Heading 2: Sejarah dan Perjalanan Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya
Heading 3: Awal Mula dan Perubahan Nama Kelompok Seni Tobong
Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya adalah salah satu bentuk seni drama tradisional Jawa yang telah ada sejak tahun 1992. Awal mula kelompok seni ini bermula di Kediri dengan nama Ketoprak Sri Budoyo. Namun, seiring berjalannya waktu, kelompok seni ini mengalami perubahan nama beberapa kali untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Pada tahun 1994, mereka berganti nama menjadi Ketoprak Candra Kirana.
Perjalanan kelompok seni Tobong tidaklah semulus permainan para seniman. Pada tahun 1999, mereka sempat mengalami kesulitan dan tidak melakukan pementasan selama beberapa waktu. Namun, pada tahun 2000, datanglah seorang pria bernama Dwi Tirtiyasa yang memberikan perhatian khusus pada kesenian ini. Dwi Tirtiyasa dapat dianggap sebagai pahlawan bagi Tobong karena ia menjadi penghidup kelompok seni ini. Ia tidak hanya membiayai kebutuhan pentas para pemain, tetapi juga memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Heading 2: Keberadaan Tobong di Tengah Pasang Surut Penampilan
Heading 3: Titik Nadir dan Harapan Kembali
Meskipun Tobong adalah satu-satunya kelompok seni ketoprak yang masih eksis hingga saat ini, mereka juga pernah berada pada titik nadir. Pada tahun 2010, penonton mulai menyusut dan bahkan pernah terjadi pementasan yang hanya ditonton oleh 10 orang saja. Di saat itulah kelompok seni Tobong menggelar aksi pamitan dengan mempersembahkan pementasan dengan judul “Pamit Mati” di Alun-alun Utara Kraton.
Namun, setelah pementasan “Pamit Mati”, terjadi perubahan yang positif. Banyak penonton dan seniman lainnya yang memberikan semangat dan harapan agar Tobong tidak tutup, melainkan bangkit kembali. Semangat ini membuat pementasan-pementasan Tobong semakin hidup dan mendapatkan sambutan yang positif dari masyarakat.
Heading 2: Keseruan dan Interaksi dalam Pementasan Tobong
Heading 3: Keunikan Pementasan Tobong
Pementasan Tobong tidak hanya menghadirkan drama tradisional yang memikat, tetapi juga menghadirkan keseruan dan interaksi dengan penonton. Para pemain Tobong sering mengajak penonton untuk berinteraksi dan ikut berpartisipasi dalam pementasan. Dalam pementasan Ki Ageng Mangir, misalnya, dua pemain transgender tampil menghibur di tengah pertunjukan dan mengajak penonton untuk berjoget bersama mereka.
Keunikan pementasan Tobong juga terlihat dari tempat pertunjukan yang tidak terlalu besar dan terbuat dari anyaman bambu serta tambalan-tambalan seng. Suasana yang terbangun di panggung Tobong sangat akrab dan hangat, dengan gelak tawa dan tepuk tangan riuh rendah yang menggema di antara para penonton.
Heading 2: Filosofi dan Nilai Budaya dalam Tobong
Heading 3: Mengenali Filosofi Tobong
Tobong memiliki filosofi dan nilai-nilai budaya yang mendalam. Kata “Tobong” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti bangunan tidak permanen yang terbuat dari bambu dan material lainnya. Tobong biasanya digunakan oleh kelompok seni pertunjukan tradisional, seperti ketoprak, untuk mementaskan lakon-lakonnya.
Filosofi Tobong mencerminkan kehidupan yang sementara dan berpindah-pindah. Hal ini tercermin dari perjalanan kelompok seni Tobong yang sempat berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya sebelum akhirnya menetap di Yogyakarta. Tobong juga mengajarkan tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong, karena dalam Tobong semua anggota kelompok saling mendukung dan bekerja sama untuk menciptakan pementasan yang memukau.
Heading 2: Misi dan Harapan Kelompok Seni Tobong
Heading 3: Misi Melestarikan Budaya dan Harapan pada Generasi Muda
Misi utama kelompok seni Tobong adalah melestarikan budaya Ketoprak Tobong yang telah ada selama puluhan tahun. Mereka ingin agar kesenian ini tetap eksis dan lestari di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini. Meskipun Tobong memiliki penggemar setia, kelompok seni ini berharap agar generasi muda juga tertarik untuk mempelajari dan mengapresiasi kesenian tradisional ini.
Risang Yuwono, pengurus Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya, berharap agar para kaum millennial datang dan belajar tentang kesenian Tobong. Bagi mereka, apakah hanya sekedar menonton pementasan Tobong atau aktif terlibat dalam kelompok seni ini, hal tersebut sudah membuat Tobong dan para senimannya merasa senang dan terhibur.
Dalam usahanya untuk melestarikan budaya Ketoprak Tobong, kelompok seni Tobong tidak mematok harga tiket untuk pementasan mereka. Mereka hanya menaruh sebuah kotak untuk donasi di depan pintu masuk. Sehingga, siapapun yang ingin menonton pementasan Tobong dapat memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan mereka, dan kelompok seni Tobong menerima dengan ikhlas.