Mainan Tradisional Tak Lekang Waktu

Heading 2: Perayaan Sekaten di Alun-alun Utara Yogyakarta

Perayaan Sekaten yang berlangsung di Alun-alun Utara Yogyakarta merupakan salah satu moment berharga bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Perayaan ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam yang tinggal di Yogyakarta, tetapi juga oleh warga Jawa Tengah dan sekitarnya. Momentum ini menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antarumat Islam dan juga sebagai wadah untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keberagaman dalam agama Islam.

Sekaten sendiri memiliki banyak tradisi dan permainan yang menjadi ciri khas dari perayaan ini. Salah satu tradisi yang tak terpisahkan dari Sekaten adalah permainan awul-awul dan telur merah. Awul-awul adalah permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak dengan menggunakan batang bambu yang dihiasi dengan kain warna-warni. Selain itu, juga terdapat permainan tradisional lainnya seperti balap karung, egrang, dan masih banyak lagi.

Selain permainan, di dalam perayaan Sekaten juga terdapat perayaan Grebeg Maulud. Grebeg Maulud merupakan prosesi penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan mengarak berbagai jenis makanan dan hasil bumi dari berbagai desa di sekitar Yogyakarta. Prosesi ini dilakukan dengan diiringi oleh musik dan tarian khas Jawa, sehingga menciptakan suasana yang meriah dan penuh kegembiraan.

Namun, Sekaten tidak lengkap tanpa membawa pulang Kapal Othok-othok khas pantura. Kapal ini terbuat dari seng yang dikaitkan dengan patri, sehingga memiliki bentuk yang unik dan menarik. Kapal ini menjadi salah satu oleh-oleh yang paling diminati oleh pengunjung perayaan Sekaten. Kapal Othok-othok ini terkenal karena memiliki teknologi uap yang membuat kapal tersebut dapat bergerak. Kapal ini bekerja dengan cara memanfaatkan tekanan uap air yang berada di dalam kapal untuk menghasilkan gerakan. Sebelum diluncurkan ke air, pipa di dalam kapal diisi dengan air dan seng pematik api diberi minyak kelapa. Setelah ketel di dalam pipa tersebut panas, maka akan terjadi gerakan dan bunyi otok-otok yang keluar dari meriam bagian dalam kapal tersebut.

Heading 3: Pedagang Kapal Othok-othok di Alun-alun Utara Yogyakarta

Salah satu pedagang Kapal Othok-othok yang terkenal di Alun-alun Utara Yogyakarta adalah Sugiyo, seorang pedagang kapal asal Cirebon, Jawa Barat. Sugiyo telah menjual kapal ini selama 25 tahun dan menjadi salah satu pedagang yang setia menjual dagangannya di perayaan Sekaten. Meskipun tinggal di Cirebon, Sugiyo memutuskan untuk datang ke Jogja dan mengadu nasib dengan menjual kapal Othok-othok ini.

Sugiyo mengaku bahwa dagangan kapal Othok-othok ini bukanlah barang yang mudah untuk dijual. Selama puluhan tahun berjualan, ia mengalami pasang surut dalam menjual kapal tradisional ini. Ia mengatakan bahwa era 90-an adalah masa kejayaan bagi kapal ini, di mana peminatnya sangat banyak. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, minat masyarakat terhadap kapal Othok-othok ini menurun. Meskipun begitu, Sugiyo tetap bertahan dan menjual kapal ini karena ia percaya bahwa masih ada pembeli yang tertarik dengan keunikan dan nilai historis dari kapal Othok-othok ini.

Harga satu kapal Othok-othok dibanderol dengan harga Rp 10.000,00 lengkap dengan seng Kerucut untuk memasukkan air ke pipa dan satu buah seng pematik. Jika pembeli ingin menambahkan aksesoris seperti terkembang, mereka dapat membelinya dengan selisih harga Rp 5.000,00. Meskipun harga kapal ini tergolong murah, namun Sugiyo hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 2.000,00 – Rp 3.000,00 dari setiap kapal yang terjual. Meskipun keuntungannya tidak begitu besar, Sugiyo tetap bertahan dan menjalankan usahanya karena ia memiliki kecintaan dan kebanggaan terhadap kapal Othok-othok ini.

Selain itu, Sugiyo juga tidak perlu membayar sewa tempat kepada panitia Sekaten. Ia hanya perlu memberikan iuran kebersihan sebagai bentuk kontribusinya dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat berjualan. Hal ini menunjukkan bahwa Sugiyo bukan hanya seorang pedagang yang ingin mencari keuntungan semata, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Bagi Anda yang tertarik untuk membawa pulang Kapal Othok-othok khas pantura ini, Anda dapat datang langsung ke perayaan Sekaten di Alun-alun Utara Yogyakarta. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk memiliki salah satu oleh-oleh yang unik dan bernilai historis ini. Kapal Othok-othok ini bukan hanya sekadar mainan murahan, tetapi juga merupakan perwujudan dari keunikan dan keindahan tradisi yang ada di Indonesia.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *