Kisah Black Out Prajurit Plangkir & Lombok Abang

Pendahuluan

Berdiri tegak dibawah teriknya sinar matahari berpadu dengan kostum berkain tebal. Inilah perjuangan puluhan prajurit kadipaten Puro Pakualaman yang bertugas di Jumenengan Puro Pakualaman PA X. Prajurit itu dibagi menjadi dua kelompok yakni Lombok Abang dan Plangkir. Lombok abang merupakan prajurit yang mengenakan seragam merah, sedangkan Plangkir merupakan prajurit yang mengenakan seragam hitam.

Demi mengawal berjalannya penobatan PA X, mereka rela berjemur dipanasnya sinar matahari. semua ini harus mereka lakukan mulai dari jam 08.00 WIB pagi hingga kirab ageng dimulai. Tak heran beberapa diantaranya harus tumbang karena tak kuasa menahan panasnya sinar matahari.

Tadi saya mual-mual langsung pet seperti itu mau tidak mau saya harus turun seperti itu,” kata Wira Subada, salah seorang prajurit yang kelelahan karena fisiknya melemah.

Hal serupa juga dialami oleh Rusdiono, salah seorang prajurit yang juga capek bukan karena terik sinar matahari namun karena sakitnya kambuh. “Bukan karena kepanasan, namun saya merasakan sakit, tapi ini sudah biasa, tidak apa-apa.” ungkapnya.

Menurut Humas Media Online Puro Pakualaman, Citra Panambang pada Tim Gudegnet mengatakan bahwa dua kelompok prajurit yakni Lombok Abang dan Prajurit Plangkir ini dikomandani oleh seorang pandego yang pangkat diatasnya dipimpin oleh Manggolo. “Pandego itu dibawahnya ada prajurit sedangkan para Pandego dipimpin oleh seorang Manggolo,” tukasnya.

Meskipun ada beberapa yang tumbang, semangat prajurit lain pun tetap tak pudar meski ada sejumlah prajurit yang tiba-tiba black out atau pingsan. Semua itu demi mengawal pemimpin baru di Kadipaten Puro Pakualaman.

Perjuangan Prajurit Lombok Abang

Prajurit Lombok Abang merupakan salah satu kelompok prajurit dalam penobatan PA X di Kadipaten Puro Pakualaman. Mereka mengenakan seragam berwarna merah, yang melambangkan keberanian dan semangat juang. Dalam menjalankan tugasnya, prajurit Lombok Abang bertanggung jawab untuk mengawal dan menjaga keamanan acara penobatan.

Tugas berat ini tak membuat semangat prajurit Lombok Abang surut. Mereka tetap berdiri tegak di bawah teriknya sinar matahari, siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Meskipun beberapa dari mereka tumbang akibat teriknya sinar matahari, namun semangat mereka tidak pernah padam.

Wira Subada, salah satu prajurit Lombok Abang, mengaku bahwa fisiknya melemah karena terlalu lama berjemur di bawah sinar matahari. Namun, ia tetap bertahan dan menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. “Tadi saya mual-mual langsung pet seperti itu mau tidak mau saya harus turun seperti itu,” ungkapnya.

Meski mengalami berbagai kesulitan, prajurit Lombok Abang tetap bersemangat dalam menjalankan tugasnya. Mereka menyadari bahwa penobatan PA X adalah momen bersejarah bagi Kadipaten Puro Pakualaman, dan mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelancaran acara tersebut.

Tanggung Jawab Prajurit Plangkir

Selain prajurit Lombok Abang, ada juga kelompok prajurit lain yang bertugas dalam penobatan PA X, yaitu Plangkir. Plangkir adalah kelompok prajurit yang mengenakan seragam berwarna hitam, yang melambangkan ketegasan dan keberanian. Mereka memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya dengan prajurit Lombok Abang dalam menjaga keamanan acara penobatan.

Meskipun tidak terkena teriknya sinar matahari seperti prajurit Lombok Abang, prajurit Plangkir juga mengalami berbagai kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Rusdiono, salah satu prajurit Plangkir, mengaku bahwa ia merasakan sakit yang kambuh saat menjalankan tugasnya. “Bukan karena kepanasan, namun saya merasakan sakit, tapi ini sudah biasa, tidak apa-apa,” ungkapnya.

