Heading 2: Pameran Seni “Homo, Jagad Owah Gingsir” oleh Kelompok Seni Daun Gatal
Heading 3: Latar Belakang Pameran
Pada tanggal 6 Juli 2022, Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) menjadi tuan rumah bagi pameran seni yang menarik yang diselenggarakan oleh tujuh seniman-perupa dari kelompok seni Daun Gatal. Pameran ini mengangkat tajuk “Homo, Jagad Owah Gingsir” dan bertujuan untuk mempresentasikan karya-karya seni yang menggambarkan perubahan yang terjadi di dunia saat ini. Dibuka oleh Mery, pemilik Galeri Pandega, pada malam itu, pameran ini menjadi ajang bagi para seniman untuk berbagi karya mereka dengan publik.
Heading 3: Para Seniman dan Karyanya
Kelompok seni Daun Gatal terdiri dari tujuh seniman-perupa yang memiliki gaya dan pendekatan seni yang berbeda-beda. Mereka adalah Andi Hansal, Muhammad Toyib, Chrisna Banyu, Ign. Dicky Takndare, M. Fadhlil Abdi, Phaksi Kharisma Dewa, dan Risao Pambudi. Setiap seniman memamerkan 2-3 karya yang menggambarkan pandangan mereka tentang perubahan yang terjadi di dunia saat ini.
Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah karya Muhammad Toyib yang berjudul “Paradoks”. Dalam karya ini, Toyib menggunakan dua figur anak kecil yang bertelanjang dada dan menutupi wajah mereka dengan kertas-plastik pembungkus makanan cepat saji yang bertuliskan “No. 1 Fried Chicken”. Karya ini mencerminkan perubahan pola makan masyarakat modern yang lebih memilih makanan cepat saji untuk efisiensi waktu, meskipun hal ini dapat berdampak pada kesehatan dan menyebabkan peningkatan jumlah penderita obesitas. Selain itu, pola makan ini juga dapat mendorong relasi antarmanusia yang lebih mekanis dan cepat.
Heading 3: Karya yang Menggambarkan Dampak Sampah Plastik
Selain itu, karya Phaksi Kharisma Dewa yang berjudul “Awas Galak” juga menarik perhatian pengunjung. Karya ini merupakan instalasi yang terbuat dari barang bekas sampah plastik yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Karya ini menyoroti penggunaan plastik sebagai pembungkus dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menyebabkan penumpukan sampah yang sulit terurai di alam. Dewa ingin menyadarkan masyarakat akan ancaman nyata yang dihadapi oleh sampah plastik dan pentingnya mengurangi penggunaannya.
Dalam beberapa waktu terakhir, kita sering mendengar berita tentang binatang laut yang mati karena menelan sampah plastik. Bahkan, beberapa binatang laut ditemukan mati karena menelan 80 bungkus plastik seberat 8 kilogram. Sampah plastik yang masuk ke dalam sistem pencernaan binatang laut tidak dapat terurai, dan hal ini juga berlaku jika manusia tanpa sengaja mengonsumsi plastik tersebut. Selain mengganggu sistem pencernaan, sampah plastik juga dapat mengganggu metabolisme tubuh manusia.
Heading 3: Perubahan sebagai Unsur Penting dalam Seni
Pameran “Homo, Jagad Owah Gingsir” ini menggambarkan pandangan para seniman tentang perubahan yang terjadi di dunia saat ini. Dalam tema ini, perubahan dianggap sebagai unsur yang mendasar bagi kelangsungan hidup berkesenian yang senantiasa dinamis. Ketujuh seniman mempresentasikan karya-karya mereka yang mencerminkan refleksi atas perubahan yang terjadi baik secara personal maupun impersonal.
Salah satu contoh karya yang menggambarkan pandangan ini adalah karya Andy Hansal yang berjudul “The Melody of Empathy”. Karya ini menggambarkan kepekaan dan empati terhadap perubahan yang terjadi di sekitar kita. Melalui lukisan ini, Hansal ingin mengajak penonton untuk lebih memahami perubahan dan memberikan perhatian yang lebih terhadap isu-isu sosial yang sedang terjadi.
Heading 3: Live Painting sebagai Wujud Semangat Berkesenian
Selain karya-karya utama yang dipamerkan, kelompok Daun Gatal juga memajang beberapa karya kecil yang hasil dari live painting yang mereka lakukan secara rutin setiap minggu. Live painting ini menjadi wujud semangat berkesenian mereka di tengah kesibukan masing-masing. Karya-karya kecil ini menunjukkan kekreatifan mereka dalam menciptakan karya seni dengan spontanitas dan kebebasan.
Pameran “Homo, Jagad Owah Gingsir” ini akan berlangsung dari tanggal 6 hingga 13 Juli 2022 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat dan mengapresiasi karya-karya seni yang unik dan bermakna dari tujuh seniman-perupa yang tergabung dalam kelompok Daun Gatal.