Jarot Santoso adalah seorang tokoh yang tidak pernah terbayangkan bahwa ia akan menjadi pemelihara bangunan cagar budaya. Rumah yang saat ini juga berfungsi sebagai toko buku, Toko Buku Manggala Poncowinatan, telah berdiri sejak tahun 1907, jauh sebelum Indonesia merdeka. Bangunan ini dibangun oleh kakeknya, Tan Siem Kian, dan hingga saat ini tetap kokoh berdiri meskipun Jalan Poncowinatan masih sepi penghuni.
Jarot Santoso yang duduk di depan pintu rumahnya sering kali terlihat dalam lamunan, seolah-olah ia ingin kembali ke masa lampau. Rumah yang dulunya merupakan tempat tinggal keluarganya, kini telah berubah menjadi toko buku yang sangat terkenal dengan nama Manggala. Sejak tahun 1975, Jarot dan adik perempuannya telah mengembangkan usaha ini. Toko buku ini dulu sangat diminati oleh masyarakat, terutama buku-buku rohani dan buku pelajaran sekolah yang selalu tersedia lengkap. Bahkan mainan anak-anak juga bisa ditemukan di sini.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, usaha toko buku milik Jarot mulai meredup. Hal ini disebabkan oleh serbuan penerbit-penerbit besar yang mulai menjamah pasar buku sekolah. Meski menghadapi pendapatan yang minim, Jarot tetap semangat dalam memelihara rumah tuanya. Pada tahun 2010, rumah ini harus menghadapi gempa bumi yang mengguncang. Jarot harus merogoh koceknya sebanyak puluhan juta rupiah untuk memperbaiki rumah yang retak. Ia bahkan harus memperkuat rumah dengan besi beton agar tidak rubuh.
“Saya telah menghabiskan 20 juta untuk mempertahankan rumah ini. Dulu saya tidak pernah membayangkan bahwa mempertahankan rumah tua ini akan sebegitu mahalnya. Tapi, ini adalah rumah yang sangat berarti bagi saya,” jelas Jarot yang saat ini masih belum menikah.
Meskipun sudah berusia senja, Jarot masih memiliki kekhawatiran tentang masa depan rumah tua tersebut. Ia khawatir bahwa setelah ia tiada, tidak akan ada lagi yang mengurusi rumah berusia ratusan tahun ini. “Saya takut rumah ini akan dibongkar. Padahal, nilai historisnya sangat berarti bagi saya,” ujarnya dengan sedih.
Sebagai bangunan cagar budaya, Jarot berkomitmen untuk terus mempertahankan rumah tersebut sebagaimana adanya. Baginya, tidak ada uang yang bisa membeli rumah tersebut. Meskipun bisa mendapatkan sejumlah uang dengan menjual rumah tersebut, Jarot tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menjualnya.
Rumah tua ini bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi Jarot dan keluarganya. Bangunan ini juga menyimpan sejuta kenangan dan nilai historis yang sangat berharga. Melalui rumah ini, Jarot bisa merasakan bagaimana kehidupan pada masa lalu. Ia bisa membayangkan bagaimana rumah ini menjadi tempat berkumpulnya keluarga, menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup mereka.
Jarot sendiri adalah sosok yang sangat mencintai budaya dan sejarah. Ia selalu berusaha untuk mempelajari dan melestarikan budaya-budaya tradisional Indonesia. Melalui toko bukunya, ia selalu menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan budaya dan sejarah Indonesia. Ia ingin generasi muda terus belajar dan menghargai warisan budaya nenek moyang mereka.
Selain itu, Jarot juga sering mengadakan acara-acara kecil di toko bukunya. Ia mengundang para penulis buku dan budayawan untuk berbicara dan berbagi pengetahuan. Ia berharap dengan adanya acara-acara seperti ini, minat masyarakat terhadap budaya dan sejarah Indonesia dapat tumbuh kembali.
Toko Buku Manggala Poncowinatan bukan hanya sekadar tempat untuk membeli buku. Ia adalah rumah bagi banyak orang. Toko ini menjadi tempat berkumpulnya para pecinta buku dan budaya. Di sini, mereka bisa berdiskusi, bertukar pikiran, dan memperluas pengetahuan mereka. Jarot dengan senang hati melayani dan membantu para pelanggan yang datang.
Selain menjual buku, Jarot juga menjual berbagai produk khas dari daerah-daerah di Indonesia. Ia ingin memberikan kesempatan kepada para pelanggan untuk merasakan kekayaan budaya Indonesia. Dari makanan khas, kerajinan tangan, hingga pakaian tradisional, semuanya bisa ditemukan di toko buku ini. Jarot berharap melalui produk-produk tersebut, masyarakat dapat semakin mencintai dan menghargai kekayaan budaya Indonesia.
Meskipun toko bukunya mulai meredup, Jarot tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, toko buku ini bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga misi hidupnya. Ia ingin membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap buku dan budaya. Ia ingin generasi muda tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya membaca dan mempelajari sejarah.
Dalam perjalanan hidupnya, Jarot telah menghadapi banyak tantangan. Mulai dari persaingan dengan penerbit besar hingga gempa bumi yang mengancam rumah tua ini. Namun, ia selalu bangkit dan tetap berusaha. Baginya, tidak ada yang bisa mengalahkan semangat dan cinta terhadap budaya dan sejarah.
Dalam kesendiriannya, Jarot sering kali berpikir tentang masa depan rumah tuanya. Ia ingin memastikan bahwa rumah ini akan tetap ada dan terawat dengan baik. Ia berharap ada pihak yang dapat melanjutkan perjuangannya dalam mempertahankan rumah ini setelah ia tiada. Ia berharap rumah ini akan terus menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup manusia dan menjadi tempat yang menginspirasi bagi generasi mendatang.
Dalam perjalanan hidupnya, Jarot telah memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat. Ia tidak hanya menjual buku, tetapi juga menjaga warisan budaya Indonesia. Ia adalah sosok yang patut dihormati dan diapresiasi. Semoga semangat dan dedikasinya dapat menginspirasi banyak orang untuk mencintai dan melestarikan budaya Indonesia.