi kiri kanan yang melambangkan jumlah rakaat salat, 5 lipatan bawah yang melambangkan rukun Islam, 6 lipatan dekat kuping yang melambangkan rukun iman, 1 Mondolan atau Pegangan yang melambangkan Tuhan, dan 2 lekuk di kepala yang melambangkan keselarasan dengan Tuhan dan Nabi. Dengan demikian, filosofi blangkon sesuai dengan ajaran Islam.
Harga blangkon buatan Mbah Oden berkisar antara Rp.50.000 hingga Rp.750.000. Harga bisa lebih mahal lagi jika pemesan memiliki motif sendiri. Jika tidak ada pesanan, Mbah Oden tetap membuat blangkon, namun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, hanya sekitar 2-3 buah saja untuk stok jika ada yang datang membeli secara langsung.
Mbah Oden adalah seorang perajin blangkon yang memiliki dedikasi dan semangat tinggi dalam menjaga kebudayaan dan tradisi Yogyakarta. Keterampilan yang ia warisi dari ayahnya telah membuatnya menjadi salah satu perajin blangkon terbaik di daerahnya. Meskipun usianya telah senja, Mbah Oden terus berjuang untuk menjaga keberlanjutan seni dan budaya blangkon, serta memastikan bahwa generasi muda juga tertarik dan terlibat dalam melestarikannya.