Kisah Wayang Beber ‘Panji Asmarabangun’ di Pameran Jayengtilam

Heading 2: Kisah Romantis Remengmangunjaya dalam Wayang Beber

Heading 3: Kisah Cinta Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji

Pada pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, terdapat sejumlah karya yang menarik perhatian pengunjung. Salah satu karya yang menjadi pusat perhatian adalah cerita wayang beber dengan judul “Remengmangunjaya”. Kisah ini mengisahkan tentang kisah romantis antara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji.

Raden Panji Asmarabangun adalah seorang pangeran yang berasal dari Kerajaan Kediri. Ia merasa bahwa ilmu filsafat kehidupannya masih kalah dari sang istri, Dewi Sekartaji. Oleh karena itu, Raden Panji Asmarabangun memutuskan untuk pergi mengembara mencari ilmu kesempurnaan atau Ngelmu agar dapat bersanding dengan sang istri yang merupakan putri dari Kerajaan Kediri.

Raden Panji Asmarabangun kemudian bertapa di suatu tempat yang tidak diketahui oleh sang istri. Ia menyamar dan berganti nama menjadi Remengmangunjaya. Dewi Sekartaji yang sangat mencintai suaminya merasa sedih atas kepergian sang suami. Raja Kediri pun merasa iba dan membuat sayembara “Meniti Titian Rotan di Seminang” dengan maksud mencarikan pasangan baru untuk Dewi Sekartaji.

“Barang siapa yang dapat melakukan sayembara ini akan menjadi pasangan hidup Dewi Sekartaji,” ujar Raja Kediri.

Namun, sayembara tersebut menarik perhatian Prabu Kelana, seorang pria licik yang juga ingin mendapatkan Dewi Sekartaji. Prabu Kelana menggunakan berbagai cara untuk memenangkan hati Dewi Sekartaji, namun semua usahanya tidak berhasil.

Sementara itu, dalam pertapaannya, Remengmangunjaya mengetahui tentang sayembara tersebut dan terjadilah pertempuran antara Remengmangunjaya dan Prabu Kelana. Pertempuran ini berlangsung hingga Alun-alun Kediri. Akhirnya, Remengmangunjaya berhasil memenangkan sayembara tersebut dan sebagai hadiahnya, ia mendapatkan Dewi Sekartaji sebagai istri sahnya.

Dewi Sekartaji pun menyadari bahwa Remengmangunjaya sebenarnya adalah suaminya, Raden Panji Asmarabangun, yang telah menghilang lama. Mereka pun akhirnya kembali bahagia dan hidup bersama di Kerajaan Kediri.

Heading 2: Wayang Beber dan Media Penyampaian Ceritanya

Heading 3: Wayang Beber sebagai Warisan Budaya Jawa Kuno

Wayang Beber adalah salah satu jenis wayang yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Wayang Beber memiliki kesamaan dengan wayang Jawa lainnya, namun yang membedakannya adalah media penyampaian ceritanya. Wayang Beber menggunakan gambar-gambar sebagai objek pertunjukan yang disampaikan oleh dalang. Gambar-gambar tersebut dilukiskan secara berurutan sesuai dengan narasi cerita per adegan yang berhubungan pada media kertas atau kain.

Menurut Elvani Mutiara Tsani, Kurator Wayang Beber pada Pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo, Wayang Beber pertama kali ditemukan pada abad ke-15 Masehi. Saat itu, Ma Huan, anak buah dari Laksamana Cheng Ho sedang melakukan ekspedisi laut di Indonesia. Wayang Beber merupakan representasi dari lukisan Jawa masa lalu sebelum datangnya orang-orang Barat.

Wayang Beber dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari komik, karena menggunakan media kertas atau kain yang terangkai menjadi sebuah cerita utuh. Saat ini, peninggalan Wayang Beber hanya ada dua buah di Pulau Jawa, yaitu di daerah Pacitan (Jawa Timur) dan Gunungkidul (DIY).

Sebagai warisan kebudayaan lokal Jawa kuno, Wayang Beber perlu dilestarikan agar tidak hilang di telan jaman. Elvani berharap adanya upaya sistematis dalam melestarikan wayang ini agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Heading 2: Pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo

Heading 3: Menyaksikan Kisah Wayang Beber Secara Langsung

Pameran Jayengtilam yang diadakan di Museum Sonobudoyo merupakan pameran tahunan yang memamerkan lebih dari 300 koleksi cerita wayang. Salah satu cerita yang dipamerkan dalam pameran ini adalah cerita wayang beber “Remengmangunjaya”. Pameran ini dapat disaksikan secara langsung dan gratis hingga tanggal 30 Desember 2020 mulai pukul 09.00-21.00 WIB.

Pameran ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menyaksikan langsung kisah-kisah wayang beber yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Melalui pameran ini, pengunjung dapat memahami lebih dalam tentang kekayaan budaya Jawa kuno yang terkandung dalam wayang beber.

Dengan mengunjungi pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo, pengunjung dapat mengapresiasi seni wayang beber dan juga ikut serta dalam upaya pelestariannya. Pameran ini juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda untuk belajar lebih banyak tentang warisan budaya Jawa kuno.

Dalam rangka melestarikan wayang beber, perlu adanya dukungan dari semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, maupun generasi muda. Dengan upaya yang sistematik dan berkelanjutan, warisan budaya ini dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *