Gunungan adalah salah satu wujud sesajian selamatan yang khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara setiap garebeg dan maleman. Sesajian gunungan merupakan sesajian sakral yang sudah disucikan dengan doa mantra, sehingga memiliki kekuatan magis yang dapat menolak bala. Anggapan ini diperkuat oleh penggunaan kain banguntulak dalam pembuatan gunungan.
Gunungan memiliki bentuk seperti rumah dan dinamakan omah. Ada enam jenis gunungan yang berbeda, yaitu gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan, Dharat, dan Kutug/Bromo. Setiap jenis gunungan memiliki makna dan filosofi yang berbeda.
Gunungan Lanang merupakan simbol dari keberanian dan kekuatan lelaki. Gunungan ini biasanya berbentuk pria yang sedang menunggangi kuda atau sedang memegang tombak. Dalam selamatan negara, gunungan Lanang melambangkan kekuatan dan ketegasan pemerintahan.
Sementara itu, Gunungan Wadon melambangkan kelembutan dan kecantikan perempuan. Biasanya, gunungan ini berbentuk perempuan yang sedang memegang bunga atau keranjang penuh dengan bunga. Gunungan Wadon menggambarkan peran perempuan dalam menjaga keharmonisan dan keindahan dalam kehidupan.
Gunungan Gepak memiliki bentuk yang lebih kompleks dan beragam. Gepak berasal dari bahasa Jawa yang berarti “berkembang”. Gunungan ini melambangkan keberagaman alam semesta dan kehidupan manusia. Gepak sering kali dihiasi dengan berbagai macam bunga, daun, dan hewan-hewan kecil seperti burung dan kupu-kupu.
Gunungan Pawuhan memiliki makna spiritual dan filosofis yang dalam. Pawuhan berasal dari kata “pawu” yang berarti “ilmu”. Gunungan ini melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pawuhan biasanya dihiasi dengan berbagai simbol dan aksara Jawa yang memiliki makna tersendiri.
Selanjutnya, Gunungan Dharat melambangkan kesuburan dan kelimpahan. Dharat berasal dari bahasa Jawa yang berarti “bumi”. Gunungan ini sering kali dihiasi dengan berbagai macam hasil pertanian seperti padi, jagung, dan sayuran. Dharat melambangkan harapan akan kelimpahan dan keberhasilan dalam kehidupan.
Yang terakhir, Gunungan Kutug/Bromo hanya dibuat setiap delapan tahun sekali, tepatnya pada tahun Dal, untuk disajikan dalam selamatan negara Garebeg Maulud Dal. Gunungan ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Kutug melambangkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, sedangkan Bromo melambangkan kesucian dan keberanian. Gunungan ini melambangkan permohonan akan perlindungan dan keberkahan dari Tuhan.
Dalam setiap penyajian gunungan, terdapat prosesi dan doa-doa yang khusus. Gunungan disajikan di atas meja yang telah dirapikan dengan kain sarung atau kain batik. Sesajian gunungan juga dilengkapi dengan berbagai macam makanan dan minuman yang merupakan simbol dari kesuburan dan kelimpahan.
Selain digunakan dalam selamatan negara, gunungan juga sering digunakan dalam berbagai upacara adat atau keagamaan di Jawa. Gunungan menjadi simbol dari kesakralan dan keterhubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Melalui gunungan, manusia berharap mendapatkan berkah dan perlindungan dalam hidupnya.
Dalam keseharian, gunungan juga sering digunakan sebagai hiasan atau pajangan di rumah-rumah. Gunungan dijadikan sebagai simbol dari keharmonisan dan keberkahan dalam keluarga. Gunungan juga menjadi pengingat akan nilai-nilai kultural dan spiritual yang harus dijaga dan dilestarikan.
Dalam pembuatan gunungan, diperlukan keahlian khusus dan pengetahuan akan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Para pembuat gunungan biasanya merupakan orang-orang yang ahli dalam seni ukir dan seni dekorasi. Mereka menghasilkan gunungan yang indah dan bernilai seni tinggi.
Secara keseluruhan, gunungan merupakan wujud sesajian selamatan yang memiliki makna dan filosofi yang dalam. Gunungan melambangkan kekuatan, keindahan, pengetahuan, kelimpahan, dan kesucian. Melalui gunungan, manusia berharap mendapatkan berkah dan perlindungan dalam hidupnya. Gunungan juga menjadi simbol dari keharmonisan dan keberkahan dalam keluarga. Oleh karena itu, gunungan harus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang berharga.