Kelahiran: Puputan

Kelahiran: Puputan

Ulasan

Tradisi kelahiran dalam budaya Jawa salah satunya adalah Puputan. Upacara puputan bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi. Puputan sendiri merupakan saat tali pusar bayi putus atau puput. Pada saat itu, diadakan Slametan Puputan Puser yang meliputi kendhuri, bancakan, dan pemberian nama bayi.

Pada upacara Puputan, terdapat perbedaan perlengkapan antara golongan bangsawan dan golongan rakyat biasa. Untuk golongan bangsawan, perlengkapan yang disediakan meliputi nasi gudangan, jenang abang putih, lima macam bubur, dan jajan pasar. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa, perlengkapan yang disediakan adalah nasi jangan, jenang abang putih, jenang baro-baro, dan jajan pasar. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan status sosial dalam budaya Jawa.

Upacara Puputan dilakukan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu, dukun, pinisepuh, dan sanak saudara. Dalam upacara ini, terdapat prosesi penting seperti kendhuri, bancakan, dan pemberian nama bayi. Kendhuri adalah prosesi memasukkan makanan ke dalam mulut bayi untuk pertama kalinya. Makanan yang dimasukkan adalah sejenis bubur yang disebut jenang abang putih. Jenang abang putih ini memiliki makna sebagai simbol kesucian dan kesehatan bagi bayi yang baru lahir.

Selain itu, dalam upacara Puputan juga dilakukan bancakan. Bancakan adalah prosesi memberikan makanan kepada tamu yang hadir dalam upacara. Makanan yang disajikan dalam bancakan ini bervariasi, tergantung pada golongan sosial yang mengadakan upacara. Misalnya, untuk golongan bangsawan disajikan nasi gudangan, lima macam bubur, dan jajan pasar. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa, disajikan nasi jangan, jenang abang putih, jenang baro-baro, dan jajan pasar.

Setelah prosesi kendhuri dan bancakan selesai, dilakukan pemberian nama bayi. Nama bayi ini memiliki makna dan harapan yang ingin diwujudkan oleh orang tua. Nama bayi juga bisa dipilih berdasarkan tradisi keluarga atau nama yang dianggap memiliki keberuntungan. Pentingnya pemberian nama bayi dalam tradisi Puputan menunjukkan bahwa nama memiliki arti dan pengaruh dalam kehidupan seseorang.

Upacara Puputan juga melibatkan dukun dan pinisepuh. Dukun adalah orang yang memiliki keahlian dalam merawat bayi dan memberikan nasihat kepada orang tua. Dukun juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan bayi dan memastikan semua prosesi dalam upacara berjalan dengan baik. Sedangkan pinisepuh adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Jawa dan bertugas sebagai pemimpin dalam upacara adat.

Dalam upacara Puputan, juga melibatkan sanak saudara bayi yang baru lahir. Sanak saudara memiliki peran sebagai pihak yang memberikan doa dan harapan baik untuk bayi. Mereka juga turut memeriahkan upacara dengan kehadiran dan partisipasinya. Dalam budaya Jawa, keluarga dan sanak saudara memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan merawat bayi yang baru lahir.

Secara keseluruhan, upacara Puputan merupakan salah satu tradisi kelahiran dalam budaya Jawa yang kaya akan makna dan simbol. Upacara ini dilakukan untuk memohon keselamatan bagi bayi yang baru lahir. Dalam upacara ini, terdapat prosesi kendhuri, bancakan, dan pemberian nama bayi. Selain itu, upacara ini juga melibatkan dukun, pinisepuh, dan sanak saudara. Melalui upacara ini, diharapkan bayi dapat tumbuh dengan sehat, bahagia, dan sukses dalam kehidupannya.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *