Pahit dan manis, dua hal yang saling bertolak belakang namun selalu hadir dalam kehidupan manusia. Seperti yang dikatakan oleh tiga seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Joko Triyoso, I Putu Risnayasa, dan Aji Tejo Wahyu, dalam 18 karya dua dimensi yang dipamerkan di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta pada bulan Mei 2010. Dalam pameran ini, ketiga seniman tersebut ingin memvisualisasikan dua rasa tersebut yang senantiasa menyertai perjalanan hidup setiap individu.
Pahit dan manis adalah dua sifat yang melekat dalam kehidupan manusia. Seperti siang dan malam, hitam dan putih, susah dan senang, keduanya tak dapat dipisahkan. Setiap orang pasti mengalami dua rasa tersebut dalam hidupnya. Baik itu dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun politik.
Menurut Joko, salah satu perupa dalam pameran tersebut, dia dan kedua rekannya telah merasakan pahit dan manis dalam hidup mereka. Banyak impian yang tak dapat direalisasikan, namun mereka mencoba untuk mengolah kembali kehidupan tersebut melalui seni. Dalam kehidupan mereka sebagai perupa, pahit dan manis senantiasa menyertai mereka. Keduanya saling bergantung dan saling menginspirasi untuk menciptakan karya seni yang menggambarkan kehidupan mereka.
Salah satu seniman, I Putu Risnayasa, lebih memilih menggambar maestro-maestro seniman dunia dalam karyanya. Dia menggambarkan wajah Affandi, Van Gogh, dan Leonardo Da Vinci dengan gaya yang mirip dengan gaya melukis ketiga seniman tersebut. Apem, sapaan akrab I Putu Risnayasa, mengaku bahwa dia masih dalam tahap mengenal maestro-maestro tersebut. Dia belajar tentang kehidupan dan gaya melukis mereka melalui wajah mereka. Lukisannya tentang Affandi dengan judul “Mata dan Rasa” menggambarkan bahwa Affandi tidak hanya melihat dengan mata, tetapi juga menggunakan perasaannya dalam melukis.
Sementara itu, Aji Tejo Wahyu lebih mengungkapkan rasa pahit dan manis secara lebih personal dalam karyanya. Dia menggambarkan pengalaman hidupnya dalam pertemanan, orang yang ia benci atau sukai, dan hal-hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Melalui lukisannya yang berjudul “Other Side of Friend”, Aji menceritakan tentang teman yang baik di depan mata namun mengkhianati di belakang. Hal ini adalah salah satu contoh dari pahit dan manis dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya dalam seni, ketiga seniman ini juga mengalami pahit dan manis dalam kehidupan kampus. Joko pernah menamatkan kuliahnya di jurusan Geografi UGM, namun keinginan untuk menimba ilmu di ISI Jogja membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sana. Begitu juga dengan Aji, yang mengalami kegagalan di dua pendidikan sebelum akhirnya masuk ISI Jogja. Meski Apem lebih nyaman menjalani sekolahnya, namun tetap ada rasa pahit dan manis yang mengiringi kehidupannya.
Pameran ini merupakan upaya dari ketiga seniman untuk mengungkapkan pengalaman hidup mereka yang penuh dengan pahit dan manis. Melalui karya-karya mereka, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa dalam hidup ini, kita tidak dapat menghindari pahit dan manis. Keduanya saling melengkapi dan menginspirasi kita untuk menciptakan karya yang indah dan bermakna.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada situasi pahit dan manis. Ketika kita mengalami kegagalan, itu adalah momen pahit yang menyakitkan. Namun, dari kegagalan tersebut kita bisa belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Ketika kita meraih kesuksesan, itu adalah momen manis yang membanggakan. Namun, kita tidak boleh terlalu terbuai oleh kesuksesan tersebut dan tetap rendah hati.
Pahit dan manis juga dapat ditemukan dalam hubungan antarmanusia. Kadang-kadang, kita dihadapkan pada pertemanan yang pahit. Teman yang kita kira baik ternyata mengkhianati kita di belakang. Namun, dari pengalaman tersebut kita bisa belajar untuk lebih selektif dalam memilih teman. Di sisi lain, kita juga bisa merasakan manisnya persahabatan ketika kita memiliki teman yang setia dan selalu mendukung kita di setiap langkah.
Dalam kehidupan politik dan sosial, pahit dan manis juga hadir. Kadang-kadang, kita harus menghadapi kebijakan pemerintah yang pahit dan tidak menyenangkan. Namun, kita juga bisa merasakan manisnya ketika ada kebijakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pahit dan manis dalam konteks politik dan sosial mengajarkan kita untuk menjadi lebih kritis dan berpartisipasi dalam pembangunan negara.
Dalam kesimpulannya, pahit dan manis adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Keduanya saling melengkapi dan memberikan warna pada kehidupan kita. Tanpa pahit, kita tidak akan menghargai manis. Tanpa manis, kita tidak akan mampu bertahan dalam menghadapi pahit. Oleh karena itu, kita harus menerima dan menghargai keduanya. Sebab, hanya dengan menghadapi dan merasakan pahit dan manis, kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.