I. Pameran Batik Klasik Gagrak Yogyakarta
Pada tanggal 21 hingga 24 Januari mendatang, Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad dan Galeri Batik Jawa akan menggelar pameran batik klasik Gagrak Yogyakarta. Pameran ini akan menampilkan sekitar 500 karya dari seorang pakar sastra Jawa dan staf pengajar jurusan sastra daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM), Manu J Seputra. Pameran ini akan berlangsung di Hotel Mustokoweni, Jl. AM Sangaji Yogyakarta.
A. Karya-karya Manu J Seputra
Pameran batik klasik Gagrak Yogyakarta ini akan memamerkan sekitar 500 karya Manu J Seputra. Dari 500 karya tersebut, terdapat 27 karya tertua yang dipamerkan, serta sekitar 75 karya terbaru. Beberapa karya batik Manu yang akan dipamerkan antara lain Cuwiri, Melati Sategal, Kaduk Manis, Semen Rama Cantel, Wahyu Tumurun, Gurda Kinurung, Parang Gapit, Parang Rusak atau Barong, Udan Liris, dan Godeg. Setiap karya yang diciptakan oleh Manu memiliki cerita dan sejarah pada saat pembuatannya. Bagi Manu, setiap motif dalam batiknya mewakili sesuatu yang terjadi pada waktu itu.
B. Bahan Pewarna Alami
Seluruh karya batik yang dihasilkan oleh Manu J Seputra diproduksi dengan menggunakan bahan pewarna alami. Beberapa bahan pewarna alami yang digunakan antara lain Indegofera, Soga, Somba, dan kulit kayu jati. Penggunaan bahan pewarna alami ini memberikan keunikan dan keaslian pada karya-karya batik Manu.
II. Perkembangan Batik di Yogyakarta
A. China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA)
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Djoko Dwiyanto, menyatakan bahwa berlakunya China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) harus diterima secara terbuka oleh perajin batik Jogja. Hal ini juga berlaku untuk masuknya karya-karya batik dari luar seperti batik printing dari China. Dengan adanya pasar yang terbuka, pasar akan dapat melihat kualitas produk batik printing dari China dan membandingkannya dengan batik tulis. Jika batik printing hanya dapat bertahan tiga tahun sebelum pudar, sedangkan batik tulis dapat bertahan puluhan tahun, maka perajin batik Jogja tidak perlu takut kalah saing atau masuknya batik-batik dari China.
B. Melestarikan Batik Khas Yogyakarta
Menurut Djoko Dwiyanto, yang terpenting adalah bagaimana menjaga dan melestarikan batik agar tetap menjadi warisan budaya batik khas Yogyakarta. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyelenggarakan kegiatan dan sosialisasi tentang batik. Dengan adanya kegiatan dan sosialisasi ini, masyarakat akan semakin mengenal dan mencintai batik khas Yogyakarta. Selain itu, perajin batik juga harus tetap menggunakan warna alami untuk menghasilkan kain batik. Hal ini berbeda dengan batik cap yang menggunakan warna sintetis. Penggunaan warna alami akan membuat batik tetap memiliki keaslian dan keunikan yang tidak dimiliki oleh batik cap.
III. Kesimpulan
Pameran batik klasik Gagrak Yogyakarta yang akan digelar oleh Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad dan Galeri Batik Jawa merupakan kesempatan yang baik untuk mengapresiasi karya-karya batik dari seorang pakar sastra Jawa dan staf pengajar jurusan sastra daerah Fakultas Ilmu Budaya UGM, Manu J Seputra. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya-karya batik Manu, tetapi juga memberikan pemahaman tentang pentingnya melestarikan batik khas Yogyakarta dan penggunaan bahan pewarna alami. Dengan adanya pameran ini, diharapkan masyarakat semakin mencintai dan menghargai batik khas Yogyakarta serta memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.