Tugas prajurit Plangkir tidak kalah berat dengan prajurit Lombok Abang. Mereka harus siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi selama acara penobatan berlangsung. Keberanian dan ketegasan menjadi modal utama yang dimiliki oleh prajurit Plangkir dalam menjalankan tugasnya.

Komando Pandego dan Manggolo

Dalam menjalankan tugasnya, prajurit Lombok Abang dan Plangkir dikomandani oleh seorang pandego. Pandego adalah seorang pemimpin dalam hierarki prajurit di Kadipaten Puro Pakualaman. Di atas pandego, terdapat seorang Manggolo yang bertanggung jawab atas kelancaran penobatan PA X.

Menurut Humas Media Online Puro Pakualaman, Citra Panambang pada Tim Gudegnet, pandego merupakan pangkat di bawah Manggolo. Mereka bertanggung jawab untuk memimpin dan mengatur prajurit dalam menjalankan tugasnya. Pandego bertindak sebagai penghubung antara prajurit dengan pimpinan, sedangkan Manggolo memiliki wewenang yang lebih tinggi dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan penobatan.

Kehadiran pandego dan Manggolo sangat penting dalam menjaga ketertiban dan kelancaran acara penobatan. Mereka memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan seluruh prajurit dan memastikan bahwa tugas-tugas mereka dapat dilaksanakan dengan baik.

Semangat Prajurit dalam Mengawal Penobatan PA X

Meskipun mengalami berbagai kesulitan dan tantangan, semangat prajurit Lombok Abang dan Plangkir dalam menjalankan tugasnya tidak pernah surut. Mereka menyadari pentingnya peran mereka dalam menjaga keamanan dan kelancaran acara penobatan.

Prajurit Lombok Abang dan Plangkir rela berjemur di bawah teriknya sinar matahari demi menjalankan tugasnya. Meskipun ada beberapa di antara mereka yang tumbang akibat kelelahan atau pingsan, namun semangat mereka tidak pernah padam.

Penobatan PA X merupakan momen bersejarah bagi Kadipaten Puro Pakualaman. Prajurit Lombok Abang dan Plangkir memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelancaran acara tersebut. Mereka menyadari pentingnya peran mereka dalam menjaga keamanan dan memberikan penghormatan kepada pemimpin baru di Kadipaten Puro Pakualaman.

Dalam menjalankan tugasnya, prajurit Lombok Abang dan Plangkir dituntut untuk memiliki keberanian, ketegasan, dan semangat juang yang tinggi. Mereka harus siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi selama acara penobatan berlangsung.

Dalam penobatan PA X di Kadipaten Puro Pakualaman, peran pandego dan Manggolo juga sangat penting. Mereka bertanggung jawab untuk memimpin dan mengatur prajurit dalam menjalankan tugasnya. Kehadiran pandego dan Manggolo menjadi jaminan bahwa penobatan dapat berjalan dengan baik.

Kesimpulan

Dalam penobatan PA X di Kadipaten Puro Pakualaman, puluhan prajurit Lombok Abang dan Plangkir rela berjemur di bawah teriknya sinar matahari demi menjalankan tugasnya. Meskipun mengalami berbagai kesulitan dan tantangan, semangat mereka tidak pernah surut.

Prajurit Lombok Abang dan Plangkir memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan dan kelancaran acara penobatan. Mereka dituntut untuk memiliki keberanian, ketegasan, dan semangat juang yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Dalam penobatan PA X di Kadipaten Puro Pakualaman, pandego dan Manggolo memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan seluruh prajurit dan memastikan kelancaran acara. Kehadiran mereka menjadi jaminan bahwa penobatan dapat berjalan dengan baik.

Dalam penobatan PA X di Kadipaten Puro Pakualaman, semangat dan dedikasi prajurit Lombok Abang dan Plangkir patut diapresiasi. Mereka telah menjalankan tugasnya dengan penuh pengabdian dan keberanian demi menjaga keamanan dan kelancaran acara penobatan.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *